Sukses

Kontroversi Ilmuwan Soal Perubahan Iklim: Manusia Bisa Jadi Kanibal

Liputan6.com, Jakarta - Pekan lalu, peneliti perilaku Magnus Soderlund mengajukan pertanyaan kontroversial di sebuah seminar di Swedia: Bisakah Anda bayangkan memakan daging manusia ketika hewan-hewan di muka Bumi ini musnah karena perubahan iklim?

Ketika suhu global terus meningkat, Soderlund menegaskan dalam sebuah pembicaraan di Gastro Summit di Stockholm, pertanian adalah salah satu sektor yang paling terdampak, menyebabkan sumber makanan menjadi lebih langka, yang mungkin memaksa manusia untuk mempertimbangkan sebuah alternatif.

Manusia mungkin akan melihat kanibalisme sebagai hal yang tak lagi tabu.

Soderlund, seorang pakar perilaku di Stockholm School of Economics, tidak meneliti ilmu gizi atau ekonomi pasokan makanan global. Dia mempelajari reaksi psikologis, seperti erangan yang terdengar dari para peserta seminar ketika ia bertanya: "Apakah kalian akan mempertimbangkan makan mayat manusia?"

"Saya akan memberikan jawaban pribadi: ya, saya setidaknya mencicipinya," ungkap Soderlund kepada saluran TV Swedia State TV4, dikutip dari Science Alert, Sabtu (14/9/2019).

Gagasan kanibalisme sebagai dampak dari hilangnya persediaan makanan manusia bukanlah hal baru. Pada tahun 2018, ahli evolusi biologi Richard Dawkins bertanya-tanya: "Apakah mungkin untuk menanam daging dari sel manusia yang dipanen di laboratorium?"

Seperti Soderlund, ia menyebut ide itu sebagai "uji kasus yang menarik" yang mungkin menunjukkan apakah manusia dapat mengatasi faktor "merasa jijik" untuk melakukan sesuatu yang mereka anggap bermoral, seperti mengurangi emisi gas rumah kaca.

Tapi tentu saja, kesimpulan tentang menjadi kanibal penuh dengan kontroversi.

 

2 dari 3 halaman

Budaya Berubah Jadi Barbar

Bagi Dawkins dan Soderlund, kanibalisme bisa menjadi cara untuk mempersiapkan masa depan di mana pasokan beberapa bahan makanan pokok lenyap.

Ketika bencana terkait iklim seperti banjir, kekeringan, dan panas ekstrem semakin sering terjadi dan parah, produsen pertanian akan merasa lebih sulit untuk menanam tanaman.

Dalam waktu kurang dari satu dekade, dunia bisa gagal memberi pasokan makanan bagi setiap orang di planet ini, dengan 214 triliun kalori per tahun atau sekitar 28.000 kalori per orang.

Soderlund menyarankan pengangkatan daging dari jasad manusia dan disajikan kembali untuk manusia. Sementara Dawkins memberi masukan untuk mengambil sel punca dari manusia yang hidup, membiakkannya di laboratorium, dan menumbuhkan sel dewasa tersebut menjadi daging.

Tetapi ada banyak sekali masalah etika untuk dipertimbangkan. "Gagasan bahwa kita akan dapat mengelola ini dengan cara rasional dan sistemik, sangat tidak masuk akal," ucap Genevieve Guenther, direktur End Climate Silence (organisasi nirlaba yang mengadvokasi perwakilan media perubahan iklim)

"Itu berarti seluruh budaya kita akan menjadi barbarisme," lanjutnya. Sebuah laporan baru-baru ini dari United Nations' Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menemukan seperempat dari seluruh makanan di dunia akan raib atau terbuang sia-sia.

Dengan meningkatkan cara panen, penyimpanan, pengemasan, dan pengangkutan, produsen dapat mengatasi permasalahan kekurangan makanan di waktu mendatang.

Mengurangi emisi global secara dramatis juga membantu dunia menghindari Bumi dari suhu tinggi dan kondisi cuaca yang lebih ekstrem, yang menyulitkan petani untuk menanam bahan pangan.

Laporan IPCC menemukan, cara manusia menggunakan tanah, melalui praktik-praktik seperti bertani, pertambangan, penebangan, menyumbangkan 23 persen emisi gas rumah kaca yang diproduksi manusia.

Mengurangi deforestasi dan pengolahan lahan dapat membantu menurunkan emisi ini, seperti juga dapat mengurangi konsumsi daging merah.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Habitat Hilang, Populasi Kupu-Kupu Raja di California Kian Rendah
Artikel Selanjutnya
PBB: Pengungsi yang Terkena Dampak Iklim Tak Bisa Dipaksa Pulang