Sukses

Jerman Siap Beri Suaka Asia Bibi, Eks Terpidana Kasus Penistaan Agama di Pakistan?

Berlin - Pemerintah Jerman dikabarkan telah setuju menerima dan memberi suaka politik kepada Asia Bibi, seorang wanita asal Pakistan yang dijatuhi hukuman mati atas dakwaan penistaan agama, namun dibebaskan Mahkamah Agung di negaranya.

Sejak divonis bebas oleh Mahkamah Agung Pakistan akhir Oktober lalu, Asia Bibi dan keluarganya dibawa dari Lahore ke tempat rahasia di Islamabad.

Putusan Mahkamah Agung Pakistan menyulut protes kalangan Islam radikal di negaranya, yang sempat meluas menjadi bentrokan dan kerusuhan. Para pemrotes menuntut agar Asia Bibi tetap dieksekusi.

Dikutip dari DW, Jumat (23/11/2018), pengacara Asia Bibi Saif-ul-Malook minggu lalu mengisyaratkan, kliennya ingin mencari suaka ke Eropa. Namun hingga saat ini, belum ada negara yang secara resmi menyatakan bersedia menerimanya.

Asia Bibi ditahan Juni 2009, setelah tetangga melaporkan bahwa dia menghina Nabi Muhammad. Setahun kemudian, pengadilan daerah menjatuhkan hukuman mati terhadapnya.

Vonis mati itu kemudian dikuatkan oleh pengadilan banding. Namun Mahkamah Pakistan membatalkan vonis tersebut dan menyatakan Asia Bibi bebas dari dakwaan penistaan agama.

Jerman Siap Menerima?

Kalangan organisasi bantuan di Jerman mengatakan kepada media, pemerintah Jerman sudah memberi persetujuan menerima Asia Bibi dan keluarganya. Jurubicara bicara organisisi bantuan Katolik "missio" Johannes Seibel mengatakan pada Rabu 21 November bahwa "Asia Bibi bisa datang ke Jerman. Itu sudah diklarifikasi".

Namun Kementerian Luar Negeri Jerman di Berlin sampai berita ini diturunkan belum mengeluarkan pernyataan atau konfimasi. Sebelumnya hanya menyatakan, Jerman melakukan kontak secara intensif dengan pemerintah Pakistan dan mitra-mitranya di Pakistan mengenai hal itu.

Menurut informasi missio, sampai kini ada beberapa tawaran untuk Asia Bibi, antara lain dari Perancis dan Kanada.

Pengacara Saif ul-Malook awal minggu ini mengatakan, belum ada tawaran konkrit untuk Asia Bibi, suami dan kedua anaknya. Saif al Malook sendiri pernah mengalami ancaman di negaranya dan sekarang bermukim di Eropa.

Kasus Asia Bibi beberapa tahun terakhir berulangkali menyebabkan bentrokan dan kerusuhan, karena massa garis keras menuntut agar dia segera dieksekusi. Gubernur Provinsi Punjab Salman Taseer, yang membela Asia Bibi, dibunuh oleh pengawalnya sendiri setahun setelah keluar vonis hukuman mati.

 

 

Simak video pilihan berikut: 

2 dari 2 halaman

Diburu Kelompok Ekstremis

John Pontifex, dari lembaga sosial Aid to the Church in Need UK (ACN), yang menyuarakan nasib Bibi sejak divonis bersalah dan dijatuhi hukuman mati pada 2010, mengatakan telah melakukan kontak intensif dengan keluarganya selama tiga pekan terakhir, di mana mereka mengaku sangat ketakutan.

"Mereka (keluarga Bibi) mengatakan kepada saya bahwa (kelompok ekstremis) mullah dilaporkan berada di lingkungan tempat tinggal mereka, pergi dari rumah ke rumah seraya menunjukkan foto-foto anggota keluarga di ponsel, mencoba memburu mereka," kata Pontifex.

"Bibi dan keluarganya harus pindah dari satu tempat ke tempat lain untuk menghindari deteksi. Terkadang mereka hanya bisa kabur setelah matahari terbenam. Mereka harus menutupi wajah mereka ketika keluar di depan umum. Mereka harus melepas rosario yang menggantung dari kaca spion mobil karena takut diserang," tambahnya.

Sementara itu, pengacara Bibi, Saiful Malook, yang melarikan diri dari Pakistan tak lama setelah putusan pengadilan mengatakan hidupnya dalam bahaya.

Dia mengatakan bahwa pekan ini pembicaraan tentang suaka terhadap keluarga Bibbi sedang berlangsung dengan beberapa negara Eropa.

"Saya harap dunia barat berusaha membantunya," kata Malook kepada para wartawan di Frankfurt.

Loading
Artikel Selanjutnya
Melihat Keindahan Taman Nasional Olympiapark di Munich
Artikel Selanjutnya
Bahaya, Jangan Lakukan Hal Ini Ketika Perut Anda Kosong