Sukses

7 Gempa Mematikan Ini Pernah Mengguncang Pulau Jawa

Liputan6.com, Jakarta - Gempa kuat mengguncang Pulau Jawa pada Jumat malam 15 Desember 2017. Dampak lindu dengan kekuatan 6,9 skala Richter tersebut menewaskan dua orang, merusak bangunan, memicu kepanikan warga di daerah pesisir yang sontak mengungsi menjauhi garis pantai.

Tak hanya berpotensi memicu tsunami, gempa juga dirasakan kuat di Jakarta, terutama di gedung-gedung tinggi, baik di perkantoran maupun rumah susun.

Bukan kali ini saja gempa mengguncang Pulau Jawa. Beberapa di antaranya bahkan menimbulkan kerusakan dalam skala massif, juga korban jiwa besar.

Gempa yang terjadi di Pulau Jawa pada masa lalu juga memicu tsunami yang menyudahi ratusan nyawa.

Berikut 7 gempa besar yang pernah mengguncang Pulai Jawa, seperti dikutip Liputan6.com dari berbagai sumber:

1 dari 8 halaman

1. Gempa Yogyakarta, 2006

Lepas dini hari di Yogyakarta, Sabtu Wage 27 Mei 2006. Matahari telah terbit menyinari pagi, orang-orang sudah pulang dari salat subuh berjamaah di masjid, ibu-ibu sibuk di dapur, lainnya bersiap nyambut gawe atau bekerja, tapi tak sedikit yang masih terlelap di ranjang.

Saat jarum jam menunjuk ke angka 05.53 WIB, bumi berguncang hebat. Gempa 'hanya' 57 detik, namun dampaknya luar biasa.

"Aku terjatuh dari tempat tidur akibat guncangan dahsyat. Furnitur berjatuhan, puing bangunan mulai ambrol di kamar hotel tempatku berada. Orang-orang berlarian panik, sebagian mengandalkan sprei untuk menutupi tubuh," kata Brook Weisman-Ross, saksi gempa, seperti dikutip dari BBC.

Kekuatannya mencapai 5,9 skala Ritcher, atau menurut data Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), magnitude-nya 6,3 SR dengan kedalaman 7,5 km. Gempa terjadi di dekat permukaan di sepanjang patahan di Lempeng Sunda, sekitar 20 km selatan-tenggara Yogyakarta. Lindu tak sampai memicu tsunami.

Akibatnya, nelangsa. Rumah-rumah di wilayah selatan rata dengan tanah, memerangkap orang-orang -- terutama anak-anak dan lansia -- yang ada di dalamnya.

Banyak manusia bergelimpangan di pinggir jalan. Luka, lainnya tak lagi bernyawa. Korban terbanyak jauh di wilayah Bantul. Pada hari terjadinya gempa, setidaknya 3.000 nyawa melayang di seluruh Daerah Istimewa Yogyakarta -- dari total 6.234 hidup manusia yang terampas.

Para korban dilarikan ke rumah sakit, menggunakan bus, mobil, atau berjalan kaki. Ambulans terbatas, juga dokter dan perawat yang jumlahnya tak sebanding dengan mereka yang datang.

Gempa susulan memaksa paramedis memindahkan ruang perawatan di halaman, di tengah hujan yang kerap mengguyur.

Jaringan listrik dan komunikasi terputus, warga takut kembali ke rumah. Sebagian karena isu tsunami yang dihembuskan pihak tak bertanggung jawab. Mereka mengungsi ke masjid, gereja, dan rumah sakit. Jumlah pengungsi mencapai 200.000 orang.

2 dari 8 halaman

2. Gempa Tasikmalaya, 2009

Gempa dengan kekuatan 7,3 skala Richter mengguncang Tasikmalaya pada Rabu 2 September 2009 pukul 14.55 WIB.

Gempa tektonik tersebut terjadi akibat tumbukan lempeng Indo-Australia terhadap lempeng Eurasia. Lindu memicu kerusakan di sekitar episentrum.

Salah satu daerah terdampak paling parah adalah Kabupaten Cianjur, di mana tanah longsor yang dipicu gempa menewaskan 40 orang.

