Sukses

Cerita Raffi Tinggal di Rumah Keluarga yang Beda Agama

Liputan6.com, Jakarta Tinggal dengan keluarga yang beda agama, baru pertama kali aku rasakan. Awal-awal tinggal. satu sampai dua hari masih diam dan kaku. Namun, keluarga yang beda agama itu ngajak Raffi main dan pergi keluar. Lama-lama jadi tidak kaku lagi (bisa ngobrol dan berkomunikasi).

Pengalaman berharga itulah yang dialami Muhammad Naufal Raffi (14) saat tinggal di rumah keluarga yang beda agama. Dalam program pertukaran pelajar antardaerah di Indonesia yang dinaungi Yayasan Sabang Merauke, Raffi yang beragama Islam berkesempatan tinggal di rumah keluarga yang beragama Kristen.

Selama tiga minggu (akhir Juli-Agustus 2017), Raffi tinggal di rumah 'Papa dan Mama' yang bertempat di Bambu Apus, Jakarta Timur. Walaupun Raffi kelahiran Jakarta, ia datang ikut program Yayasan Sabang Merauke (Seribu Anak Bangsa Merantau Kembali), dari Bukit Tinggi, Sumatera Barat.

Raffi rupanya menempuh pendidikan SMP di Bukit Tinggi. Ia berencana melanjutkan SMA di Jakarta kelak. Terlebih lagi beberapa anggota keluarga besar Raffi berada di Jakarta.

Sebelum tinggal di rumah keluarga beda agama, Raffi mendapatkan pembekalan, baik dari kakak-kakak pendamping Yayasan Sabang Merauke maupun orangtuanya. Pembekalan dari kakak pendamping, Raffi jangan sampai tertutup saat tinggal di Jakarta.

"Kalau orangtua Raffi cuma bilang, jangan sampai tertutup dan bergaul baik dengan orang yang lain agama. Coba bergaul dengan sendirinya layaknya dilakukan dengan teman-teman di sekolah," ujar Raffi saat berbincang di Perpustakaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Jakarta, ditulis Selasa (12/6/2018).

 

 

Simak video menarik berikut ini:

2 dari 5 halaman

Adaptasi dengan keluarga baru

Proses adaptasi di keluarga baru, begitu Raffi sebut, awalnya masih agak kaku. Ini karena ia akan tinggal dengan orang yang berbeda agama. Ia pun memanggil si empu rumah dengan sebutan 'Papa dan Mama.'

Raffi diperkenalkan di hadapan keluarga besar. Setelah sesi perkenalan tersebut, Raffi tak lagi kaku. Ia berupaya bergaul dengan leluasa. Aktivitas Raffi selama tinggal di keluarga beda agama, yakni ikut aktivitas Yayasan Sabang Merauke yang sudah terjadwal dari Senin-Jumat.

"Ada jadwal yang sudah diatur. Minggu pertama itu belajar tentang toleransi, minggu kedua soal pendidikan, dan minggu ketiga tentang keindonesiaan. Pas ikut kegiatan dapat buku khusus. Di dalam buku itu nanti ditulis, apa yang sudah dipelajari selama satu hari," Raffi melanjutkan.

Kegiatan yang diperoleh Raffi dari Senin-Jumat, misalnya berkunjung ke geraja dan vihara. Belajar dengan narasumber di tempat ibadah tersebut. Waktu berkualitas bersama keluarga dilakukan Raffi pada hari Sabtu-Minggu saja. Ia menyesuaikan diri pergi dan beraktivitas bersama keluarga.

"Iya, soalnya Papa kerja sebagai fotografer dan Mama kerjanya di sekolah. Jadi, Senin-Jumat, kami cuma ketemu pas pagi aja. Papa sempat nganterin Raffi ke lokasi kegiatan Yayasan Sabang Merauke. Ketemu cuma malam aja buat makan malam," lanjut Raffi.

Papa dan Mama juga pulang kerja di atas pukul 18.00 WIB. Ketika Raffi pulang ke rumah sekitar pukul 17.00 dan 18.00, Papa dan Mama masih belum pulang.

