Sukses

Iran Sebut Kehadiran Kapal Induk AS di Teluk Persia sebagai Target

Liputan6.com, Teheran - Eskalasi kehadiran militer Amerika Serikat di Teluk Persia "mewakili sebuah target dan peluang" bagi Iran, kata seorang perwira tinggi angkatan udara Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington - Teheran.

Militer AS baru-baru ini mengerahkan pasukan, armada kapal induk (Carrier Strike Group), pesawat pembom B-52 dan sistem rudal pertahanan udara ke Timur Tengah dalam satu langkah yang menurut para pejabat AS adalah untuk mengantisipasi "indikasi yang jelas" atas ancaman dari Iran terhadap pasukan dan kepentingan Amerika di kawasan itu.

USS Abraham Lincoln menggantikan kapal induk lain yang dirotasi keluar dari Teluk Persia bulan lalu.

"Sebuah kapal induk yang memiliki setidaknya 40 - 50 pesawat dan 6.000 pasukan yang berkumpul di dalamnya merupakan ancaman serius bagi kami di masa lalu. Tapi sekarang, itu adalah target dan ancaman telah beralih menjadi peluang," kata Amir Ali Hajizadeh, Kepala Angkatan Udara IRGC, seperti dilansir Al Jazeera, Senin (13/5/2019).

"Jika Amerika bergerak, kami akan memukul kepala mereka," tambahnya seperti dikutip dari kantor berita semi-resmi ISNA.

Sementara itu, berbicara kepada CNBC dalam sebuah wawancara yang akan disiarkan pada Senin 13 Mei 2019, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan bahwa pengerahan militer Amerika ke Teluk Persia merupakan tanggapan terhadap laporan intelijen tentang potensi serangan Iran dan bertujuan untuk mencegah mereka serta untuk dapat menanggapi jika perlu.

"Kami sudah melihat laporan itu," kata Pompeo. "Itu nyata. Tampaknya ada sesuatu yang terkini, itulah hal yang kita khawatirkan hari ini."

"Dalam hal Iran memutuskan untuk mengejar kepentingan Amerika - apakah itu di Irak atau Afghanistan atau Yaman atau tempat lain di Timur Tengah - kami siap untuk menanggapi dengan cara yang tepat," katanya, namun menambahkan "tujuan kami adalah bukan perang".

2 dari 3 halaman

Perang Psikologis

Parlemen Iran mengadakan sesi tertutup pada Minggu 12 Mei 2019 untuk membahas perkembangan di Teluk Persia.

Heshmatollah Falahatpisheh, yang mengepalai komite parlemen berpengaruh tentang keamanan nasional dan kebijakan luar negeri, mengatakan kepada kantor berita resmi IRNA bahwa Iran tidak ingin memperdalam krisis.

Dia mengatakan posisi AS akan melemah seiring waktu, dan saat ini tidak ada dasar untuk negosiasi dengan Washington DC.

Sementara itu, Mayor Jenderal Hossein Salami, yang ditunjuk sebagai Kepala IRGC bulan lalu, mengatakan kepada parlemen bahwa Amerika Serikat telah memulai perang psikologis.

"Komandan Salami, dengan perhatian pada situasi di kawasan itu, mempresentasikan analisis bahwa Amerika telah memulai perang psikologis, karena kedatangan dan kepergian militer mereka adalah hal yang normal," kata juru bicaranya Behrouz Nemati seperti dilansir Al Jazeera.

Di sisi lain, mantan pejabat militer AS punya komentar senada yang menganggap bahwa tensi di Teluk Persia tidak akan pecah menjadi konflik terbuka.

William Fallon, mantan Komandan US Central Command (komando militer AS untuk wilayah Timur Tengah) mengatakan bahwa eskalasi saat ini hanyalah keributan media semata.

"Teheran dan Washington telah bersitegang selama beberapa dekade dan tidak akan ada hasil yang serius meskipun ada retorika panas dari kedua belah pihak," kata Fallon.

"Berita yang konyol membesar-besarkan situasi di Teluk ketika faktanya itu adalah skenario yang sama secara militer seperti yang terjadi selama bertahun-tahun di antara musuh bebuyutan," katanya.

"AS telah masuk dan keluar dari Teluk selama beberapa dekade dan berkomitmen untuk membuka akses kapal yang bebas dan jelas di Teluk," kata Fallon.

3 dari 3 halaman

Risiko Nyata Tetap Ada

Robert Gates, mantan menteri pertahanan AS, mengatakan kepada CBS News bahwa kesalahan perhitungan oleh pasukan militer di Teluk Persia dapat menjadi "risiko yang sangat nyata saat ini".

Gates mengatakan, konflik antara AS dan Iran akan memiliki "konsekuensi luar biasa yang tak terduga di Timur Tengah" yang akan "sangat, sangat berbahaya".

Uni Emirat Arab mengatakan empat kapal komersial menjadi sasaran "operasi sabotase" pada hari Minggu 12 Mei 2019, tetapi tidak mengidentifikasi siapa yang bertanggung jawab.

Insiden di Teluk Oman itu terjadi ketika AS memperingatkan kapal-kapal bahwa "Iran atau proksi-nya" dapat menargetkan lalu lintas maritim di kawasan itu.

Menteri Energi Israel Yuval Steinitz mengatakan "segalanya memanas" di Teluk.

"Jika ada semacam kebakaran besar antara Iran dan Amerika Serikat, antara Iran dan tetangga-tetangganya, saya tidak mengesampingkan bahwa mereka akan mengaktifkan Hizbullah dan Islamic Jihad dari Gaza, atau bahkan bahwa mereka akan mencoba menembakkan rudal dari Iran di negara Israel," Steinitz, anggota kabinet keamanan, mengatakan kepada Ynet TV.

Loading
Artikel Selanjutnya
Teluk Persia Memanas, 4 Kapal Dagang Disabotase di Lepas Pantai Uni Emirat Arab
Artikel Selanjutnya
Pemimpin Oposisi Venezuela Minta Bantuan Militer AS untuk Menekan Maduro