Sejumlah orang juga dikabarkan meninggal dunia akibat tertimpa puing-puing bangunan yang roboh di Tasikmalaya dan Sukabumi.

"Rumah-rumah rata dengan tanah... Hanya yang terbuat dari kayu yang masih bediri. Banyak penduduk desa terluka, berlumuran darah," kata salah satu warga desa di Tasikmalaya.

Gedung-gedung tinggi di Jakarta -- yang berjarak 200 km dari pusat lindu -- pun bergoyang hebat karenanya.

Ribuan orang di ibu kota berlarian keluar dari gedung-gedung tinggi juga pusat perbelanjaan.

"Saat itu, saya menuju ke ruang rapat. Saya langsung berlindung di bawah meja. Guncangan terjadi sekitar semenit. Sungguh menakutkan," kata Jonathan yang kala itu berada di lantai 28 sebuah gedung seperti dikutip dari BBC.

"Rasanya seperti berada di dalam perahu di tengah air yang bergolak. Gedung bergoyang. Pintu-pintu terbuka dan tertutup, buku-buku berjatuhan dari rak." Setidaknya 27 orang cedera akibat guncangan gempa di ibu kota.

Total, bempa mengakibatkan 80 orang meninggal dunia, 47 lainnya hilang, sementara 1.250 warga luka-luka.

 

3 dari 8 halaman

3. Gempa dan Tsunami Pangandaran, 2006

Pada 17 Juli 2006 sekitar pukul 15.19, gempa dengan kekuatan 7,7 SR mengguncang Pangandaran dan wilayah pesisir di selatan Pulau Jawa.

Lindu besar itu memicu terjadinya tsunami. Lebih dari 600 orang tewas dalam musibah itu.

Pangandaran menjadi wilayah terdampak terparah. Menurut John Minogue, warga Pangandaran, tsunami terjadi sekitar 15 menit usai gempa.

Luapan air menyebabkan banyak rumah warga di sepanjang pantai barat Pangandaran hancur. "Saya juga melihat ada beberapa orang di pinggir pantai yang meninggal," kata dia.

Hal senada diungkapkan Kirsten, ibu rumah tangga yang tinggal sekitar 500 meter dari pinggir pantai Pangandaran.

Perempuan itu mengaku melihat sendiri warga yang terlempar dan dibawa air laut saat tsunami datang. "Di sini semuanya masih panik, warga sibuk mencari sanak saudaranya yang hilang," tutur Kirsten saat itu.

4 dari 8 halaman

4. Gempa Jakarta, 1699

Pada 5 Januari 1699, Batavia -- cikal bakal Jakarta diguncang gempa hebat.

"Lindu berlangsung sangat kencang dan kuat, tak pernah hal seperti itu terjadi sebelumnya. Guncangan berlangsung selama tiga perempat jam," seperti dikutip dari makalah Indonesia’s Historical Earthquakes dari Geoscience Australia.

Gempa tersebut merenggut setidaknya 28 nyawa manusia. Sebanyak 21 rumah dan 29 lumbung hancur.

Saat itu, Gunung Salak meletus. Dari puncaknya setinggi dua ribu meter, gunung itu menyemburkan abu dan batu. Ribuan kubik lumpur muncrat. Puluhan ribu pohon tumbang, menyumbat aliran Sungai Ciliwung, membekap kali dan tanggul di Batavia.

Banjir lumpur tak terelakkan. Oud Batavia mendadak menjadi rawa.

Bencana itu dicatat Sir Thomas Stamford Raffles dalam bukunya History of Java. "Gempa 1699 memuntahkan lumpur dari perut bumi. Lumpur itu menutup aliran sungai, menyebabkan kondisi lingkungan yang tak sehat kian parah.”

Makalah "Historical Evidence for Major Tsunamis in the Java Subduction Zone" dari Asia Research Institute juga menggambarkan kejadian gempa itu. Pada 5 Januari 1699, Batavia mengalami gempa yang tak pernah terjadi sebelumnya, yang tak pernah dibayangkan.