3 dari 5 halaman

Hargai yang Muslim

Di keluarga beda agama yang Raffi tinggali, Papa dan Mama menghargai Raffi yang muslim. Anjing yang ada di rumah dan biasanya bebas berkeliaran, sejak ada Raffi, anjing dikandangin.

Untuk makan pun Raffi tidak merasa kesulitan. Papa yang bisa memasak selalu bertanya pada Raffi mau makan apa. Ia tidak dipaksa makan.

"Sebelum tinggal, kakak-kakak Sabang Merauke sudah berkunjung dan bertemu keluarga yang akan Raffi tinggali. Mereka ngasih tahu, nanti anak yang tinggal di rumah kayak gimana, kebiasaaannya gimana," ungkap remaja kelahiran Jakarta, 22 April 2003 ini.

Waktu bertemu dengan keluarga besar, keluarga besar Papa dan Mama ada yang muslim dan pakai hijab. Ada dua agama juga.

"Papa dan Mama juga sudah tahu, kalau muslim itu enggak boleh megang anjing dan harus makan yang halal," lanjut Raffi.

Papa dan Mama pun asyik. Mereka memperlakukan Raffi seperti anaknya sendiri. Selama tiga minggu tinggal, Raffi sering mengobrol dengan anak Papa dan Mama, yang seumuran dengan Raffi.

4 dari 5 halaman

Bertemu B.J Habibie

Raffi menceritakan, hal berkesan yang dialami selama tiga minggu tinggal di rumah keluarga beda agama. Ia berkesempatan bertemu Presiden RI ke-3 B.J Habibie di kediamannya.

Pertemuan dengan Habibie itu satu hari sebelum hari terakhir perpisahan saat sore hari. Ini dikarenakan Habibie baru bisa sore hari. Raffi sebenarnya tidak tahu kalau dirinya akan bertemu Habibie.

"Papa dan Mama cuma bilang, 'Nanti aja lihat kita mau ketemu siapa.' Kayak dirahasiain gitu pertemuannya. Jadi, semacam kejutan," lanjut Raffi.

Raffi memang kaget saat sampai di depan rumah Habibie. Ia sempat ragu, apa benar dirinya akan bertemu langsung Habibie atau hanya bertemu anak dan juru bicaranya saja. Ternyata bertemu langsung Habibie.

Saat sesi pertemuan yang berlangsung 1-2 jam, Habibie menceritakan perjalanannya ide membuat pesawat pesawat N250 Gatot Kaca yang merupakan pesawat buatan Indonesia yang pertama. Ia juga mengungkapkan, dari mana ide membuat pesawat, yang baru-baru ini juga mengembangkan pesawat R80.

"Senang deh. Pak Habibie juga cerita soal almarhumah istrinya, Bu Ainun, motivasi harus melanjutkan pendidikan," ujar Raffi.

5 dari 5 halaman

Ingatkan ibadah

Tinggal di rumah keluarga yang beda agama juga ada yang membuat Raffi terharu. Ia pernah pulang pukul 20.00 usai ikut kegiatan materi Yayasan Sabang Merauke. Lelah dan kantuk, Raffi nyaris terlambat bangun pagi.

"Akhirnya, dibangunin sama Papa. Papa ingatkan Raffi buat salat, sarapan, dan berangkat ikut kegiatan materi Yayasan Sabang Merauke lagi. Ya, meski dia berbeda agama, tapi mengingatkan Raffi buat ibadah," haru Raffi dengan mata berkaca-kaca.

Makna mendalam yang Raffi peroleh, walaupun berbeda agama dan cara ibadahnya juga beda, kita tetap sama, yakni sama-sama menyembah Tuhan.

"Kepada Tuhan, kita berdoa dan meminta apa yang diinginkan. Pernah juga bertemu salah satu atlet berkebutuhan khusus (disabilitas). Raffi belajar, meski cacat tapi punya mimpi, kenapa enggak berani kita wujudkan saja," Raffi menambahkan.

Terkadang sudah punya mimpi, kita malah putus asa karena segala kekurangan yang dimiliki. Lebih baik terus kejar mimpi walau banyak rintangan. Kalau gagal, coba lagi.

"Tuhan pasti ngebantu kita kok. Jangan takut untuk bermimpi dan mengejar mimpi," tutup Raffi, yang saat ini duduk kelas 9 SMP dan hendak masuk SMA.