Sukses

Sejarah Jeff Bezos Jadi Orang Terkaya Sedunia Versi Forbes, Kalahkan Bill Gates

Liputan6.com, Jakarta - Sebuah sejarah terukir pada 3 Maret 2018 lalu, majalah Forbes membuat daftar orang terkaya di dunia yang awalnya dipuncaki Bill Gates namun berubah ditempati Jeff Bezos

Tentu hal ini tidak mengejutkan siapapun, melansir dari mashable.com, CEO Amazon ini menduduki puncak daftar kekayaan dengan total bersih sebanyak $112 miliar, atau sebesar Rp 1,711 triliun. 

Tentu saja hal ini adalah tonggak sejarah, yang menjadikan Bezos orang pertama dengan kekayaan mencapai $100 miliar, melambungkan namanya ke posisi teratas dalam daftar miliarder dunia.

Jatuh dari posisi teratas, salah satu pendiri Microsoft itu tercatat berada di nomor dua dengan kekayaan sebanyak $90 miliar atau sekitar Rp 1,374 triliun, tentu saja pendapatan ini tidak terlalu buruk bagi Bill Gates, dibandingkan pada tahun 2017, ia memiliki kekayaan sebanyak $86 miliar setara dengan Rp 1,313 triliun, sehingga ada peningkatan di tahun 2018 yang tidak terlalu mengecewakan. 

Jeff Bezos dilaporkan telah mengalahkan lima besar CEO lainnya, termasuk CEO Facebook Mark Zuckerberg yang dilaporkan memiliki kekayaan sebesar $71 miliar sekitar Rp 1,084 triliun, di belakangnya ada Warren Buffett dan Bernard Arnault dan keluarganya. 

Dengan kesuksesan Amazon yang luar biasa, tentu saja tidak mengherankan jika Bezos menduduki posisi pertama daftar orang kaya di dunia, mengingat ia memiliki sekitar 16% perusahaan, yang dia dirikan di sebuah garasi pada tahun 1994.

Pada Oktober 2017 lalu, Forbes menyatakan Bezos sebagai orang terkaya di dunia setelah terjadi lonjakan saham, yang dihasilkan dari pendapatan kuartal ketiga perusahaannya.

2 dari 4 halaman

Mengenal Perusahaan Amazon

Amazon.com, merupakan platform belanja online, perusahaan ini juga disebut sebagai produsen untuk pembaca buku elektronik, dan penyedia layanan web yang menjadi contoh ikonik perdagangan elektronik. Kantor pusatnya berada di Seattle, Washington.

Amazon.com adalah perusahaan besar berbasis internet yang menjual buku, musik, film, peralatan rumah tangga, elektronik, mainan, dan banyak barang lainnya, baik secara langsung atau sebagai perantara antara pengecer lain dan jutaan pelanggan Amazon.com. Bisnis layanan webnya mencakup penyewaan penyimpanan data dan sumber daya komputasi, yang disebut cloud computing (komputasi awan) di internet.

Kehadiran onlinenya yang cukup besar sedemikian rupa sehingga pada tahun 2012, 1% dari semua lalu lintas Internet di Amerika Utara masuk dan keluar dari pusat data Amazon.com.

Perusahaan itu juga membuat pembaca e-book Kindle memimpin pasar. Promosi perangkat ini telah menyebabkan pertumbuhan dramatis dalam penerbitan e-book dan mengubah Amazon.com menjadi kekuatan pengganggu utama di pasar penerbitan buku.

Pada tahun 1994, Jeff Bezos bergabung dengan Amazon.com, ia memilih nama tersebut terutama karena dimulai dengan huruf pertama alfabet dan hubungannya dengan Sungai Amazon di Amerika Selatan yang sangat luas.

 

3 dari 4 halaman

Buku Menjadi Produk Paling Laris untuk di Jual Online

Berdasarkan penelitian yang dia lakukan, Bezos menyimpulkan bahwa buku akan menjadi produk paling laris pada awalnya untuk dijual secara online.

Amazon.com bukanlah perusahaan pertama yang melakukannya, pada saat itu ada Computer Literacy, sebuah toko buku Silicon Valley, mulai menjual buku dari inventarisnya kepada pelanggannya yang cerdik secara teknis pada tahun 1991. Namun, janji Amazon.com adalah mengirimkan buku apa pun ke pembaca mana pun dan di mana pun.

Sementara Amazon.com terkenal sebagai penjual buku, Bezos berpendapat sejak awal bahwa situs tersebut bukan hanya pengecer produk konsumen. Dia berpendapat bahwa Amazon.com adalah perusahaan teknologi yang bisnisnya menyederhanakan transaksi online untuk konsumen.

Strategi bisnis Amazon.com sering ditanggapi dengan skeptis. Wartawan keuangan dan analis meremehkan perusahaan dengan menyebutnya sebagai Amazon.bom. Diragukan dan disebut akan kalah di pasar dari rantai penjualan buku yang sudah mapan, seperti Borders dan Barnes & Noble, begitu mereka meluncurkan situs e-niaga yang bersaing. Kurangnya keuntungan perusahaan hingga kuartal terakhir tahun 2001 tampaknya membenarkan kritik itu.

 

4 dari 4 halaman

Potensi Pertumbuhan Internet

Namun, Bezos menolak para penentang karena tidak memahami potensi pertumbuhan besar-besaran internet. Dia berargumen bahwa untuk sukses sebagai pengecer online, sebuah perusahaan perlu "Get Big Fast" (menjadi besar dengan cepat), sebuah slogan yang dia cetak di kaos karyawan.

Nyatanya, Amazon.com berkembang pesat, mencapai 180.000 akun pelanggan pada Desember 1996, setelah setahun penuh beroperasi, dan kurang dari setahun kemudian, pada Oktober 1997, Amazon memiliki 1.000.000 akun pelanggan.

Pendapatannya melonjak dari $15,7 juta atau setara dengan Rp 239 milyar, pada tahun 1996 menjadi $148 juta sekitar Rp 2,2 triliun pada tahun 1997, diikuti oleh $610 juta setara Rp 9,3 triliun pada tahun 1998.

Kesuksesan Amazon.com mendorong pendirinya menjadi Person of the Year 1999 versi majalah Time.

Perusahaan berkembang pesat di daerah lain, di mana situs web lain dapat menawarkan barang dagangan untuk dijual dan Amazon.com akan memenuhi pesanan dan membayar komisi, tumbuh dari satu situs tersebut pada tahun 1996 menjadi lebih dari 350.000 pada tahun 1999.

Mengikuti strategi awal Bezos, perusahaan dengan cepat mulai menjual lebih dari buku. Penjualan musik dan video dimulai pada tahun 1998. Pada tahun yang sama mulai beroperasi secara internasional dengan mengakuisisi penjual buku online di Inggris dan Jerman.

Pada tahun 1999 perusahaan juga menjual elektronik konsumen, permainan video, perangkat lunak, barang perbaikan rumah, mainan dan permainan, dan banyak lagi.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.