Kala itu, sejumlah guncangan terjadi selama tiga perempat jam hingga satu jam. Juga beberapa hari sesudahnya. Dilaporkan 28 orang tewas, 49 gedung batu nan kokoh hancur, hampir semua rumah mengalami kerusakan.

Apa penyebab terjadinya gempa tak diketahui pasti. Diduga, pusat gempa saat itu ada di selatan Batavia, gempa seismik.

Namun, beberapa orang menghubung-hubungkannya dengan letusan Gunung Salak. Hingga saat ini apa penyebab pasti gempa kala itu masih jadi misteri.

5 dari 8 halaman

5. Gempa Bumi dan Tsunami Jawa Timur, 1994

Pada 3 Juni 1994, gempa dengan kekuatan mencapai skala Richter 7,8 memicu gelombang tsunami di pantai selatan Jawa Timur.

Lindu terjadi akibat persegeseran gempa tektonik di Samudra Hindia. Gelombang gergasi yang menerjang liar mengakibatkan kerusakan total di pemukiman pesisir.

Daerah-daerah pesisir selatan di Kabupaten Banyuwangi seperti Pantai Plengkung, Pantai Pancer dan Pantai Rajegwesi rata dengan tanah. Korban meninggal diperkiraan mencapai 215 jiwa.

Salah satu faktor jatuhnya korban jiwa adalah karena peristiwa tersebut terjadi pada dini hari di mana banyak warga yang masih tertidur lelap.

Dampak tsunami juga dialami  pada para peselancar yang tinggal di bibir Pantai Plengkung. Seorang peselancar bernama John Philbin berada di Plengkung pada malam terjadinya tsunami. 

"Saat gemuruh makin keras, saya masih duduk di dalam kamar saya, dan tiba-tiba air datang menghantam gubukku," kata dia, seperti dikutip dari situs Wikipedia.

Peselancar lain bernama Richie Lovett mengaku, terjangan tsunami seperti "ditabrak kereta api dengan kecepatan penuh".

Pascatsunami, Pemerintah Banyuwangi mengeluarkan kebijakan untuk tidak mendirikan pemukiman dalam  jarak 1 km di garis pantai. 

6 dari 8 halaman

6. Gempa Jawa, 1943

Pada 23 Juli 1943, gempa dengan kekuatan 7 skala Richter mengguncang Jawa Tengah dan Yogyakarta. Kala itu Indonesia masih di bawah penjajahan Jepang. 

Lindu menyebabkan 213 orang tewas dan lebih dari 3.900 lainnya cedera. Lebih dari 12.600 rumah roboh.

Gempa ini menyebabkan kerusakan di Jawa Tengah, Garut, dan Surakarta.

Di wilayah Bantul, sebanyak 31 orang tewas, 564 orang luka-luka, dan 2.682 rumah roboh. 

7 dari 8 halaman

7. Gempa Yogyakarta, 1867

Pada 10 Juni 1867, gempa besar mengguncang Jawa. Koran lawas koleksi National Library of Australia menyebut, korban jiwa kala itu mencapai 300 orang. 

Lindu memicu kerusakan parah di sejumlah Kabupaten, Cheribon (Cirebon), Pekaiongan (Pekalongan), Banjoeuas (Banyumas), Bagelen, Samnarange (Semarang), Djokjdokarta (Yogyakarta), dan Sourakarta (Surakarta). Bahkan Batavia merasakan kuatnya guncangan. 

Perkebunan nila dan pabrik gula rusak parah di Yogyakarta, demikian pula dengan rumah-rumah dan fasilitas militer di sana. Namun, di sejumlah lokasi lainnya kerusakan tak separah itu. 

"Sejumlah warga pribumi dan Eropa menjadi korban jiwa," demikian cuplikan koran lawas tersebut.

Tak hanya nyawa manusia, kematian juga dialami hewan-hewan ternak seperti kerbau. Sejumlah bangunan seperti keraton dan Taman Sari juga hancur karenanya. (Ein)

 

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Artikel Selanjutnya
Warga Berhamburan Digoncang Gempa Susulan Banjarnegara, 3 Orang Terluka
Artikel Selanjutnya
Keunikan Gempa Banjarnegara