Sukses

2-4-1962: Rebutan Falklands Islands, Argentina Invasi Inggris

Liputan6.com, Jakarta - Sejarah mencatat pada 2 April 1962, Argentina menginvasi atau melakukan aksi militer di wilayah Inggris, Falklands Islands di Perairan Atlantik Selatan. Wilayah ini telah menjadi sengketa sejak tahun 1833 yang diperebutkan kedua negara.

Dalam operasi bertajuk 'Operation Rosario', seperti dimuat BBC on This Day, Argentina merebut dan mengklaim kawasan tersebut secara sepihak langsung menancapkan benderanya di Ibukota Falklands, Port Stanley.

Kepala Angkatan Bersenjata Junta Militer Argentina Leopoldo Galtieri menyatakan pengambilalihan dan menamakan wilayah tersebut sebagai "Las Malvinas". "Tak ada opsi lain selain langkah militer ini," ujar dia.

Invasi ini dilakukan setelah berbulan-bulan sebelumnya mencuat isu perebutan Falklands Island, dan menegangnya hubungan Argentina dan Inggris.

 



Sebelum bergerak menduduki Falklands Island, Laksamana Jorge Anaya telah menghubungi Gubernur Falklands Island Inggris Rex Hunt untuk meminta agar Negara Kerajaan tersebut menyerah.

Namun Inggris menolak dan sekitar 80 prajurit Kerajaan Inggris disiagakan di lokasi strategis dan sejumlah warga setempat dievakuasi. Perebutan yang dilakukan Argentina pun terjadi. 3.000 tentara Argentina menyerbu Falklands Island

Satu tentara Argentina tewas akibat bentrokan tersebut. Sementara, Gubernur Rex Hunt memerintahkan anak buahnya, para tentara Inggris untuk menyerah.

Pemerintah Inggris langsung memutus hubungan diplomatik dengan Argentina dan mulai menyusun rencana baru untuk merebut kembali Falklands Island.

Selain Falklands Island, tentara Argentina juga menancapkan bendera di South Georgia, sebelah timur laut Falklands Island.

Pendudukan Argentina ini tak berlangsung lama. Inggris menurunkan pasukannya di Falklands Island hingga terjadi bentrokan Pada 14 Juni 1962, Inggris berhasil merebut kembali Falklands Island setelah komandan Argentina menyerah.

Akibat dari perang perebutan wilayah ini, total 655 orang dari Argentina dan 255 orang Inggris tewas. Sebagian besar dari korban jiwa adalah tentara yang saat itu berada di kapal perang.