Sukses

Mengenal Eustress, Distress, dan Neustress yang Mungkin Terjadi pada Setiap Orang

Liputan6.com, Jakarta Pada masa pandemi COVID-19 anak maupun orangtua rentan terserang stres. Namun, sebagian besar masyarakat tidak mengetahui tiga jenis stres yang mungkin dialami oleh semua orang.

Menurut psikolog anak, remaja dan keluarga Jovita Maria Ferliana ada tiga jenis stres yang dapat terjadi. Ketiga stres tersebut antara lain euStress, distress, dan neustress.

Ketika mengalami eustress, seseorang akan lebih produktif dan banyak melakukan hal positif.

“Eustress kita kenal dengan stres positif. Jadi eustress ini tekanan yang datang tiba-tiba dalam kehidupan kita namun kita merasa bahwa kita masih bisa menyelesaikannya dan justru itu memotivasi kita untuk meningkatkan kinerja kita,” ujar Jovita dalam webminar Smartfren, Selasa (18/8/2020).

Sedang, distress adalah stres yang bersifat negatif, seseorang merasa kesulitan dalam melakukan suatu hal yang akhirnya berdampak pada kesehatan mentalnya.

“Ini memang suatu tekanan yang dialami siapapun, bisa orang dewasa, remaja, maupun anak-anak di mana sifatnya melebihi kapasitas kita atau persepsi bagaimana kita menerima hal tersebut karena kadang ada tekanan yang sebetulnya kita mampu tapi karena pikiran kita merasa tidak mampu untuk melakukan kemudian akhirnya menjadi distress.”

Simak Video Berikut Ini:

2 dari 3 halaman

Distress Akut dan Kronis

Jovita menambahkan, distress terbagi menjadi dua yaitu distress akut dan distress kronis. Distress akut dapat muncul dan hilang dalam waktu singkat dan sering kali muncul tapi kemudian dalam waktu singkat selesai.

“Stres kronis adalah stres yang membutuhkan waktu lama untuk disembuhkan yang dapat berujung pada gangguan kesehatan mental. Contohnya karena depresi dan sebagainya.”

3 dari 3 halaman

Neustress

Jenis stres ketiga adalah neustres. Menurut Jovita, jenis stres ini sebetulnya netral.

“Artinya, kondisi tekanan yang tidak langsung berdampak pada kita tapi kita mendengar hal tersebut.”

Ia mencontohkan, ketika seseorang mendengar tetangganya mendapatkan musibah seperti kehilangan pekerjaan akibat COVID-19. Sebetulnya, musibah itu tidak menimpa langsung pada orang tersebut namun efeknya, orang tersebut akan merasa kasihan dan perasaan lainnya.