Sukses

Benarkah Gangguan Pendengaran Mendadak Terkait COVID-19?

Liputan6.com, Jakarta Sebuah laporan terbaru mendesak para tenaga medis untuk menyaring pasien COVID-19 terkait gangguan pendengaran mendadak setelah kasus seorang pria di Inggris. Pria itu kehilangan pendengaran di salah satu telinga segera setelah pulih dari virus.

Kisah pria itu dimuat dalam Laporan Kasus BMJ. Menurut laporan itu, pria berusia 45 tahun yang tidak dikenal itu menderita asma dan dirawat di rumah sakit 10 hari setelah ia mulai menunjukkan gejala COVID-19. Dia akhirnya perlu diintubasi dan dipindahkan ke unit perawatan intensif karena kesulitan bernapas.

Intubasi pria tersebut berlangsung selama 30 hari, dan dia mengalami serangkaian komplikasi, termasuk emboli paru di kedua paru-paru (kondisi serius dan berpotensi mengancam nyawa), pneumonia, tekanan darah tinggi, dan anemia. Dia diobati dengan obat anti virus remdesivir, steroid IV, dan pertukaran plasma, dan akhirnya sembuh. Seminggu setelah selang pernapasannya dilepa sdan dia dipindahkan keluar dari ICU, dia merasa telinga kirinya berdenging, diikuti oleh gangguan pendengaran sensorineural yang tiba tiba atau sudden onset sensorineural hearing loss (SSNHL), atau kita lebih mengenalnya dengan istilah tuli mendadak.

Selain asma, pria itu "dinyatakan bugar dan sehat" sebelum tertular COVID-19, tulis para peneliti, seperti dilansir Health.

Pria itu diberi steroid oral selama tujuh hari dan menjalani perbaikan subjektif parsial pada gangguan pendengarannya. Penulis penelitian mengungkapkan bahwa secara keseluruhan, sayangnya dia tidak mengalami peningkatan lebih lanjut dalam pendengarannya, berdasarkan pengujian diagnostik.

Sementara itu, peneliti masih belum yakin bahwa COVID-19 yang menyebabkan gangguan pendengaran pada pria tersebut. Meskipun demikian, mereka menuliskan itu secara postulat bisa dikatakan bahwa virus COVID-19 ada hubungannya dengan gangguan pendengaran meskipun belum ada bukti yang kuat.

 

2 dari 4 halaman

Apa itu SSNHL?

National Institute on Deafness and Other Communication Disorders (NIDCD) mendefinisikan gangguan pendengaran sensorineural yang tiba-tiba sebagai gangguan pendengaran cepat yang tidak dapat dijelaskan yang dapat terjadi sekaligus, atau selama beberapa hari. Kehilangan pendengaran terjadi ketika ada yang salah dengan organ sensorik telinga bagian dalam, dan biasanya hanya mengenai satu telinga.

NIDCD mencatat bahwa berbagai penyakit dan gangguan dapat menyebabkan gangguan pendengaran mendadak, tetapi hanya sekitar 10 persen dari semua yang didiagnosis dengan gangguan pendengaran mendadak memiliki penyebab yang dapat diidentifikasi. Kondisi yang menurut NIDCD dapat menyebabkan gangguan pendengaran meliputi:

- Infeksi

- Trauma kepala

- Penyakit autoimun

- Paparan obat tertentu yang mengobati kanker atau infeksi parah

- Masalah sirkulasi darah

- Kelainan saraf

- Gangguan pada telinga bagian dalam

NIDCD mengatakan pengobatan yang paling umum untuk SSNHL, terutama bila penyebabnya yang tidak diketahui, yaitu kortikosteroid, yang bekerja dengan mengurangi peradangan, mengurangi pembengkakan, dan secara umum membantu tubuh melawan penyakit. Dokter juga dapat menyuntikkan steroid langsung ke telinga, bagi pasien yang ingin menghindari pengobatan sistemik.

Semakin cepat pasien tertangani, semakin baik hasilnya. NIDCD mengatakan pengobatan yang ditunda selama lebih dari dua hingga empat minggu akan berdampak lebih kecil dalam membalikkan atau mengurangi gangguan pendengaran permanen. Jika pasien tidak merespons pengobatan, atau gangguan pendengarannya parah, dokter mungkin merekomendasikan alat bantu dengar atau implan koklea.

Apa hubungan antara gangguan pendengaran mendadak dengan COVID-19?

