Sukses

Demo Tuntut Kebijakan Iklim Lebih Baik, Ribuan Pelajar Belanda Bolos Sekolah

Liputan6.com, Den Haag - Ribuan pelajar bolos sekolah pada Kamis 7 Februari 2019, berpawai melewati gedung parlemen Belanda. Mereka menyerukan kebijakan iklim Belanda yang lebih baik.

Demonstrasi yang ramai namun damai oleh para pelajar Belanda itu menyusul protes serupa dalam beberapa minggu terakhir di negara tetangganya, Belgia, yang juga mengundang ribuan pengunjuk rasa.

Penyelenggara demo mengatakan, mereka ingin mengirim pesan kepada para politisi di Belanda yang sedang berusaha mencari cara terbaik untuk mengendalikan emisi gas rumah kaca, demikian dikutip dari laman VOA Indonesia, Sabtu (9/2/2019).

Mereka memperkirakan aksi mereka diikuti sekitar 3.000, namun ternyata yang berpartisipasi jauh lebih banyak, meski polisi tidak segera memberi perkiraan jumlah resmi.

Para pelajar dari berbagai penjuru Belanda datang dengan berdesak-desakan dalam kereta dan bus, sementara mereka yang berasal dari kota Den Haag berjalan atau mengendarai sepeda untuk berkumpul di sebuah taman sebelum berjalan melewati kota.

"Kami di sini karena kami ingin pemerintah mengambil langkah yang lebih baik dan lebih cepat untuk memperbaiki iklim," kata Maartje Bood, yang berusia 16 tahun, yang menempuh perjalanan sejauh 200 kilometer dari kota Leeuwarden untuk berpartisipasi dalam unjuk-rasa itu.

Dia dan teman-temannya memegang spanduk bertuliskan kalimat Bahasa Belanda yang artinya, "Kami ingin 11 Cities Race kembali diadakan", merujuk pada lomba maraton seluncur es yang melewati kanal-kanal yang beku di 11 kota bagian utara Belanda yang hanya diadakan pada musim dingin ketika es cukup tebal. Perlombaan terakhir diadakan tahun 1997.

Badan Penilaian Lingkungan Belanda mengatakan dalam sebuah laporan bulan lalu, pengurangan tingkat emisi sebesar 25 persen pada tahun 2020 dari kadar tahun 1990 tidak mungkin terjangkau.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

2 dari 2 halaman

Jerman Akan Stop Penggunaan Batu Bara pada 2038

Di Jerman sendiri, upaya melawan perubahan iklim sudah dimulai. Sebuah komisi yang ditunjuk pemerintah Jerman memaparkan rencana untuk menghentikan penggunaan batu bara di negara itu pada 2038.

Komisi itu -- yang terdiri dari para politisi, pakar iklim, serikat, dan tokoh industri dari kawasan batu bara -- menyetujui sebuah kompromi setelah perundingan ekstensif di bawah tekanan yang kuat pada negara dengan ekonomi terbesar di Eropa itu untuk meningkatkan upaya melawan perubahan iklim.

"Ini hari yang bersejarah," kata kepala komisi, Ronald Pofalla, setelah perundingan selama 20 jam.

Rekomendasi itu, yang melibatkan sedikitnya $45.6 miliar dana bantuan untuk negara-negara bagian penambang batu bara yang terkena dampaknya, kini harus ditinjau oleh pemerintah Jerman dan 16 negara bagian regional.

Sementara sebagian pejabat pemerintah menyambut baik laporan itu, penyedia energi RWE, yang mengelola beberapa pembangkit listrik batu bara, mengatakan tenggat 2038 itu "terlalu dini."

Meskipun memiliki reputasi sebagai negara hijau, Jerman sangat bergantung pada batu bara untuk kebutuhan energi, sebagian karena keputusan Kanselir Jerman Angela Merkel untuk menghapuskan pembangkit nuklir pada 2022 pasca bencana Fukushima pada 2011.

Puluhan Pengunjung Terjebak Kereta Gantung Sea World

Tutup Video
Artikel Selanjutnya
Eks Tangan Kanan Politikus Penghina Nabi Muhammad Masuk Islam
Artikel Selanjutnya
Gara-Gara Perubahan Iklim, Bumi Jadi Tampak Berwarna Lebih Biru?