Sukses

Hasil Investigasi Awal Ledakan Beirut: Tak Ada Serangan Roket, Hanya Pekerjaan Las

Liputan6.com, Jakarta Hasil investigasi awal tragedi ledakan dahsyat di Beirut, Lebanon, tidak menunjukkan adanya serangan roket dalam insiden yang menewaskan 177 orang itu. Penyelidikan awal menunjukkan adanya kelalaian serius.

Seperti dilaporkan stasiun TV LBCI, hasil investigasi itu tidak menunjukkan apakah ledakan itu disengaja atau tidak, namun menyoroti kelalaian serius di gudang Pelabuhan Beirut, dengan adanya 2.700 ton Amonium Nitrat, 24 ton kembang api, Kerosin, Metilen, dan Nitrogen.

Sejumlah sumber mengatakan, Amonium Nitrat sendiri tidak menimbulkan risiko tanpa adanya bahan-bahan kimia lain yang berpotensi menyebabkan bencana, seperti dilansir Antara, Senin (17/8/2020).

Sejumlah penyelidikan juga menunjukkan tiga pekerja melakukan tugas pengelasan di gudang itu dan meninggalkan lokasi setelah pukul 17.00 waktu setempat, atau sekitar satu jam sebelum insiden ledakan itu terjadi.

2 dari 3 halaman

3 Pejabat Pelabuhan Ditahan

Sebelumnya, Jaksa Penuntut Lebanon Ghassan El-Khoury menahan tiga pejabat senior Pelabuhan Beirut karena gagal membuang Amonium Nitrat dan mematuhi aturan penyimpanan bahan-bahan kimia tersebut secara tepat.

Ketiga pejabat yang ditangkap yakni Direktur Jenderal Bea Cukai Badri Daher, mantan direktur bea cukai Chafic Merhi, dan Direktur Jenderal Pelabuhan Beirut Hassan Koraytem.

Dua ledakan dahsyat terjadi di Pelabuhan Beirut pada 4 Agustus, mengguncang gedung-gedung di seantero ibu kota Lebanon itu serta menewaskan 177 orang dan melukai 6.000 lainnya.

Gubernur Beirut memperkirakan kerugian mencapai lebih dari US$ 10 miliar (1 dolar AS = Rp 14.917).

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini: