Sukses

Pesan Sutopo Purwo Nugroho untuk Mahasiswa Tingkat Akhir : Bayangkan Orangtua Hadir di Tengah Wisuda Pasti Semangat

Liputan6.com, Jakarta Sutopo Purwo Nugroho, 49 tahun, yang dikenal publik sebagai pejuang penangkal berita hoaks di media sosial ternyata pernah patah semangat menyelesaikan skripsi.

Siapa sangka, Sutopo pernah melewati masa-masa pahit sebelum akhirnya sampai pada jabatan yang berhasil dia peroleh sebagai Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Kisah ini dia bagikan melalui unggahan sebuah foto di akun Instagram pribadinya, @sutopopurwo, yang memperlihatkan sebuah catatan dengan goresan tinta berwarna biru di buku catatannya.

Catatan Sutopo kepada ibu dan bapaknya berisi permintaan maaf perihal kebohongan yang pernah dia perbuat, serta kelalaiannya yang tidak menomorsatukan belajar. Sutopo di semasa muda lebih terlena dengan keindahan sesaat.

Lewat keterangan foto pada unggahan tersebut terungkap, patah semangat Sutopo dalam menghadapi skripsi itu lantaran data sulit diperoleh, ditambah pula permintaan dosen pembimbing yang dianggapnya aneh.

"Menyalahkan tapi tidak memberikan solusi," tulisnya.

Karena hal itulah yang membuat Sutopo meninggalkan skripsinya. Berbulan-bulan dia hidup tanpa kepastiaan perihal skripsi yang sedang dia kerjakan.

 

2 dari 3 halaman

Alasan patah semangat

Lewat keterangan foto pada unggahan tersebut terungkap, patah semangat Sutopo dalam menghadapi skripsi itu lantaran data sulit diperoleh, ditambah pula permintaan dosen pembimbing yang dianggapnya aneh.

"Menyalahkan tapi tidak memberikan solusi," tulisnya.

Karena hal itulah yang membuat Sutopo meninggalkan skripsinya. Berbulan-bulan dia hidup tanpa kepastiaan perihal skripsi yang sedang dia kerjakan. 

 

 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram

Pernahkah kalian mengalami patah semangat menyelesaikan skripsi? Lalu mengabaikan skripsi, dan akhirnya insaf untuk menyelesaikan. . Saya pernah mengalami itu. Gara-gara data sulit diperoleh, gagal statistik multivariat, dan permintaan dosen pembimbing juga aneh. Menyalahkan tapi tidak memberi solusi. . Akhirnya skripsi saya tinggalkan dengan penuh kebingungan. Mau ganti tema juga nanggung. Berbulan-bulan penuh ketikpastian dan tak ada kemajuan. . Saat ditanya orangtua, "Kamu kapan wisuda? Jangan lama-lama kuliahnya karena biayanya mahal. Adikmu juga bayar SPPnya mahal. Apalagi adikmu kuliah di swasta lebih mahal." . Selalu mengingat orangtua, selalu membangkitkan semangat belajar. Membayangkan betapa bahagianya orangtua hadir di tengah wisudaku. . Semua itu tertuang dalam catatan di blocknote Mei 1993. 26 tahun yang lalu. Blocknote pemberian temen dari UI. . Jadi jangan patah semangat. Saat ada hambatan menyelesaikan skripsi. Ingst selalu orangtua. Bayangkan mereka hadir di tengah wisuda. Pasti bahagia.

Sebuah kiriman dibagikan oleh Sutopo Purwo Nugroho (@sutopopurwo) pada

Semangat untuk menyelesaikan skripsi muncul kembali setelah dia coba mengingat kedua orangtuanya yang selalu membangkitkan semangat belajarnya.

Kemudian, Sutopo pun membayangkan betapa bahagianya ibu dan bapaknya bila bisa hadir di tengah wisudanya.

"Semua itu tertuang dalam catatan di blocknote Mei 1993, 26 tahun yang lalu. Blocknote pemberian teman dari UI," tulisnya lagi.

Sutopo menggunggah foto tersebut pada 31 Mai 2019. Beberapa hari sebelum berangkat ke Guangzho, China, untuk berobat kanker paru-paru yang dia idap sejak 2017.

3 dari 3 halaman

Meninggal di Guangzhou

Sutopo Purwo Nugroho kini telah pergi. Sutopo meninggal dunia pada Minggu, 7 Juli 2019, pukul 02.00 dini hari waktu Guangzho.

Sebuah kalimat yang Sutopo tulis di akhir unggahan foto tersebut mungkin bisa jadi penyemangat untuk para mahasiswa yang saat ini berada di posisi yang sama seperti dia dulu dalam menyelesaikan skripsi.

"Jadi jangan patah semangat. Saat ada hambatan menyelesaikan skripsi, ingat selalu orangtua. Bayangkan mereka hadir di tengah wisuda, pasti bahagia."