Sukses

Kisah Wabah HIV Misterius Menjangkit Anak-Anak di Pakistan

Liputan6.com, Pakistan - Hampir 900 anak di sebuah kota kecil Pakistan mengidap HIV. Fakta itu terungkap pada April lalu ketika seorang dokter curiga terhadap gejala seorang anak yang dibawa ke kliniknya.

Tes HIV dilakukan pada anak itu. Delapan hari kemudian, seribu orang didiagnosa HIV positif.

Dan terungkaplah salah satu penyebaran wabah HIV terbesar yang pernah terjadi di Asia yang menimpa anak-anak. Anak-anak yang terkena penyakit ini berumur di bawah 12 tahun, tanpa ada sejarah penyakit itu di keluarga mereka.

BBC mengunjungi Ratodero yang menjadi pusat wabah dan menemui Dokter Muzaffar Ghangro yang sedang memeriksa seorang anak berumur tujuh tahun. Di luar ruang praktik, 12 pasiennya tengah menunggu, beberapa di antaranya baru berumur beberapa minggu.

Dr Ghangro adalah dokter anak terkenal di daerah itu, dan juga yang termurah. Namun semua berubah ketika ia ditahan pihak berwenang.

Dr Ghangro dapat ditemui ketika keluar klinik dengan berjalan terpincang dengan satu kaki palsunya. Pihak berwenang menuduhnya menginfeksi anak-anak dengan HIV secara sengaja. Ia ditahan dengan tuduhan pembunuhan.

Ia tampak santai dan tersenyum. Tapi ketika pembicaraan beralih ke soal wabah HIV, wajahnya jadi tegang dan suaranya meninggi.

"Saya tak bersalah," tegasnya, seperti dilansir BBC, Minggu (1/12/2019).

 

2 dari 5 halaman

Jarum Suntik Daur Ulang

"Pejabat departemen kesehatan dalam tekanan dan mereka butuh kambing hitam untuk inkompetensi mereka. Jadilah saya yang disalahkan," katanya.

Seminggu kemudian, penyelidikan yang dilakukan bersama antara pemerintah dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menurunkan tuduhan terhadap dr Ghangro menjadi kelalaian kriminal.

"Saya sudah praktik dokter selama 10 tahun. Tak ada yang pernah mengeluh ketika saya memakai ulang jarum suntik. Praktik saya populer, maka karena cemburu, beberapa dokter dan jurnalis mengarang-ngarang tuduhan ini," ungkapnya.

Dokter Ghangro - yang juga mengidap HIV - dibebaskan sementara dengan jaminan.

Beberapa kilometer dari klinik dr Ghangro di desa Subhana Khan, 32 anak ditemukan positif mengidap HIV. Tak ada keluarga mereka punya sejarah penyakit itu.

Saya menemui beberapa ibu mereka yang tampak putus asa. Anak-anak mereka tampak kurus dan kurang gizi, serta terus menerus menangis.

"Saya minta mereka menimbang anak saya dan memberinya vitamin," kata salah seorang ibu.

"Mereka bilang hanya bisa memberi resep, tapi saya harus membelinya sendiri. Harganya beberapa ratus rupees dan saya tak mampu beli."

Pemerintah menyediakan obat gratis untuk HIV tapi kebanyakan orangtua tak mampu beli obat untuk menangani penyakit lain yang muncul sebagai akibat dari HIV - yang menyerang kekebalan tubuh.

Namun rasa malu dan trauma paling menyiksa orangtua di Ratodero.

"Orang benci pada anak kami", kata salah seorang dari mereka. "Mereka bahkan mendiskriminasi kami, tak mau bertanya, tak mau bersalaman atau mengunjungi rumah kami, karena mereka takut akan tertular. Kami bisa apa?"

Katanya, anak-anak di desa tak mau bermain dengan anaknya yang HIV positif. Sekolah juga menyarankan agar anak-anak ini tidak usah hadir ke sekolah.

 

3 dari 5 halaman

Panik Massal

Dokter Fatima Mir merupakan dokter pertama yang ada di lokasi saat dinyatakan adanya wabah. "Terjadi panik massal. Diagnosa HIV diartikan sama dengan kematian, mereka merasa anak-anak ini akan mati dalam beberapa hari," kenangnya.

Pakistan merupakan salah satu dari 11 negara dengan prevalensi HIV tertinggi, menurut laporan PBB bulan Juli 2019, dan kurang dari separuh dari mereka yang mengidap menyadari penyakit mereka.

Kasus penyakit itu meningkat hampir dua kali lipat sejak tahun 2010 menjadi 160.000 kasus.

Alarm peringatan

HIV selama ini bukan merupakan prioritas pemerintah. Namun Menteri Kesehatan Pakistan Azra Pechuho mengaku wabah belakangan ini seperti peringatan alarm bagi pemerintah.

Sekitar 600.000 dokter yang tak berkualifikasi melakukan praktik secara ilegal di seluruh Pakistan.

"Praktik di banyak rumah sakit di Pakistan berjalan secara tidak etis. Dokter tidak memikirkan kesejahteraan pasien. Mereka memberi injeksi, bahkan ketika tak dibutuhna. Ini untuk pemecahan instan. Lebih banyak injeksi, lebih besar risiko penyebaran infeksi," kata Pechuho.

"Agustus tahun ini, asisten khusus Perdana Menteri bidang kesehatan Zafar Mirza bercuit bahwa Pakistan memiliki tingkat injeksi per kapita tertinggi di dunia dan 95% di antaranya tidak dibutuhkan.

"Ini merupakan faktor penyebab tertinggi bagi penyebaran penyakit yang menular lewat darah seperti Hepatitis C dan HIV/AIDS. Kami akan mengatasi masalah ini secara efektif," tulisnya.

 

4 dari 5 halaman

Kesadaran

Pemerintah, dengan bantuan lembaga swadaya masyarakat, juga menjalankan program peningkatan kesadaran bagi orang dengan risiko HIV.

Namun seks di luar pernikahan dan homoseksualitas ilegal di Pakistan, dan kampanye harus dilakukan tanpa ribut-ribut. Mereka juga kesulitan menjangkau sebagian besar populasi.

Kelompok berisiko merasa rentan karena label buruk yang melekat dengan penyakit itu. Borromeo mengatakan mayoritas orang di kelompok umur sasaran tidak berusaha mencari perawatan karena takut "ketahuan".

Namun Dr Mir berharap korban anak-anak di Ratodero bisa membantu menyingkirkan label buruk itu.

"Diam mengenai sesuatu tidak membuatnya jadi tidak ada. Hal itu malah akan kembali dengan lebih besar dan lebih kuat," katanya.

"Penting sekali untuk menyelesaikan wabah ini secara pantas dan cepat. Jika tidak, wabah berikutnya akan lebih besar dan mungkin akan lebih sulit untuk ditangani."

5 dari 5 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Ini 7 Cara Cegah Tertular HIV
Artikel Selanjutnya
Perjuangan OD HIV di Malang Hidup Normal dan Memiliki Anak Negatif HIV