Sukses

Obama Hingga Bill Clinton, Mantan Presiden AS Ini Siap Jadi Relawan Vaksin COVID-19

Liputan6.com, Washington D.C - Mantan Presiden Barack Obama, George W. Bush dan Bill Clinton secara sukarela telah menyatakan kesiapannya untuk menerima vaksin COVID-19. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan publik terhadap keamanan vaksin setelah Badan Pengawas Obat dan Makanan AS mengesahkannya.

Ketiga mantan presiden itu berharap kampanye kesadaran untuk mempromosikan kepercayaan akan keamanan dan keefektifannya, akan menjadi pesan yang kuat ketika pejabat kesehatan masyarakat Amerika mencoba meyakinkan publik untuk menerima vaksin jika sudah tersedia nanti. Demikian seperti melansir laman CNN, Jumat (4/12/2020).

Freddy Ford, kepala staf Bush, mengatakan kepada CNN bahwa Presiden ke-43 tersebut telah menghubungi Dr. Anthony Fauci - direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular dan pakar penyakit menular terkemuka di negara itu - dan Dr. Deborah Birx, koordinator tanggapan Virus Corona COVID-19 Gedung Putih, untuk melihat bagaimana dia dapat membantu mempromosikan vaksin.

"Beberapa minggu yang lalu Presiden Bush meminta saya untuk memberi tahu Dr. Fauci dan Dr. Birx bahwa, ketika waktunya tepat, dia ingin melakukan apa yang dia bisa untuk membantu mendorong sesama warga agar mendapatkan vaksinasi," kata Ford kepada CNN. 

"Pertama, vaksin perlu dianggap aman dan diberikan kepada populasi prioritas. Kemudian, Presiden Bush akan mengantre untuknya, dan dengan senang hati akan melakukannya di depan kamera."

Sekretaris pers Clinton turut mengatakan pada hari Rabu bahwa dia juga akan bersedia untuk menerima vaksin di tempat umum untuk mempromosikannya.

"Presiden Clinton pasti akan mengambil vaksin segera setelah tersedia untuknya, berdasarkan prioritas yang ditentukan oleh pejabat kesehatan masyarakat. Dan dia akan melakukannya di tempat umum jika itu akan membantu mendesak semua orang Amerika untuk melakukan hal yang sama," kata Angel Urena.

2 dari 4 halaman

Buktikan Keamanan Vaksin

Barack Obama juga mengatakan bahwa jika Fauci mengatakan vaksin Virus Corona COVID-19 aman, dia percaya padanya.

"Orang-orang seperti Anthony Fauci, yang saya kenal, dan pernah bekerja dengan saya, saya percaya sepenuhnya," kata Obama.

"Jadi, jika Anthony Fauci memberi tahu saya bahwa vaksin ini aman, dan dapat memvaksinasi, Anda tahu, mengimunisasi Anda dari tertular Covid, tentu saja, saya akan menerimanya."

"Saya berjanji kepada Anda bahwa jika dibuat untuk orang-orang yang berisiko rendah, saya akan mengambilnya," katanya.

"Saya mungkin akan menerima vaksin dan disiarkan di TV atau memfilmkannya, supaya orang tahu bahwa saya mempercayai ilmu ini, dan yang tidak saya percayai adalah mendapatkan COVID," tambahnya.

Dalam pernyataannya, mantan Presiden Jimmy Carter mengatakan bahwa dia dan istrinya juga mendukung upaya vaksin.

"Mantan Presiden AS Jimmy Carter dan istrinya, Rosalynn, mengatakan hari ini bahwa mereka mendukung penuh upaya vaksin COVID-19 dan mendorong semua orang yang memenuhi syarat untuk mendapatkan imunisasi segera setelah tersedia di komunitas mereka," kata Carter Center dalam sebuah pernyataan di Twitter.

Tim media Carter Center belum menanggapi pertanyaan CNN tentang apakah mantan Presiden itu akan divaksinasi secara terbuka.

3 dari 4 halaman

Obama Ingin Masyarakat Percaya Vaksin

Obama sekarang memiliki misi untuk menggunakan tempat kedudukan pasca-kepresidenannya dalam kampanye kesadaran publik.

Selama wawancara, Obama tampaknya mengakui masalah keragu-raguan vaksin yang sangat nyata, yang dikhawatirkan oleh beberapa pakar kesehatan dapat menyebabkan minoritas - yang lebih terpengaruh oleh pandemi Virus Corona COVID-19 - untuk menghindari vaksin.

"Saya mengerti Anda tahu secara historis - segala sesuatu yang berasal dari eksperimen Tuskegee dan seterusnya - mengapa komunitas Afrika-Amerika, memiliki beberapa skeptisisme. Tetapi faktanya adalah bahwa vaksin adalah alasan mengapa kita tidak mengalami polio lagi, alasan mengapa kita tidak memiliki banyak anak yang meninggal karena campak dan cacar serta penyakit yang dulu memusnahkan seluruh populasi dan komunitas," katanya.

Studi sebelumnya telah mengungkapkan bahwa komunitas minoritas memiliki tingkat kematian yang lebih tinggi dari COVID-19, lebih terpapar dan paling rentan sebagian karena kondisi yang sudah ada sebelumnya.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: