Sukses

Pria dengan Bentuk Wajah Begini Berpotensi Jadi Penipu

Liputan6.com, Jakarta Bentuk wajah manusia sangat beragam. Ada yang berbentuk bulat, ada yang kotak dalam artian memiliki garis-garis yang tegas, dan ada yang berbentuk oval atau lonjong. Namun demikian, siapa sangka bahwa kepribadian bisa terlihat dari bentuk wajah?

Dikutip dari situs Forbes, Jumat, 5 Desember 2018, beberapa penelitian menunjukkan bahwa pria dengan bentuk wajah yang cenderung lebar dan kotak memiliki kecenderungan menjadi seorang penipu. Beberapa perwakilan dari Universitas di Kanada melakukan riset pada 145 pelajar heteroseksual dengan komposisi 69 laki-laki dan 76 perempuan.

Penelitian dilakukan dengan mengukur dimensi wajah dan memberikan kuesioner mengenai dorongan seksual pada respondens. Penghitungan dimensi wajah dilakukan dengan membagi lebar bi-zygomatic dengan tinggi wajah bagian atas (jarak antara bibir bagian atas dan alis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pria dan wanita yang memiliki ukuran dimensi wajah lebih tinggi cenderung memiliki dorongan seks yang tinggi.

Penelitian kedua dilakukan pada 314 pelajar dari universitas yang berbeda. Penelitian dilakukan serupa, hanya saja pada penelitian ini, kuesioner yang dibagikan lebih dititikberatkan pada kemungkinan terjadinya perselingkuhan atau kecurangan. Hasilnya menunjukkan bahwa pria dengan ukuran dimensi wajah yang lebih tinggi cenderung memiliki kehidupan sosioseksualitas yang tak terbatas, dan memiliki niat untuk selingkuh atau curang.

Secara ilmiah, peneliti menjelaskan bahwa bentuk wajah seseorang bisa dipengaruhi oleh hormon androgen yang terbentuk pada saat masih dalam kandungan. Bentuk wajah yang lebar menunjukkan bahwa hormon androgen bertumbuh pesat pada saat proses kehamilan, dan berpotensi untuk memiliki hasrat seksual yang besar. Selain itu, faktor genetik pun turut berpengaruh terhadap proses pembentukan wajah.

 

Saksikan juga video berikut ini:

1 dari 2 halaman

Jangan Jadikan Tolok Ukur

Meski penelitian tersebut telah menunjukkan hasilnya, sebaiknya Kita tidak boleh percaya begitu saja. Para Peneliti mengakui kelemahan penelitian yang mereka lakukan, yaitu sangat mungkin responden tidak menjawab pertanyaan pada kuesioner secara sungguh-sungguh.

Hasil penelitian tersebut bisa menjadi dugaan awal untuk mengenal karakteristik seseorang, terutama dalam hal memilih pasangan. Selebihnya, kebenaran dari hasil penelitian ini tetap harus dibuktikan dengan fakta pendukung, yaitu proses mengenal kepribadian masing-masing.

Artikel Selanjutnya
Bude Sumiyati, Sosok Bidadari Kocak yang Bikin Warganet Terus Tertawa
Artikel Selanjutnya
Punya Tato di Kening, Mantan Anak Punk Ini Kini Pilih Berhijab