Sukses

Relix Band, Band TKI yang Raih Kesuksesan di Negeri Orang

Liputan6.com, Jakarta - Mengalami tindak kekerasan, terbatasnya lowongan kerja, tidak digaji adalah beberapa masalah utama yang sering terjadi pada Tenaga Kerja Indonesia (TKI) atau Tenaga Kerja Asing (TKA) di luar negeri.

Namun di luar semua itu, tak sedikit dari para TKI yang nasibnya jauh lebih beruntung.

Seperti kelima pria ini contohnya. Dengan keterampilan bermusik yang dimiliki, kelima buruh imigran asal Indonesia ini berhasil memberikan warna musik baru di Taiwan.

Dengan keterampilan bermusik yang dimiliki, kelima buruh imigran asal Indonesia ini berhasil mewarnai belantika musik negeri Taiwan.(magimg.chinayes.com)

Relix band, terdiri dari Haris pada vocal, Dody pada drum, Vicky pada gitar, Henky pada Keyboard, dan Tian pada bass. Band ini, seperti dilansir dari majalah Pesona Taiwan, Jumat (28/1/2016), terbentuk sejak 2006 di Taiwan dan berawal dari minat yang sama kelima anggotanya dalam bidang musik.

"Relix diambil dari kata Relic, dengan mengubah huruf terakhir c menjadi x. Dengan begitu terasa lebih keren," kata Haris sat ditanya asal muasal nama grupnya.

"Relic sendiri memiki arti peninggalan sejarah, barang peninggalan, barang pusaka dalam peninggalan barang kuno, dan seringkali tersembunyi semangat humanisme dan waktu," imbuh Haris sang vokalis.

Harapannya dengan nama Relix, para anggotanya dapat mewariskan semangat bermusik pada bandnya.

Relix band mulai dikenal saat melakukan berbagai pertunjukkan di beberapa tempat di Taipei City. salah satunya di aula serba guna Stasiun Kereta Api Taipei pada pertengahan Juli 2015 lalu. Dengan membawakan lagu-lagu ciptaan sendiri mereka berhasil mengibur puluhan ribu pekerja imigran lain yang saat itu tengah merayakan Lebaran bersama.

Harapannya dengan nama Relix, para anggotanya dapat mewariskan semangat bermusik pada bandnya. (news.pchome.com.tw)

Tak jarang grup yang digawangi Haris pada vokal ini juga kerap menjadi band pembuka bila ada penyanyi tanah air yang diundang ke Taiwan. Sebut saja si Ratu Goyang Nge-bor Inul Daratista.

Saat undangan pentas atau manggung mulai banyak berdatangan, grup band yang terdiri dari 5 laki-laki ini sering menghadapi kesulitan saat pada anggotanya yang masa kontrak kerjanya telah selesai.

"Proses pengajuan permohonan untuk kembali bekerja ke Taiwan memerlukan waktu. Ketika kekurangan pemain, hanya dapat  meminta teman untuk menggantikan," jelas Atik sang manajer sekaligus  istri dari Dody salah satu anggota band.

Meskipun waktu kerja para TKA telah diperpanjang, namun perubahan anggota merupakan situasi yang sering dihadapi oleh Relix band.

Selain itu, biaya yang dikeluarkan untuk sewa studio rekaman pun tidak sedikit. Per jamnya mereka harus mengelurkan 530 New Taiwan Dollar atau sekitar Rp 145 ribu.

Kendati demikian, hal ini tidak menyurutkan mimpi mereka untuk berhasil di bidang musik yang sangat dicintainya. Agar dapat berinteraksi dengan para penggemarnya, band yang menggabungkan aliran musik pop, rock dangdut, dan blues ini juga membuat CD dan DVD 'Waktu" dengan biaya sendiri, membuat T-shirt khusus dengan biaya sendiri untuk dibagikan kepada anggota komunitasnya, dan banyak lagi. 

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Tutup Video