Gangguan pendengaran tidak termasuk dalam daftar gejala COVID-19 menurut CDC maupun WHO, kejadian kasus seperti ini bukanlah yang pertama kalinya. Beberapa telah terdata dalam laporan kasus BMJ, satu laporan dari American Journal of Otolaryngology, dua laporan (salah satunya dipublikasikan) di Mayo Clinic Proceedings, sedangkan yang lain di laporan Kasus Otolaringologi.

Yang pertama, menceritakan kisah seorang pria berusia 60 tahun yang menderita kasus virus yang parah dan mengalami tuli di telinga kanan dan gangguan pendengaran di telinga kirinya setelah dia berada di ICU. Yang lainnya tentang seorang pria tanpa gejala yang mencari perawatan untuk gangguan pendengaran mendadak dan ternyata positif COVID-19.

Namun, penting untuk dicatat bahwa laporan ini tidak secara spesifik mengatakan bahwa COVID-19 menyebabkan gangguan pendengaran mendadak, namun berkaitan. Namun bagi para dokter yang mendiagnosis suatu penyakit berdasarkan bukti, tidak bisa menyebutkan bahwa ada hubungan ilmiah antara COVID-10 dengan gangguan pendengaran.

"Saya kira laporan kasus ini tidak memberikan bukti apa pun bahwa ada hubungan," kata Steven D. Rauch, MD, direktur Visi Vestibular di Mass Eye and Ear, kepada Health.

Beberapa ahli, seperti Oliver Adunka, MD, profesor otolaringologi di The Ohio State University Wexner Medical Center, bahkan terkejut sama sekali laporan kasus tersebut dipublikasikan. "Baik COVID dan gangguan pendengaran yang tiba-tiba cukup umum terjadi sehingga ini bisa jadi hanya kebetulan," katanya kepada Health.

Sedangkan bagi peneliti, mereka tidak bisa mengesampingkan potensi hubungan antara COVID-19 dan gangguan pendengaran sepenuhnya. Terlebih di awal laporan gangguan pendengaran mendadak terjadi pada 160 dari 100.000 orang per tahun, dengan catatan gangguan pendengaran mendadak bisa disebabkan oleh virus, termasuk herpes dan cytomegalovirus. Meskipun penyebab pastinya masih belum diketahui.

"Pengalaman kami sebelumnya adalah bahwa gangguan pendengaran mendadak dapat terjadi selama atau setelah penyakit fisik yang menyebabkan stres pada tubuh," kata rekan penulis studi Foteini Stefania Koumpa dari University College London.

"Baik peradangan dan peningkatan stres sel mungkin berperan di sini. Ini menunjukkan bahwa sistem kekebalan mungkin terlibat dalam beberapa cara, itulah mengapa pengobatan steroid dini adalah pengobatan terbaik yang tersedia saat ini, baik diberikan melalui tablet, suntikan melalui gendang telinga, atau keduanya."

Menurut Dr. Rausch, jika ada kaitannya, seharusnya akan ada peningkatan laporan kasus gangguan pendengaran mendadakselama pandemi. Namun tak satupun kabar yang menyatakan adanya kenaikan jumlah kasus gangguan pendengaran mendadak selama 6 bulan terakhir. Sehingga kaitannya masih belum bisa dibuktikan.

Amesh A. Adalja, MD, pakar senior di Johns Hopkins Center for Health Security, juga mencatat bahwa hanya beberapa studi kasus di antara jutaan kasus COVID-19 yang merupakan sedikit bukti adanya hubungan tersebut. "Ini adalah laporan kasus tunggal dan Anda tidak dapat mengira-ngira hanya darinya," katanya.

Dr. Rausch mendesak siapapun yang mengalami gangguan pendengaran mendadak, mereka harus segera mendapatkan bantuan, karena berlomba dengan waktu saat steroid masih dapat membantu mengatasinya.

Terlebih saat kondisi pandemi kini, "meskipun gangguan pendengaran sering diabaikan banyak orang, namun kini harus diperlakukan sebagai keadaan darurat. Pengenalan dini, diagnosis, dan pengobatan gangguan pendengaran sensorineural, memberikan kesempatan terbaik untuk pemulihan," kata Dr. Koumpa.

3 dari 4 halaman

Infografis Jangan Remehkan Cara Pakai Masker

4 dari 4 halaman

Simak Video Berikut Ini: