Cara Mengatasi Kejang pada Anak dengan Pertolongan Pertama yang Benar

Pahami langkah pertolongan pertama secara tepat agar dapat memberikan penanganan yang lebih aman sekaligus menenangkan ketika menghadapi situasi darurat ini.

Diterbitkan 09 September 2025, 17:01 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Kejang pada anak sering kali membuat orang tua panik karena terjadi secara tiba-tiba dan tampak menakutkan. Kondisi ini bisa dipicu oleh berbagai hal, seperti demam tinggi, infeksi, atau faktor medis tertentu. Jika tidak ditangani dengan tepat, kejang dapat membahayakan anak, baik secara fisik maupun emosional. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk mengetahui langkah pertolongan pertama yang benar agar kondisi anak bisa lebih cepat tertangani sebelum mendapat penanganan medis.

Sayangnya, tidak semua orang tua memahami apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan saat anak mengalami kejang. Beberapa tindakan yang keliru justru bisa memperburuk keadaan, misalnya memaksa memasukkan benda ke dalam mulut anak atau menggendongnya dengan cara yang salah. Dengan memahami langkah-langkah pertolongan pertama secara tepat, orang tua dapat memberikan penanganan yang lebih aman sekaligus menenangkan diri ketika menghadapi situasi darurat ini.

Apa itu Kejang pada Anak?

Kejang pada anak adalah kondisi di mana terjadi aktivitas listrik yang tidak normal di otak, menyebabkan perubahan mendadak pada gerakan, perilaku, atau kesadaran anak. Mengutip situs resmi RSUD Cabangbungin, kejang terjadi ketika otak mengalami aktivitas listrik yang tidak normal, yang menyebabkan tubuh mengalami gerakan tiba-tiba, kaku, atau kedutan. Kejang pada anak bisa disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk demam, gangguan neurologis, cedera otak, dan lain-lain. Kejang dapat berlangsung selama beberapa detik hingga beberapa menit dan memiliki berbagai bentuk, dari gerakan tubuh yang tidak terkontrol hingga tatapan kosong.

Kejang pada anak dibagi menjadi dua jenis utama:

- Kejang demam: Terjadi pada anak berusia 6 bulan hingga 5 tahun akibat kenaikan suhu tubuh secara mendadak.

- Kejang non-demam: Dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti epilepsi, cedera kepala, atau gangguan metabolik.

Penyebab Kejang pada Anak

Beberapa penyebab umum kejang pada anak meliputi:

- Demam tinggi (febrile seizures)

- Epilepsi

- Infeksi otak (meningitis atau ensefalitis)

- Cedera kepala

- Ketidakseimbangan elektrolit

- Gangguan metabolik

- Tumor otak

- Reaksi terhadap obat-obatan tertentu

Penting untuk diingat bahwa tidak semua anak rentan mengalami kejang. Faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya kejang meliputi riwayat keluarga dengan kejang demam, demam tinggi, riwayat berat badan lahir rendah, kelahiran prematur, dan keterlambatan tumbuh kembang.

Gejala Kejang pada Anak

Mengenali gejala kejang pada anak sangat penting agar orang tua dapat bertindak cepat. Beberapa gejala umum kejang pada anak meliputi:

- Gerakan tubuh yang tidak terkontrol atau kaku

- Mata berputar atau tatapan kosong

- Kehilangan kesadaran

- Mulut berbusa atau mengeluarkan air liur berlebihan

- