Sukses

Kabar dari Wuhan: Sudah 7 Hari Tak Ada Kasus Virus Corona COVID-19

Liputan6.com, Wuhan - Kasus Virus Corona (COVID-19) dilaporkan absen dalam seminggu terakhir di Wuhan, Provinsi Hubei. Aturan lockdown juga segera dilonggarkan. 

Berdasarkan laporan media China Xinhua, Rabu (1/4/2020), tidak ada kasus baru Virus Corona COVID-19 hingga perhitungan per 31 Maret kemarin. Ini berarti genap seminggu tak ada kasus baru di kota yang menjadi episentrum virus tersebut. 

Pada pekan terakhir Maret, berbagai lokasi di Hubei melaporkan tak ada kasus baru dalam selama dua minggu lebih. Meski demikian, masih ada kasus kematian akibat Virus Corona  baru di Wuhan. 

Per Senin kemarin, Provinsi Hubei memulangkan 271 pasien sembuh dari rumah sakit. Di antara 1.461 pasien yang dirawat di rumah sakit, ada 350 yang kondisinya memburuk dan 147 pasien kritis. 

Berdasarkan laporan resmi pemerintah China, ada total 67.801 kasus Virus Corona baru di provinsi Hubei. Sebanyak 50 ribu kasus berasal dari Wuhan. 

Virus Corona jenis baru pertama terdeteksi di Wuhan pada Desember lalu, namun pemerintah lokal malah membungkam dokter itu karena disebut membuat gaduh. Dokter yang ditegur, yakni Li Wenliang, akhirnya meninggal dunia setelah tertular.

Kini, Virus Corona COVID-19 sudah menyebar ke seluruh dunia dan merenggut nyawa puluhan ribu orang di Eropa. 

Data dari China pun mendapat sindiran dari Gedung Putih. Pemerintah China dinilai tidak memberi representasi akurat terkait Virus SARS-CoV-2 ketika awal penyebaran, sehingga ilmuwan jadi kurang persiapan.

"Ketika kamu melihat data China di awal-awalnya, dan kamu mendapati ada 80 juta orang, atau 20 juta orang di Wuhan dan 80 juta di Hubei, dan mereka menyebut ada 50 ribu (pasien), kamu berpikir ini lebih mirip SARS ketimbang pandemi global seperti sekarang," ujar Dr. Deborah Birx, Koordinator Respons Virus Corona Gedung Putih.

"Saya pikir komunitas medis menginterpretasi data dari China bahwa ada sesuatu yang serius, tetapi lebih kecil ketimbang yang siapa pun perkirakan, karena saya pikir mungkin kita kehilangan jumlah data yang signifikan," pungkas Dr. Birx. 

2 dari 3 halaman

Status Lockdown Akan Berakhir

Mulai Rabu 25 Maret, pemerintah China mulai membuka lockdown di Provinsi Hubei. Kebijakan lockdown pertama kali diterapkan pada 23 Januari lalu di beberapa kota di Hubei, termasuk kota Wuhan. 

Pengumuman itu dibuat oleh Komisi Kesehatan China di provinsi Hubei, sehingga warga boleh keluar masuk Hubei. Khusus kota Wuhan, lockdown baru berakhir pada 8 April mendatang, demikian laporan The Straits Times.

Jumlah infeksi baru di Hubei sudah tidak ada lagi sejak 19 Maret lalu. Secara keseluruhan, ada 67 ribu kasus di Hubei dan 60 ribu berhasil sembuh.

Pada 8 April mendatang, orang yang ingin keluar dari Wuhan harus tetap mengikuti aturan kesehatan yang berlaku. Jumlah pasien baru di Wuhan juga sudah tidak ada lagi dalam beberapa hari terakhir.

Pada kebijakan lockdown Hubei, ada total 60 juta yang tak bisa keluar dari provinsi itu. Pergerakan masyarakat juga dibatasi agar tidak leluasa ke luar rumah.

Pemerintahan Xi Jinping optimistis mereka sudah menjinakan penyebaran COVID-19 di China. Pada 10 Maret lalu, Presiden Xi telah mengunjungi Wuhan untuk pertama kalinya.

Rumah sakit darurat sempat dibangun di kota Wuhan juga sudah tutup karena berkurangnya pasien baru. Dokter-dokter yang diimpor dari provinsi lain di China akhirnya pulang ke daerah masing-masing.

Transportasi umum di Hubei juga ditutup dan mereka yang punya kendaraan pribadi juga tak boleh bebas berpergian. Ratusan WNI sempat terjebak hingga akhirnya dijemput pemerintah. 

Saat ini, kebijakan lockdown sedang dicontoh banyak negara, termasuk Malaysia, Filipina, dan Italia yang punya jumlah kematian yang tinggi di Eropa. Dokter China juga sudah bertolak ke Italia untuk membantu, namun pihak China menyayangkan lockdown di Italia yang kendor. 

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: