Sukses

Strategi Budaya Dubes Diennaryati Perkenalkan Indonesia di Ekuador

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia dan Ekuador berlokasi di belahan dunia yang berbeda. Usia hubungan diplomatik antar kedua negara pun masih muda. Perwakilan RI di Quito, ibu kota Ekuador, tercatat baru diresmikan pada awal 2010-an.

Dubes Republik Indonesia untuk Republik Ekuador, Diennaryati Tjokrosuprihatono, berusaha untuk terus mengenalkan Indonesia di Ekuador. Caranya, ia memulai dari budaya. Salah satunya adalah budaya kuliner.

"Mereka suka makanan Indonesia," ujar Dubes Diennaryati di Jakarta, Senin (13/1/2020).

Diennaryati yang pernah berpartisipasi di festival kuliner Indonesia di Ekuador menyaksikan sendiri ketertarikan orang Ekuador pada kuliner Indonesia. Akhirnya, koki yang ia bawa pun mengajarkan koki setempat cara memasak makanan Indonesia.

"Akhirnya chefnya saya tinggal. Mengajari chef Ekuador," ujarnya. Makanan Indonesia yang populer di negara itu seperti rendang, mie goreng, dan mie tektek.

Toko kerajinan tangan Indonesia pun sudah mulai terlihat di kota-kota Ekuador, yakni Quito dan Guayakil. Barang-barang yang dijual seperti furnitur, lukisan, hingga pernak-pernik berkualitas.

"Dan tokonya bukan kecil-kecil tapi toko mewah. Dan saya bangga melihatnya," kata sang dubes.

2 dari 3 halaman

Potensi Bisnis

Diennaryati pun berdiskusi dengan Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki di kantor kementeriannya. Ia menjelaskan Indonesia memiliki potensi besar untuk berbisnis di Ekuador.

Namun, ia masih berusaha mengenalkan dahulu Indonesia kepada masyarakat Ekuador. Ia juga berpartisipasi dalam Pengrajin Amerika Selatan Atau Festival de Artesenias de America CIDAP.

Dalam festival tahun 2019, Indonesia ikut ambil, bagian dan berpartisipasi dengan menyertakan enam pengrajin antara lain, dari Jakarta Kartika Santoso dengan kerajinan asesorisnya, dari Bali, Bundhowi dengan wayang kulitnya, tiga pengrajin tenun ikat dan kerajinan anyaman dari NTT, yang dipimpin Julie Sutrisno Laiskodat.

Turut hadir pula pemain Saxophone Yuyun George dan penari Tellu dan Edgar dari KBRI Quito. Untuk CIDAP 2020, Diennaryati masih memilih UKM mana yang ingin ia bawa.

"Itulah jadi sedikit demi sedikit kita mendorong agar Indonesia bisa diterima," ujarnya.

 

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Kirab Grebeg Sudiro, Kolaborasi Budaya Jawa dan Tionghoa di Surakarta
Artikel Selanjutnya
Mengulik Kebiasaan Ngemil yang Lekat dengan Budaya Indonesia