Sukses

Sepenuh Napas, Media Edukasi Kesehatan Pernapasan di Tengah Pandemi COVID-19

Liputan6.com, Jakarta Masalah pernapasan dan masalah paru akhir-akhir ini selalu dikaitkan dengan COVID-19. Padahal, bukan berarti semua masalah pernapasan itu disebabkan oleh virus penyebab COVID-19.

Masalah pernapasan yang mungkin terjadi dan berakibat pada penurunan fungsi paru tiga di antaranya adalah Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK), Tuberkulosis (TBC), dan Asma.

Guna mengedukasi masyarakat tentang masalah pernapasan, PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) bekerja sama dengan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Klikdokter meluncurkan @sepenuhnapas yang merupakan media edukasi online berbasis Whatsapp dan Instagram.

Ini merupakan media edukasi kesehatan pertama di Indonesia yang berfokus memberikan edukasi dan informasi seputar kesehatan pernapasan termasuk COVID-19.

Head of External Communication & Stakeholder Relation PT Kalbe Farma Tbk, Hari Nugroho, menyampaikan peluncuran @sepenuhnapas ini berkaitan dengan peringatan Hari Penyakit Paru Obstruksi Kronis Sedunia atau World Chronic Obstructive Pulmonary Disease Day (World CPOD Day) yang diperingati setiap hari Rabu minggu ketiga bulan November.

@sepunuhnapas merupakan komunitas edukasi awam yang bertujuan menyampaikan informasi mengenai penyakit pernapasan mulai dari informasi gejala, alur diagnosis, hingga terapi dan gaya hidup yang harus dijalani oleh seseorang ketika dinyatakan memiliki penyakit pernapasan.

“Memanfaatkan platform instagram, kami berharap Sepenuh Napas dapat menjadi wadah edukasi bagi masyarakat dalam mengantisipasi penyakit pernapasan lebih dini,” mengutip keterangan pers, Kamis (19/11/2020).

2 dari 4 halaman

Mengenal PPOK

Menurut Dokter Spesialis Paru RSUP Persahabatan, Budhi Antariksa, edukasi terkait masalah pernapasan termasuk PPOK ini sangat penting terutama di tengah pandemi COVID-19.

“Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK) adalah penyakit kronis saluran napas yang ditandai dengan hambatan aliran udara khususnya udara ekspirasi dan bersifat progresif lambat di mana semakin lama akan semakin memburuk,” ujar Budhi mengutip keterangan pers, Kamis (19/11/2020).

Ia menambahkan, PPOK disebabkan oleh merokok dan polusi udara di dalam maupun di luar ruangan. Awal terjadinya penyakit ini biasanya pada usia pertengahan dan tidak hilang dengan pengobatan.

Gejala-gejala PPOK yaitu mengalami sesak napas yang bertambah ketika beraktivitas dan/atau bertambah dengan meningkatnya usia disertai batuk berdahak.

Menurut data prevalensi Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, diperkirakan ada lebih dari 10 juta orang yang hidup dengan PPOK di Indonesia di mana mayoritasnya dengan riwayat merokok atau hidup di area dengan polusi udara. Penderita PPOK lebih banyak pria ketimbang wanita. 

3 dari 4 halaman

Infografis Menanti Hasil Uji Klinis Calon Vaksin COVID-19

4 dari 4 halaman

Simak Video Berikut Ini: