Sukses

Jangan Jadikan Kaum Antivaksin Kambing Hitam Masalah Difteri

Liputan6.com, Jakarta Telunjuk tanpa sadar mengarah ke kelompok antivaksin begitu Indonesia darurat difteri. Namun, Anda perlu tahu bahwa difteri adalah masalah kesehatan yang kompleks, yang tetap bisa muncul sekalipun di Indonesia tidak ada mereka.

Kaum antivaksin hanyalah salah satu dari beberapa poin yang perlu diperhatikan ketika wabah difteri muncul di Tanah Air. 

Sah-sah saja apabila masyarakat punya pandangan demikian. Namun, tidak bisa kemudian menjadikan kelompok anti-vaksin kambing hitam dalam persoalan masalah kesehatan ini.

Demikian yang disampaikan Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (Sekjen PB IDI) Dr Moh Adib Khumaidi SpOT saat berbincang dengan Health Liputan6.com di SCTV Tower pada Kamis, 11 Januari 2018, malam.

Penyelesaian permasalahan difteri di Indonesia tidak sesederhana dengan melakukan imunisasi ulang atau outbreak response immunization (ORI) saja. Tidak juga dengan berharap kaum antivaksin 'taubat'. Menurut Adib, ada hal lain yang harus dilakukan juga.

"Kalau ini tidak segera diintervensi, bukan tidak mungkin kesehatan di Indonesia semakin bobrok pada dua sampai tiga tahun mendatang," ujar Adib.

 

1 dari 4 halaman

Imunisasi dan Difteri

Imunisasi adalah hal pertama yang harus dilihat lagi saat difteri atau campak (Asmat) kembali melanda. Sebab, difteri dan campak merupakan kasus-kasus yang seharusnya selesai sejak imunisasi dasar.

"Pertanyaan sekarang, masyarakat sudah terbiasa enggak pada saat ada imunisasi dasar pada nol sampai satu tahun, dia harus booster dari umur satu sampai enam tahun? Sudah tahu belum soal informasi itu? Sudah tersosialisasi belum soal itu? Dan sudah dilaksanakan belum booster imunisasi itu," kata Adib.

Kemudian, mengenai imunisasi di sekolah. Selama ini, program pemberian imunisasi hanya sampai sekolah dasar. Ketika anak masuk SMA, apakah imunisasi itu masih mereka dapatkan? Padahal, booster harus anak dapatkan sampai berumur 19 tahun.

"Artinya, ini yang harus kita lihat. Dalam pendekatan kasus yang sekarang saja, berapa yang meninggal? Umurnya? Banyak (yang menjadi korban) adalah remaja. Kita harus mundur ke belakang, anak tersebut dapat imunisasi tidak (dulunya)?," kata Adib menjelaskan.

 

2 dari 4 halaman

Kebersihan untuk Menyelesaikan Masalah Difteri

Poin selanjutnya yang harus dilihat mengenai status kebersihan di daerah-daerah di Indonesia. Termasuk masalah gizi karena semua ini saling terkait.

Adib, mengatakan, ini adalah sebuah lingkaran setan yang tidak bisa selesai dengan hanya menghilangkan satu penyebab saja. Harus semuanya.

"Kalau tidak, akan muncul terus. Campak, chicken pox, cacar air, tidak menutup kemungkinan akan muncul, kalau kita tidak menyelesaikan semua yang ada di lingkaran-lingkaran yang mempengaruhi di dalam proses kesehatan di Indonesia ini," ujar Adib.

 

3 dari 4 halaman

Masalah Lain untuk Menyelesaikan Difteri

Masalah-masalah promotif dan preventif kesehatan juga harus dilihat guna menyelesaikan masalah difteri maupun campak di Indonesia.

Promotif dan preventif tidak hanya menjadi tanggung jawab pusat saja. Daerah juga harus turun tangan, memperhatikan gizi dan lingkungan setempat. Bagaimana memperbaiki kampung-kampung kumuh menjadi kampung sehat.

"Oke, kita sepakat ada namanya GERMAS atau gerakan masyarakat sehat. Akan tetapi itu harus ditindaklanjuti dengan langkah-langkah yang harus diaplikasikan di masyarakat. Gizi tercukupi, lingkungan sehat, dan bersih," kata Adib.

Jadi, masalah kaum antivaksin di balik permasalahan difteri ini, hanya bagian kecil yang juga tidak luput untuk segera diselesaikan.

Artikel Selanjutnya
Waspada, Batuk 100 Hari Bisa Tewaskan Buah Hati Anda
Artikel Selanjutnya
Orang Enggan Imunisasi Tidak Selalu karena Agama