Sukses

Dokter: Nyeri Haid Sama seperti Sakit Terkena Serangan Jantung

Liputan6.com, London - Mungkin seluruh wanita memahami bahwa sakit saat haid rasanya seperti ada seseorang yang memukul-mukul perut, di mana pada saat yang bersamaan, kita merasa ingin menangis atau marah terus-menerus.

Baru-baru ini, seorang dokter mengeluarkan sebuah fakta mencengangkan soal haid. Ia mengatakan, sakit saat datang bulan atau dismenorea, rasanya bisa sama seperti sakit terkena serangan jantung.

"Sakitnya hampir sama seperti serangan jantung," demikian ujar Profesor dari University College London, John Guillebaud, seperti dikutip dari indy100.com.

Sakit haid seperti ini dialami sekitar 1 dari 5 perempuan. Namun, banyak dokter tak menghiraukan sakit tersebut dan tak meresepkan obat pereda nyeri.

Endometriosis, penyebab kedua nyeri saat haid, diperkirakan terjadi pada 1 dari 10 perempuan. Endometriosis adalah penyakit di mana jaringan dari lapisan dalam dinding rahim atau endometrium, tumbuh di luar leher rahim.

Mereka yang mengalami endometriosis akan merasakan sakit haid yang teramat sangat, lelah, masalah pada usus dan kandung kemih, bahkan infertilitas.

Rata-rata, seorang wanita membutuhkan waktu tujuh setengah tahun hingga mereka sadar bahwa dirinya mengalami endometriosis. Hal itu disebabkan kurangnya penelitian, kesadaran, dan pilihan pengobatan yang terbatas.

Demikian juga penyebab dismenorea masih belum sepenuhnya dipahami.

Peneliti Dr Annalise Weckesser mengatakan, budaya diam saat haid menyebabkan kondisi seorang perempuan menjadi "terbengkalai" dari tindakan medis yang seharusnya dibutuhkan.

"Ada sejarah panjang di mana perempuan tak menganggap serius nyeri haid dan bahkan menulisnya sebagai histeria (gangguan mental yang timbul dari kecemasan intens). Pengetahuan perempuan muda tentang menstruasi sangat buruk," ujar Weckesser.

1 dari 2 halaman

Sakit Perut Saat Menstruasi, Penumpang Diturunkan dari Pesawat

Gara-gara kekasihnya mengeluh sakit perut, sepasang penumpang "diusir" dari pesawat Emirates. Mereka pun terkejut bukan main dengan tindakan maskapai penerbangan tersebut.

Adalah Beth Evans dan Joshua Moran yang hanya beberapa menit akan lepas landas dari bandara Birmingham untuk terbang menuju Dubai, saat mereka diperintahkan untuk meninggalkan pesawat.

Seperti dimuat Mirror.co.uk, pasangan tersebut mengatakan bahwa awak pesawat mendengar Beth mengeluh kesakitan pada perutnya karena menstruasi. Lalu interogasi pun dimulai.

Awak pesawat kemudian memutuskan bahwa Beth memerlukan pemeriksaan medis, sebelum diizinkan melanjutkan perjalanan Birmingham-Dubai selama tujuh jam. Namun, ternyata dokternya tak ada, pasangan tersebut pun terpaksa turun dari pesawat.

"Diusir karena sakit, itu adalah hal gila," ungkap Joshua memberi tahu The Sun.

Pihak Emirates mengatakan tak mau ambil risiko membiarkan Beth tetap dalam pesawat.

"Beth menangis dan merasa kesal saat ditanyai," kata Joshua.

Beth mengatakan bahwa rasa sakitnya hanya kadang-kadang saja timbul, dan dia senang akan terbang. Namun, staf Emirates mengatakan bahwa mereka tak dapat mengizinkannya melakukan perjalanan, takut kondisinya memburuk saat penerbangan.

"Para penumpang memberi tahu awak bahwa dia merasa tak nyaman dan kesakitan serta merasa tidak sehat. Kapten membuat keputusan untuk meminta bantuan medis dan menurunkan Evans agar dia bisa mendapat pertolongan," tutur seorang juru bicara maskapai tersebut mengatakan kepada The Sun.

"Kami tidak ingin membahayakan Nona Evans dengan menunda pertolongan medis, takut kondisinya memburuk selama penerbangan."