Sukses

Diam-Diam Korea Utara Merenovasi 'Hotel Malapetaka'

Liputan6.com, Pyongyang - Pada tahun 1980-an, rezim Korea Utara berniat membangun sebuah hotel 'terbesar, tertinggi, dan termegah di dunia'.

Namun, pembangunan hotel yang diberi nama Ryugyong itu terpaksa dihentikan saat Korut mengalami krisis ekonomi pada tahun 1990-an.

Bangunan mirip piramida raksasa bergaya futuristik yang terdiri atas 105 lantai tersebut mangkrak dalam waktu lama dan hingga kini belum dihuni.

Alih-alih jadi monumen kebanggaan Korut, Ryugyong bahkan pernah dinobatkan sebagai "Gedung Paling Buruk dalam Sejarah Manusia" oleh Majalah Esquire pada tahun 2008.

Bangunan itu bahkan dijuluki 'Hotel of Doom' atau 'Hotel Malapetaka'.

Belakangan, diam-diam Korut merenovasi Ryugyong -- yang hingga saat ini menjadi bangunan tertinggi di dunia yang tak dihuni selama 30 tahun setelah konstruksi dimulai.

Seperti dikutip News.com.au, Senin (31/7/2017), sebelumnya dinding pembatas didirikan di sekitar hotel, agar orang-orang tak mendekat.

Pekan lalu, saat Korut memperingati gencatan senjata Perang Korea -- yang mereka klaim sebagai momentum kemenangan Pyongyang -- pembatas tersebut disingkirkan. Tersingkaplah dua jalan baru yang mengarah ke hotel yang memiliki 3.000 kamar itu.

Foto yang diambil pada 28 Juli 2017 menunjukkan orang-orang lewat di depan dua jalan masuk menuju Hotel Ryugyong di Korea Utara. (AP)

Di tengahnya terdapat slogan merah propaganda yang menyebut Korut sebagai kekuatan roket terkemuka dunia.

Belum jelas apakah proyek renovasi tersebut berarti bahwa bangunan itu akan digunakan dalam waktu dekat.

Rumor mulai berseliweran akhir tahun lalu, yang menyebut bahwa hotel raksasa itu akan segera menerima tamu perdananya -- sejak jendela-jendela kaca dan sebuah menara telekomunikasi melengkapi bangunan itu.

Dalam video yang diperoleh situs berita NK News, yang berbasis di Amerika Serikat, cahaya lampu tampak di dua lantai hotel pada Desember 2016 -- yang menunjukkan koneksi listrik yang stabil ke titik yang paling tinggi dari bangunan.

Slogan propaganda terpampang di antara dua jalan masuk menuju Hotel Ryugyong di Korea Utara. (AP)

Pada saat bersamaan, perusahaan pengembang Mesir Orascom menerbangkan para eksekutifnya ke Pyongyang, untuk membicarakan masa depan hotel tersebut.

Orascom adalah pemegang saham mayoritas di perusahaan penyedia jaringan telekomunikasi Korut, Koryolink.

Orascom juga berjasa menambahkan kaca pada bangunan Hotel Ryugyong pada 2008 -- sebagai bagian dari kesepakatan kerja sama telekomunikasi bernilai US$ 400 juta.

Pembangunan Ryugyong sejauh ini telah menelan biaya fantastis, senilai US$ 595 juta. Meski mahal, sejumlah masalah konstruksi timbul, beberapa bahkan dianggap 'tak bisa diperbaiki' termasuk pada ruang luncur sangkar lift dan beton.

Kondisi Hotel Ryugyong di Korea Utara pada 2012, jauh dari rampung meski dibangun sejak 1987. (AP)

"Dengan jumlah penduduk Pyongyang antara 2,5 juta sampai 3,8 juta, Hotel Ryugyong adalah sebuah kegagalan dalam skala besar," demikian diungkap Esquire pada tahun 2008.

Konstruksi Ryugyong dimulai pada tahun 1987, pada masa kepemimpinan Kim Il-sung. Pemimpin yang dinobatkan sebagai 'presiden abadi' Korut itu berniat memikat lebih banyak wisatawan ke negaranya.

Namun, keruntuhan Uni Soviet berdampak langsung pada pembangunan hotel itu yang dihentikan pada 1992 -- seiring mandeknya bantuan pendanaan dari Moskow. Baru dekade berikutnya proses konstruksi dilanjutkan. 

Meski belakangan tampak megah dari luar, dengan penutup kacanya, tak ada yang bisa memastikan kondisi di dalam Ryugyong. Pun tiada yang bisa memastikan kapan hotel itu siap menerima tamu. 

Uji coba rudal balistik yang dilakukan Korea Utara (AFP)

Sementara itu, di tengah eskalasi ketegangan, AS menerbangkan dua pembom supersonik di atas Semenanjung Korea pada hari Minggu 30 Juli 2017, dalam rangka unjuk kekuatan terhadap Korea Utara -- pasca uji coba rudal balistik antarbenua yang dilakukan Pyongyang -- di mana rezim Kim Jong-un mengklaim seluruh wilayah Negeri Paman Sam ada dalam jangkauan misilnya.

AS juga mengaku sukses melakukan pengujian sistem pertahanan rudal yang berlokasi di Alaska -- untuk merespon ulah Korea Utara

Saksikan juga video menarik berikut ini: 

Loading