Sukses

Papua Nugini Tetapkan Status Darurat di Provinsi Southern Highlands

Liputan6.com, Port Moresby - Pemerintah Papua Nugini mengumumkan keadaan darurat di provinsi Southern Highlands, membekukan pemerintahannya, dan mengirim pasukan ke wilayah itu untuk memulihkan ketertiban menyusul kerusuhan akibat pilkada yang pecah beberapa hari lalu.

Pekan ini, kerumunan bersenjata --yang marah atas keputusan pengadilan terhadap pemilihan gubernur setempat-- membakar pesawat terbang, menjarah gudang dan membakar gedung di Mendi, ibu kota Provinsi Southern Highlands.

Sebagai respons, pemerintah pusat mengumumkan keadaan darurat sembilan bulan di provinsi itu dan menghentikan sementara pemerintahnya, kata Perdana Menteri Papua Nugini Peter O'Neill pada Jumat, 15 Juni 2018. Demikian seperti dikutip dari Antara Sabtu (16/6/2018).

"Tindakan orang-orang yang sembrono merusak properti di Mendi telah membuat jijik bangsa," kata O'Neill.

"Polisi akan menyelidiki setiap penghasut, dan setiap orang yang terlibat dalam kerusuhan," tambahnya.

Thomas Eluh, seorang mantan polisi dan yang bertindak sebagai pengelola di provinsi tersebut, telah diberikan kekuatan darurat konstitusional.

Polisi, termasuk regu mobil, segera dikerahkan, bersama dengan penyelidik kriminal, tambah O'Neill .

Lebih dari 200 tentara Pasukan Pertahanan Papua Nugini akan diterbangkan ke Kota Mount Hagen pada Sabtu sebelum melakukan perjalanan ke Mendi, kata media Loop PNG.

Penjarah menggeledah gudang pasokan bantuan gempa selama kerusuhan Mendi, kata Barclay Tenza, juru bicara bencana provinsi.

"Mereka mengambil semua bahan makanan," katanya melalui telepon dari Port Moresby.

Banyak warga Southern Highlands, Papua Nugini masih menerima bantuan setelah gempa berkekuatan 7,5 Februari menewaskan 100 orang, menguji keuangan dan kemampuan salah satu negara termiskin di dunia itu.

 

Saksikan juga video pilihan berikut ini:

2 dari 2 halaman

Kecewa Hasil Pemilu Papua Nugini, Demonstran Bakar Pesawat

Para pendukung yang marah dari seorang kandidat yang kalah membakar sebuah pesawat penumpang di Dataran Tinggi Papua Nugini.

Para saksi mengatakan, pesawat Dash 8 yang akan meninggalkan Kota Mendi Kamis petang dihentikan dan dibakar.

Direktur Keperawatan Rumah Sakit Mendi, Anna Anda, mengatakan para pendukung calon yang kalah untuk kursi provinsi Dataran Tinggi Selatan Papua Nugini melakukan kerusuhan ketika berita tentang keputusan pengadilan tentang pemilu sampai ke mereka.

"Mereka mengamuk dan membakar semuanya, bahkan Air Niugini," katanya.

"Aku bisa melihat asap hitam naik, itu sangat mengerikan."

Pihak Air Niugini kemudian mengeluarkan pernyataan mengonfirmasi pesawatnya telah dirusak.

"A Link PNG (anak perusahaan maskapai) DHC-8 pesawat terlibat dalam kerusuhan sipil di bandara Mendi, Provinsi Dataran Tinggi Selatan hari ini menyusul keputusan petisi pemilu," kata perusahaan itu.

"Pesawat mengalami kerusakan ketika perusuh menyerbu tarmak, dan National Airports Corporation juga telah menutup bandara di Papua Nugini."

Air Niugini mengatakan, penumpang dan awak pesawat turun dari pesawat dan tidak ada yang dirugikan.

Perselisihan mengenai kursi provinsi telah menyebabkan korban jiwa di Dataran Tinggi Selatan dan serangan terhadap bisnis yang sebelumnya dimiliki oleh Perdana Menteri Peter O'Neill.

Artikel Selanjutnya
Kecewa Hasil Pemilu Papua Nugini, Demonstran Bakar Pesawat
Artikel Selanjutnya
Papua Nugini Blokir Facebook, Bagaimana dengan Indonesia?