Sukses

Ulasan Psikologis Terhadap Bujukan Jadi Teroris

Liputan6.com, Bryn Mawr - Selama bertahun-tahun, para ahli psikologi mempelajari sifat-sifat individual seorang teroris. Para ahli ini berusaha menggali petunjuk-petunjuk yang dapat menjelaskan tentang kemauan mereka melakukan kekerasan.

Sekarang para peneliti telah paham bahwa kebanyakan teroris tidaklah ‘patologis’ dalam pengertian tradisional selama ini. Beberapa pendalaman pengertian terungkap melalui wawancara dengan 60 mantan teroris sebagaimana yang dilakukan oleh psikolog John Horgan, PhD, pimpinan International Center for the Study of Terrorism di Pennsylvania State University.

Dikutip dari American Psychological Association pada Sabtu (16/01/2016), Horgan mendapati bahwa orang yang lebih terbuka kepada rekrutmen teroris dan radikalisasi cenderung untuk:

• Merasa marah, terasing, atau kecewa
• Percaya bahwa keterlibatan politik mereka sekarang tidak memberikan kekuatan untuk berdampak kepada perubahan yang nyata
• Mengidentifikasi diri sebagai korban ketidakadilan sosial yang mereka sedang perjuangkan
• Percaya bahwa terlibat dalam kekerasan melawan negara bukanlah hal yang tidak bermoral
• Memiliki teman atau kerabat yang bersimpati kepada penyebabnya
• Percaya bahwa bergabungnya dengan suatu gerakan memberikan ganjaran sosial dan psikologis seperti petualangan, kesetiakawanan, dan peningkatan rasa jatidiri.

Daripada karakteristik individual seorang teroris, Horgan mempelajari bahwa lebih berguna mengamati bagaimana orang berubah sebagai akibat keterlibatan teroris, daripada sekedar bertanya mengapa mereka bergabung ke dalamnya.

Salah satu pelaku penembakan di persimpangan Sarinah, Jalan MH Thamrin, Jakarta, tertangkap kamera, Kamis (14/1). Pelaku mengeluarkan senjata di tengah kepanikan warga pasca ledakan bom. (REUTERS/Veri Sanovri/Xinhua)

Menurut temuannya, bertanya tentang ‘mengapa’ cenderung mengarah kepada tanggapan-tanggapan bersifat ideologis. Di lain pihak, bertanya tentang ‘bagaimana’ mengungkapkan informasi penting mengenai proses masuknya, keterlibatannya, dan hengkangnya seseorang dari organisasi.

Sejumlah wilayah potensial yang dapat digarap misalnya mempelajari banyaknya cara seseorang bergabung dengan organisasi—apakah melalui rekrutmen atau keputusan pribadi, bagaimana para pemimpin mempengaruhi keputusan seseorang untuk tunduk pada peran-peran tertentu—misalnya pemuliaan peran pelaku bom bunuh diri, dan kemudian faktor-faktor yang menyebabkan seseorang kemudian hengkang.

Pada akhirnya, data-data mengenainya dapat membantu intervensi yang mungkin dilakukan. Misalnya, berdasarkan apa yang didengarnya tentang orang yang hengkang dari organisasi, ada suatu strategi yang menjanjikan yang menegaskan bagaimana gaya hidup mulia yang dijanjikan, namun tidak pernah datang.

Pengalaman seperti ini amat membekas pada para mantan teroris yang sekarang bersembunyi. Orang itu mengatakan kepada Horgan bahwa ia dibujuk ke dalam suatu gerakan ketika masih remaja karena orang yang merekrutnya memperindah tujuan.

Tidak lama, ia mendapati bahwa teman-temannya menganut nilai-nilai sektarian, bukan seidealis seperti yang dianutnya sehingga ia sangat ketakutan saat membunuh korban pertamanya dari jarak dekat.

Pemimpin Al Qaeda Ayman al Zawahiri minggu lalu sudah melansir bakal ada teror menebar di 3 negara Asia Tenggara, salah satunya Indonesia!

“Kenyataan keterlibatan tidak sesuai dengan apa yang dibualkan kepada anak-anak ini. Kalau bicara soal pertobatan para mantan teroris—banyak yang tangannya berlumuran darah—dan mereka memberikan kesempatan luar biasa untuk menggunakan kata-kata dan perbuatan sang teroris untuk melawan mereka.”

Sejumlah ahli psikologi meyakini bahwa terorisme paling tepat dipandang melalui lensa politis. Ahli psikologi Clark McCauley, PhD, adalah seorang investigator bersama di lembaga antiterorisme Study of Terrorism and Responses to Terrorism (START) sekaligus seorang direktur di Solomon Asch Center for Study of Ethnopolitical Conflict di bawah naungan Bryn Mawr College.

Ia melihat terorisme sebagai “alat peperangan kaum lemah”—yang artinya, kelompok yang kekurangan bahan atau kekuatan politik berkelahi melawan pihak yang mereka lihat sebagai kekuatan yang menekan.

Dengan demikian, ia berpendapat bahwa tindakan teroris dan reaksi pemerintah terhadapnya mempertontonkan suatu dinamika berbalasan, di mana gerakan dari suatu kelompok mempengaruhi gerakan di pihak lawannya.

Contohnya, jika teroris melakukan serangan dan negara menggunakan kekuatan luar biasa untuk mengirimkan pesan penghukuman, para teroris malah dapat menggunakan hal itu untuk meningkatkan sentimen anti-pemerintah di antara para pengikutnya, sehingga menjadi pembenaran kepada tindakan-tindakan mereka berikutnya.

Nyatanya, penelitian fokus seluruhnya kepada aksi-aksi teroris dan mengabaikan pentingnya pihak yang berseberangan. Katanya, “Jika kita tidak melacak apa yang kita lakukan untuk menanggapinya, bagaimana kita bisa berharap untuk mengetahui apa yang lebih baik ataupun lebih buruk?”