Sukses

Mirip Keris Sakti Jawa, Belati Firaun Mesir Dibuat dari Meteorit

Liputan6.com, London - Pada masa lalu, para empu dari masa Jawa Kuno menggunakan material logam dalam meteorit untuk membuat keris-keris yang paling sakti mandraguna. Ternyata, Firaun Tutankhamun dari era Mesir Kuno lebih dulu membuat belati dari bahan yang berasal dari angkasa luar itu.

Suatu penelitian terkini memastikan bahwa bahan besi dari salah satu belati yang ada dalam makam Tutankhamun, bersama dengan sejumlah artefak berharga lain dari masa Mesir Kuno, berasal dari luar angkasa. Bahan itu tiba di Bumi dalam bentuk meteorit.

Dikutip dari Ancient Origins pada Rabu (1/6/2016), laporan ABC.es mengatakan bahwa penelitian tentang hal itu dilakukan oleh tim ilmuwan yang berasal dari Politeknik Milan dan Turin, Universitas Pisa, Museum Mesir di Kota Kairo, CNR, Universitas Fayoum, dan perusahaan XGlab. 

Selama berpuluh tahun lamanya, para ahli arkeologi menduga bahwa besi yang digunakan selama kekuasaan dinasti Kerajaan Baru dan sebelumnya mungkin berasal dari meteorit, tapi belum pernah dipastikan hingga sekarang.

Pada 2014, The Guardian memuat penelitian oleh Diane Johnson dari Open University dan Joyce Tyldesley dari University of Manchester. Mereka memeriksa sejumlah artefak yang ditemukan di pemakaman Gerzeh, sejauh 70 km di selatan Kairo. Artefak-artefak itu bertarikh dari 3600 SM hingga 3350 SM.

Pemakaman untuk seorang pria itu berisi pot gading, harpun tembaga, manik-manik terbuat dari emas dan besi, dan sejumlah benda lainnya. Ada beberapa contoh langka artefak besi yang juga digali dari beberapa tempat lain. Contoh yang paling mencengangkan ditemukan dalam makam Tutankhamun, termasuk sebilah belati dan jimat besi pada gelang emas.

Johnson dan Tyledesley menggunakan mikroskop elektron dan CT sinar-X mikro untuk memeriksa permukaan artefak-artefak tersebut. Mereka juga memeriksa manik-manik besi dari makam Gerzeh, hingga terungkaplah bahwa struktur dan kimia besinya diduga berasal dari meteorit.

Penelitan terkini membuktikan bahwa Johnson dan Tyldesley memang benar. Komposisi besi pada belati Tutankhamun mengandung nikel dan kobalt, yang lazim ditemukan pada meteorit.

Manik-manik besi dari Gerzeh mengandung bahan-bahan nikel dan kobalt yang lazim ada pada meteorit. (Sumber Open University dan University of Manchester)

Bukan hanya itu, penelaahan manik-manik besi berusia 5.000 tahun dari Gerzeh membenarkan bahwa, pada masa Dinasti ke-18, bangsa Mesir Kuno telah maju dalam pengolahan besi yang berasal dari meteorit.

Sementara, Zaman Besi pada era Mesir Kuno diduga baru dimulai pada 600 SM.

Menurut para penulis penelitian, "Perihal asal muasal besi Mesir Kuno, entah dari angkasa luar ataupun Bumi, serta masa ketika penggunaannya menjadi semakin lazim, telah menjadi isu yang ramai dan bisa diperselisihkan."

"Bukti-buktinya didapat dari banyak area, termasuk arsitektur, bahasa, dan kepercayaan."

Para peneliti menduga bahwa besi meteorit itu kemungkinan sangat penting dalam budaya dan kepercayaan Mesir. Besi untuk belati dari makam Tutankhamun diyakini berasal dari salah satu meteorit yang jatuh di padang pasir.

Pada masa Mesir Kuno, orang baru mulai membuat perhiasan sebelum kira-kira 4000 SM. Tidak diketahui kapan mereka mulai menggunakan besi meteorit, tapi sepertinya orang-orang pada zaman kuno di berbagai bagian dunia juga memuja bebatuan yang berasal dari langit.

Struktur zat besi yang sama terungkap pada dua bilah belati Tiongkok yang bertarikh 1000 SM dan pada manik-manik besi Pribumi Amerika bertarikh 400 SM yang ditemukan di situs pemakaman Hopewell di Illinois.

Merujuk kepada laporan Liz Leafloor melalui Ancient Origins, "Di Bumi ini, meteorit sudah lama menjadi kekaguman manusia. Manusia purba terpana sekaligus takut kepada kejadian-kejadian yang dianggap tak dimengerti di angkasa."

"Sekarang ini, ilmu pengetahuan modern mampu menjelaskan tentang hujan meteor, petir dan badai, cahaya aurora, serta gerhana yang telah menjadi inspirasi mitos-mitos, agama-agama, dan legenda-legenda. Pada zaman kuno, meteorit-meteorit dianggap sebagai pesan-pesan dari para dewa, atau pertanda-pertanda kuat."

Penyembahan bebatuan angkasa berlanjut bahkan hingga kehadiran meteorit-meteorit modern. Suatu 'Gereja Meteorit' didirikan di kota Chelyabinsk setelah sebuah meteor mengguncang kawasan di Rusia itu pada 2013 hingga mencederai lebih dari 1.500 orang.

Meteorit merupakan benda penting bagi agama-agama dan budaya-budaya dalam banyak peradaban. Bangsa Yunani Kuno dan Romawi Kuno percaya bahwa meteorit adalah hadiah dari para dewa.

Pada masa Yunani Kuno, sejumlah meteorit dipajang dalam kuil Dewa Apollo di kota Delphi dan menjadi obyek pemujaan. Bahkan, batu Hajar Aswad di Mekah juga sempat diduga sebagai meteorit -- meski belum ada bukti sahih yang mendukung anggapan itu.

Meteorit Hoba adalah meteorit terbesar yang dikenal di Bumi, sekaligus sebagai bentukan alamiah gumpalan besi di planet ini. Nama meteorit ini berasal dari nama pertanian Hoba Barat di Grootfontein, Namibia. Meteorit ini ditemukan pada 1920 dan belum pern