Sukses

30 November 1954: Hodges Jadi Manusia Pertama yang Terkena Meteorit

Liputan6.com, Montgomery - Salah satu serangan meteorit paling terkenal di zaman modern terjadi di Sweet Home Alabama, Amerika Serikat, lebih dari setengah abad yang lalu.

Mengutip dari laman AL.com, Selasa (29/11/2022), benda mirip bola api terang di langit dilaporkan melintas secara dekat di atas Kota Sylacauga, Alabama, pada 30 November 1954.

"Penduduk Sylacauga dan wilayah lainnya seperti Kota Tuscaloosa melihat benda aneh melintas di langit sore hari dan mendengar suara yang mereka gambarkan sebagai ledakan atau dentuman keras," tulis M.J. Ellington di Decatur Daily, ketika dia menceritakan episode tersebut pada 2006.

Sementara itu, Ann Elizabeth Hodges (34) saat itu sedang tidur siang di sofa rumahnya di Sylacauga. Dia kemudian terbangun oleh benturan keras dan rasa sakit. Dia bangkit untuk menemukan batu hitam yang cukup besar di ruang tamunya, membuat Hodges dan ibunya tercengang.

Hodges, tanpa disadari, baru saja menjadi orang pertama yang diketahui dalam sejarah modern yang terkena batu luar angkasa.

Batu seberat 8.5 pound (sekitar 4 kg) itu adalah meteorit, bongkahan meteor yang lebih besar yang telah pecah di atmosfer. Batu itu jatuh dari langit, membuat lubang di atap Hodges, memantul dari radionya, dan mendarat tepat di pahanya, menciptakan bilur seukuran nanas.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Menjadi 'Sensasi'

Pada Desember tahun itu, majalah Life menyebut insiden itu sebagai "kasus otentik pertama penyerangan 'rudal kosmik' di AS," dan menjuluki meteorit "hitam kusam" itu sebagai "A Big Bruiser from the Sky" (penghancur besar dari langit) di tajuk utamanya.

Pembatasan privasi pasien belum begitu signifikan di tahun 50-an. Seorang fotografer dapat memotret gambar Hodges yang terkenal, dokternya, dan memar besar di paha atasnya.

Meteorit itu menjadi sensasi di Sylacauga. Menurut Ensiklopedia Alabama, lebih dari 200 orang -- tetangga, teman, orang asing, dan media -- berkumpul di rumah Hodges dan pekarangannya setelah kejadian tersebut.

Billy Field, penduduk asli Sylacauga, diwawancarai tentang meteorit untuk proyek video University of Alabama Honors College pada 2009.

"Semua orang di lingkungan itu masuk ke mobil mereka," kata Field. Dia berusia lima tahun saat itu. "Saya ingat pergi ke sana, dan hanya ada mobil yang berbaris seperti pertandingan sepak bola Alabama. Mobil-mobil itu berjalan perlahan dan semua orang melihat ke dalam rumah wanita yang tertabrak bintang jatuh itu."

Field, seorang profesor telekomunikasi dan film di Alabama mengatakan beberapa orang bahkan mengunjungi rumah Hodges, sementara Ann Hodges berada di tempat tidurnya.

"Orang-orang akan berbaris melalui rumah, melihatnya, dan keluar dari pintu belakang."

Dokter Hodges kemudian memasukkannya ke rumah sakit hanya untuk menjauhkannya dari semua massa.

 

3 dari 4 halaman

Dinamakan 'Hodges Meteorite'

Setelah pertempuran hukum yang berlarut-larut, Hodges dan suaminya mendapatkan kendali atas meteorit seukuran nanas dan menyumbangkannya ke Alabama Museum of Natural History, yang masih ada sampai sekarang.

Publisitas seputar meteorit yang sekarang menyandang nama 'Hodges Meteorite' tak hanya mengakibatkan cedera di paha wanita Alabama itu.

Menurut Ensiklopedia Alabama, dia dan suaminya berpisah satu dekade setelah meteorit itu menabrak kehidupan mereka, dan menyebut batu itu sebagai faktornya. Hodges akhirnya meninggal pada 1972.

Kejadian serupa terjadi pada 15 Februari 2013. Meteorit seberat 10 ton yang 'menjerit' melintasi langit Siberia pagi itu mengejutkan dunia dan melukai ratusan orang ketika meledak.

112 orang dirawat di rumah sakit, dan beberapa laporan mengatakan hingga 700 terluka oleh gelombang kejut yang dipancarkan ledakan itu.

Ledakan meteorit Rusia pagi itu adalah salah satu peristiwa meteorit paling parah dalam sejarah modern yang pertama mempengaruhi orang-orang di lokasi. 

4 dari 4 halaman

Josua Hutagalung Kejatuhan Meteorit Seharga Rp 26 Miliar

Sementara itu, dua tahun silam, rumah seorang pria di Sumatera Utara juga kejatuhan meteorit. Berbeda dengan dua insiden sebelumnya, pria 33 tahun asal Kolang bernama Josua Hutagalung itu malah ketiban rezeki.

Meteorit yang jatuh dari luar angkasa itu jatuh tepat di atas atap rumahnya. Rupanya, sebongkah batu tersebut seharga 1,4 juta poundsterling atau sekitar Rp 26 miliar.

Batu luar angkasa seberat 2,1 kilogram itu meninggalkan lubang besar di atas ruang tamu lelaki yang bekerja sebagai pembuat peti mati itu. Ketika jatuh, batu tersebut melesak sedalam 15 sentimeter di dalam tanah di samping rumah Josua.

Umumnya, meteorit per gram dengan varietas batuan murni termurah seharga 0,5 dolar hingga 5 dolar AS per gram dan logam ekstra terestrial langka dijual hingga 1.000 dolar AS per gram.

Josua yang berhasil menggali batu tersebut mengatakan, meteorit masih hangat dan sebagian pecah saat disentuh.

"Suaranya sangat keras sehingga beberapa bagian rumah juga bergetar. Dan setelah saya mencari, saya melihat atap seng rumah telah rusak. Saya menduga batu ini memang benda dari langit yang disebut orang sebagai meteorit karena tidak mungkin seseorang dengan sengaja melemparkannya atau menjatuhkannya dari atas," kata Josua, seperti dikutip Dailymail, Rabu, 18 November 2020.

Penduduk setempat juga mendengar suara ledakan besar yang mengguncang rumah. Puluhan orang mengunjungi rumah Joshua untuk melihat benda langka tersebut.

Rupanya, meteorit itu diperkirakan berumur 4,5 miliar tahun dan diklasifikasi sebagai CM1/2 berkarbon Chondrite.

Meteorit itu pun merupakan varietas yang sangat langka. Batu ini bernilai sekitar 857 dolar AS atau sekitar Rp 12 juta per gramnya.

Pakar meteorit Amerika Serikat, Jared Collins mengatakan, dirinya langsung pergi mencari Josua untuk melakukan negosiasi.

Dengan uang yang didapatnya, bapak 3 anak ini mengatakan akan menggunakan sebagian uang tersebut untuk membangun gereja di komunitasnya.

 

 

Penulis: Safinatun Nikmah.

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS