Sukses

Curhat di Media Sosial Hanya untuk Berburu Like dan Comment?

Liputan6.com, Jakarta Kehadiran media sosial membuat banyak orang mendadak hobi curhat. Baik itu cerita rutinitasnya dalam bekerja maupun kisah hubungan asmara. Semakin menarik cerita, akan berbalas dengan jumlah like, love, retweet, views, followers, dan komentar. Sayangnya, kisah yang diangkat semakin kebablasan. Persoalan dan masalah internal yang seharusnya tabu diungkap ke publik, kini diumbar secara gamblang.

Sebagian orang berpikir curhat lewat media sosial adalah salah satu cara menyelesaikan masalah. Tanpa disadari, keseringan curhat di medsos pun tidak baik dan justru akan menimbulkan masalah baru. Hal ini yang diungkap oleh psikolog klinis, Astrid Wen, M. Psi.

"Jumlah like dan banyaknya komentar positif tentu bisa memompa semangat untuk keluar dari masalah baru. Kita akan mendapatkan seruan, 'semangat ya', atau perkataan sependapat, 'Aku setuju dengan kamu, lakukan saja', dan juga akan mendapatkan informasi-informasi baru untuk menghadapi dan menyelesaikan masalah," terang Astrid saat dihubungi Health-Liputan6.com, Selasa (6/2/2018).

Di dunia maya, derajat popularitas seseorang kini sering diukur dengan banyaknya jumlah like, love, retweet, views, followers, dan komentar. Semakin status atau fotonya banjir like dan ramai komentar, akun media sosial orang tersebut kian menjadi pusat perhatian.     

"Kita perlu menyadari bahwa curhatan pun memiliki risiko di cyber bully. Kita tidak mampu menyaring komen macam apa yang akan muncul di timeline kita. Kita juga membuka info pribadi kita secara lebih besar. Orang-orang yang tidak dikenal dapat melihat kehidupan pribadi, pola pikir, emosi, kehidupan orang-orang di sekitar, dan dunia kita yang lain lebih luas. Khawatirnya, hal itu dapat disalahgunakan oleh followers atau teman-teman di dunia maya," lontar Pendiri Pion Clinicion itu.

 

Simak juga video menarik berikut : 

 

 

1 dari 2 halaman

Merasa Eksis dan Berharga

Hari ini, 6 Februari, merupakan Hari Keamanan Berinternet atau Safer Internet Day. Tentu saja Anda juga harus merasa aman dan nyaman ketika berselancar di media sosial. Jangan semua masalah pribadi dibeberkan hanya untuk mendulang like dan comment.

"Di zaman hidup dalam dunia digital, tingkah laku ekstrovert didukung lebih besar ketimbang tingkah laku introvert. Setiap orang yang mem-posting kehidupan pribadinya di-support dengan mendapatkan banyak like atau love. Terjadilah penilaian bahwa semakin banyak like akan semakin banyak perhatian. Semakin banyak love rasanya jadi semakin dicintai," tukas Astrid. 

Ia melanjutkan, dengan mendapat penguatan seperti like, love, atau comments membuat seseorang merasa menjadi eksis dan berharga.

"Medsos juga menjadi bahan penyaluran emosi. Ya, emosi senang diletakkan di dunia maya, emosi sedih diletakkan di dunia maya, emosi marah, kaget, takut, semua diekspresikan di dunia maya. Saat mendapatkan perhatian berupa likes, loves, atau comment, keinginan untuk berbagi cerita dan emosi ke dunia maya menjadi lebih kuat," jelas psikolog yang masih betah menjomblo ini.

Artikel Selanjutnya
Pertanyakan Manfaat Media Sosial, Deddy Corbuzier Sindir Kaum Milenial
Artikel Selanjutnya
5 Fakta Bahwa Media Sosial Telah Mengendalikan Pikiran Anda