Sukses

10,18 Detik yang Mengubah Sejarah, Kemenangan Lalu Muhammad Zohri Mendunia

Liputan6.com, Jakarta - Kemenangan dramatis Lalu Muhammad Zohri dalam nomor sprint 100 meter Kejuaraan Dunia Atletik U-20 di Finlandia menggetarkan hati seluruh bangsa Indonesia.

Ia yang sama sekali tak masuk daftar favorit, berhasil mengalahkan sprinter yunior dari sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat. Bendera negeri Paman Sam yang sudah disiapkan di ujung lintasan pun urung dikibarkan.

Setelah hasil perlombaan diumumkan, Zohri yang berlari di lintasan delapan kemudian melakukan sujud syukur di arena.

Rebut medali emas di kejuaraan dunia, kondisi rumah Lalu Muhammad Zohri menarik perhatian masyarakat Indonesia. (Twitter IAAF)

Tak hanya di Indonesia, kabar kemenangan Lalu Muhammad Zohri, pemuda dari keluarga sederhana asal Lombok itu juga menghiasi media-media massa internasional.

Situs media terkemuka Inggris, www.theguardian.com memuat artikel berjudul, Indonesian sprinter who could barely afford shoes wins 100m gold.

"Rakyat Indonesia merayakan kemenangan atlet dari Pulau Lombok, yang hampir tidak mampu membeli sepatu lari tahun lalu, mengalahkan para pelari favorit dan memenangkan mahkota juara dunia lari nomor sprint yunior," demikian dikutip dari The Guardian, Sabtu (14/7/2018).

Kemenangan Zohri, seperti dikutip dari Guardian, memang tak terduga. Pemuda 18 tahun tersebut mengalahkan dua atlet Amerika Serikat, Americans Anthony Schwartz dan Eric Harrison, yang finis bersamaan dengan catatan waktu 10,22 detik.

Sementara itu, media Singapura, Channel News Asia memuat artikel berjudul Indonesian sprinter who trained barefoot hailed by nation after striking athletics gold.

Zohri diceritakan kerap berlatih lari, keliling kampung, dalam kondisi bertelanjang kaki. Alasannya, ia tak mampu membeli sepatu.

Kondisi rumah Lalu Muhammad Zohri di Dusun Karang Pangsor, Desa Pemenang Barat, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Zohri menjuarai Kejuaraan Dunia Atletik IAAF U-20 di Tampere, Finlandia. (Dok Kementerian PUPR)

Situs media Kanada, globalnews.ca juga berbagi cerita tentang latar belakang Zohri sebelum akhirnya berhasil merebut gelar juara dunia.

Dalam artikel berjudul, Indonesian athlete couldn’t afford shoes, so he trained barefoot. He just won gold, dikisahkan bahwa Zohri berasal dari keluarga yang sederhana. Ia tumbuh besar di sebuah rumah kecil yang didirikan dari papan dan bambu.

Menjuarai Kejuaraan Dunia Atletik IAAF U-20, Lalu Muhamaad Zohri dapat hadiah renovasi rumah dari Presiden Jokowi. (Instagram/Imam Nahrawi)

"Lalu Muhammad Zohri ingin menjadi pelari," demikian seperti dikutip dari Global News. "Namun, pemuda 18 tahun, bungsu dari empat bersaudara, menghadapi banyak hambatan untuk mewujudkan cita-citanya itu."

Situs media asiancorrespondent.com juga mengisahkan hal serupa dalam artikel berjudul, Indonesian sprinter wins gold and hearts in Finland. Senada, situs BenarNews memuat artikel berjudul Dirt-Poor Indonesian Sprinter Strikes Gold, Wins Nation’s Heart.

Sementara, www.sportsmax.tv, mengabarkan kemenangan Zohri dalam artikel berjudul, Indonesian makes 100m history as Jamaica's Stephens finishes seventh in Tampere.

 

Saksikan video detik-detik kemenangan Lalu Muhammad Zohri berikut ini: 

 

1 dari 2 halaman

10,8 Detik yang Mengubah Sejarah

Kemenangan Lalu Muhammad Zohri memang dramatis. Seperti dikutip dari situs International Association of Athletics Federations, www.iaaf.org, pencapaian 10,18 detik yang dicatat pemuda asal Lombok itu mengguncang dunia olahraga atletik, terutama di nomor sprint.

"10,18 detik, tepatnya, jumlah waktu yang dibutuhkan Lalu Muhammad Zohri untuk bikin keok negara adidaya (di bidang atletik) dan meraih medali emas pada nomor 100 meter di ajang IAAF World U20 Championships 2018," demikian dimuat situs IAAF. 

Catatan IAAF menyebut, kemenangan Zohri adalah pencapaian terbaik Indonesia selama 32 tahun keikutsertaannya dalam ajang tersebut.

"Sebelumnya, prestasi terbaik Indonesia adalah mencapai garis finis di posisi kedelapan dalam perempat final pada tahun 1986. "Namun, semuanya kini berubah. Berubah total."

Tak berlebihan jika IAAF menyebut, kemenangan Zohri menempatkan Indonesia dalam peta atletik dunia.

Artikel Selanjutnya
Keluarga Zohri Khawatir Perhatian Berlebihan Berdampak pada Prestasi
Artikel Selanjutnya
Pemerintah Siap Renovasi Rumah dan Bangun Rumah Baru untuk Zohri