Sukses

Pola Asuh Organik, Seperti Apa Itu?

Liputan6.com, Jakarta - Psikiater Prof DR dr Tjhin Wiguna SpKJ (K) tidak memungkiri bahwa kehadiran ponsel memudahkan para orangtua yang bekerja untuk memonitor apa pun yang sedang anak lakukan. Namun, Tjhin mengingatkan kehadiran gawai juga bisa menjadi pisau bermata dua bagi orangtua dan anak, yang berdampak pada pola asuh.

"Jangan sampai anak nonton televisi, ibu nonton drama Korea di handphone. Sama-sama nonton memang tapi tidak begitu juga," Tjhin mencontohkan.

Dia mengimbau orangtua zaman sekarang memilih pola asuh yang dirasa tepat dengan keluarga. Pola asuh organik, misalnya.

Menurutnya pola asuh organik bisa menjadi pilihan cara mendidik anak, agar si Kecil punya fondasi yang kuat di masa-masa pertumbuhan dan perkembangannya, Sehingga ada relasi atau kedekatan, baik fisik maupun emosi, antara dia dan orangtua.

"Kedekatan dengan anak merupakan cara ideal untuk meningkatkan rasa aman, mandiri, dan rasa empati anak," kata Tjhin.

Dengan kata lain, pola asuh organik atau organic parenting menurut Tjhin adalah gaya pengasuhan yang bersifat alami atau kembali ke kodrat.

"Kodrat kita manusia kan? Kita harus ada hubungan keterdekatan emosi. Kalau tidak ada itu, mana bisa," katanya dalam diskusi 'Healthy and Organic Parenting Bersama Arla Foods: Menginspirasi Ibu Muda Indonesia Memulai Gaya Hidup Organik' pada Senin, 2 Desember 2019.

"Apakah konektivitas di dunia maya lalu semuanya terselesaikan? Tidak. Paling penting kedekatan emosi antara ibu dan anak."

 

2 dari 2 halaman

Otak Anak Berkembang

Seorang anak mulai berkembang saat dia masih berada di kandungan ibunya. Tak hanya fisik, otaknya pun sudah terbentuk.

Tjhin, mengatakan, otak anak bisa terbentuk sempurna jika ibu memiliki kedekatan dengan calon anaknya tersebut. "Kalau dari awal kehamilan ibunya tidak ada emotional connectivitas dengan si bayi, perkembangan otak si bayi akan susah," ujarnya.

Tjhin mengingatkan bahwa anak akan tumbuh baik, merasa bahagia, dan memiliki respek jika otaknya berkembang baik.

"Jadi, balik lagi bahwa semuanya kembali ke otak. Bagaimana anak bisa happy kalau otaknya tidak berkembang dengan baik," katanya.

Kalau orangtua mampu merangsang perkembangan otak anak di usia-usia terbaik dengan optimal maka anak bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.

"Kalau tidak, sayang sekali ya. Mana bisa mereka jadi sehat, bahagia, rispek, punya moral yang baik kalau kemampuan kognitifnya tidak berkembang dengan pesat," ujarnya.

 

Lima tahun pertama disebut Tjhin sebagai tahun terbaik seorang anak. Sebab, fungsi kognitif yang berkaitan sama kecerdasan dan fungsi-fungsi lain yang berkaitan dengan emosi, akan berkembang mencapai puncaknya di satu tahun pertama kehidupannya.

"Selanjutnya stimulasi anak. Ajak dia melakukan kegiatan-kegiatan di luar ruangan yang bermanfaat merangsang dan mengembangkan sistem sensori anak secara matang," katanya.

"Kematangan sensori anak merupakan hal yang fundamental bagi perkembangan otak, baik secara fisik, motorik, kecerdasan berpikir, juga sosial-emosional anak," Tjhin menekankan.

Loading
Artikel Selanjutnya
Studi: Saat Bermain, Bayi "Satu Bahasa" dengan Orang Dewasa
Artikel Selanjutnya
Ini Tips Mudah Mengajari Anak Bahasa Asing