Sukses

Kecanduan Film Porno, Anak Berisiko Jadi Pelaku Kejahatan Seksual

Liputan6.com, Jakarta Film porno bukan ditujukan bagi anak-anak, sehingga ketika ia berkali-kali menonton bisa bahaya. Ia bisa menjadi kecanduan menonton tayangan berbau hubungan seksual tersebut. Ketika ia mulai kecanduan, risiko anak jadi pelaku kejahatan seksual pun muncul. Mengapa bisa begitu?

Menurut psikolog klinis Efnie Indrianie, kemungkinan anak untuk menjadi adiksi seksual bisa dimulai dari ponsel pintar dengan akses internet. Kini ada banyak 'jebakan' untuk masuk ke situs porno. Istilah yang digunakan pun jauh dari hal-hal porno misalnya menyebut nama hewan. Lalu, kini banyak juga 'pop up' yang mengarahkan anak klik situs xxx.

"Anak-anak itu kan penuh dengan curiosity, jadi mungkin awalnya tidak sengaja menonton, namun ia merasakan rangsangan kenikmatan. Lalu, besoknya lihat lagi ah, lalu terus begitu. 10 kali saja melihat video porno itu sudah bisa jadi kecanduan, nonton lagi dan lagi," tutur wanita yang juga dosen di Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha, Bandung ini.

Rasa ingin lagi dan lagi melihat tayangan seksual ini terjadi karena pada saat menonton ada sensasi kenikmatan. Pada saat itu otak melepaskan zat dopamin, yang lama kelamaan berlebihan.

Sebenarnya dalam kadar cukup, dopamin berfungsi sebagai neurotransmitter. Selain itu berperan mengatur pergerakan, pembelajaran, daya ingat, emosi, rasa senang, tidur, dan kognisi. Namun jika kadar dopamin berlebihan bisa membuat anak memiliki perilaku berbahaya seperti agresif dan kecanduan. 

Perlu diingat lagi, bahwa dunia anak-anak itu penuh dengan rasa keingintahuan. Sensasi nikmat yang ia rasakan saat menonton di film porno pun ingin dilakukan dalam kehidupan nyata.

"Awalnya dari situs porno, tapi bisa lama-lama anak pengen coba 'ah mumpung ada perempuan, cobain ah seperti yang ada di film porno'. Misalnya anak laki-laki ini melihat anak perempuan dan mencoba melakukan apa yang ditonton di film porno. Dari sinilah jadi ada kejahatan seksual yang dilakukannya untuk pertama kali," jelas Efnie.

Agar anak tak terjebak gemar menonton tayangan porno, orangtua punya peran penting. Komunikasi orangtua dan anak jadi kuncinya.

"Jadi orangtua, harus rajin lakukan komunikasi berkualitas pada anak dengan cara santai. Aktiflah sebagai orangtua. Amati gerak-gerik anak. Jika memiliki kedekatan hati, orangtua pasti peka jika ada yang berbeda pada anak," saran wanita cantik ini.

Jika orangtua mengetahui anak sudah pernah menonton tayangan porno, orangtua bisa melakukan tindakan untuk menarik anak dari kebiasaan tersebut.