Sukses

Peringatan Konten!!

Artikel ini tidak disarankan untuk Anda yang masih berusia di bawah

21 Tahun

Verifikasi UmurStop Disini

Yoni de-armouring, Pijatan untuk Sembuhkan Trauma Miss V

Liputan6.com, Jakarta Kondisi pria yang mengalami gejala penis 'tak bahagia' sudah jelas, seperti disfungsi ereksi atau ejakulasi dini. Tapi dengan alat kelamin wanita, bagaimana bisa tahu kalau vagina sudah mendapatkan perawatan yang dibutuhkan?

Menurut survei Lovehoney, wanita masih sama tidak puas secara seksual seperti sebelumnya. Saat ini, hanya tujuh dari 10 wanita yang orgasme saat berhubungan seks, ketimbang sembilan dari 10 pria.

Selain itu, wanita hampir tidak mendapatkan apa yang diinginkan ketika berhubungan seks. Dalam penelitian yang diterbitkan Journal Of Sexual Research, pria dan wanita menginginkan setidaknya 20 menit foreplay, namun pada kenyataannya wanita hanya mendapatkan setengahnya.

Untuk mengatasinya, wanita bisa melakukan Yoni de-armouring yang merupakan teknik pijat kuno yang baru-baru ini muncul kembali berkat kebangkitan para yogi modern dan lingkaran perempuan yang mencari kepuasan seksual yang lebih baik, dan ingin merebut kembali kekuatan suci yoni.

 

 

2 dari 2 halaman

Apa itu Yoni de-armouring?

Leela Kalyani dari Padmini Yoni, seorang penyembuh yoni de-armouring yang berbasis di Byron Bay, menjelaskan yoni dari bahasa Sansekerta yang diterjemahkan menjadi 'kuil suci' dan mengacu pada organ seksual wanita.

"Dalam Tantra dikatakan ruang ini adalah bagian yang paling reseptif dari tubuh wanita dan kita menyimpan banyak energi di sana, termasuk pengalaman yang membuat stres atau trauma," kata Kaylani.

Kaylani mengatakan pijatan yoni ini bisa menyembuhkan seksualitas, membersihkan pengalaman masa lalu, melepaskan ketegangan panggul dan pada akhirnya memungkinkan wanita memanfaatkan kekuatan dan potensi kenikmatan mereka.

"Di situlah bagian 'de-armouring' masuk. Pelindung tubuh yang pada dasarnya adalah tempat tubuh berkontraksi sebagai akibat dari stres, trauma, atau rasa sakit pada tingkat emosional, energik, atau energetik," kata Kalyani seperti dikutip Body And Soul.

Menurutnya, pelindung tubuh itu bisa muncul di mana saja, namun ia fokus pada de-armouring jantung, rahim. "Dan yoni yang sering terlihat seperti rilis titik pemicu internal / vagina, melunakkan ketegangan dan melepaskan stres melalui sentuhan dan kerja energi."

Bagaimana wanita bisa tahu yoninya sedang trauma atau tegang? Menurut Kalyani gejalanya sangat beragam, tetapi yang paling jelas adalah mati rasa di sekitar vulva dan di vagina, rasa sakit selama hubungan intim, terhambat secara energi di wilayah itu, gejala PMS, kurangnya libido, masalah kesuburan, trauma akibat dari serangan seksual atau ketidakmampuan untuk berekspresi dan jujur dalam berkomunikasi.

"Saya yakin sebagian besar wanita mencegah mereka dari mengalami potensi orgasme mereka karena kita masih membawa jejak rasa bersalah, malu dan takut yang begitu melekat dalam budaya kita tentang seksualitas," kata Kalyani.

Sementara pakar seks Australia Juliet Allen mengatakan yoni de-armouring menjadi jauh lebih dikenal di dunia Barat. Hebatnya orang-orang jadi memahami bahwa kesehatan seksual sama pentingnya dengan bidang kesehatan lainnya, dan penyembuhan seksual itu suatu keharusan jika ingin menjadi manusia yang utuh dan sehat.

Itulah sebabnya, Kalyani percaya semua wanita bisa mendapat manfaat dari memiliki hubungan yang lebih dalam dengan yonis mereka, melalui pijat yoni.

Kalau Anda tak suka pijatan di bagian bawah tubuh Anda dengan dipandu praktisi, Anda bisa memperoleh menyentuh diri sendiri melalui latihan mandiri. Anda bisa menggunakan minyak kelapa dan menjelajahi vagina.

"Saya sarankan menggunakan minyak kelapa organik dan hanya melakukan yoni ketika Anda merasa terbuka dan siap," kata Allen.

"Karena yoni dan rahim menyimpan banyak emosi dan trauma (dan sangat peka), maka penting Anda melakukannya dengan lembut seperti yang Anda harapkan pasangan melakukannya dengan lembut dan penuh cinta dengan Anda," kata Allen.

Loading
Artikel Selanjutnya
4 Cara Mengatasi Trauma Pasca-Kecelakaan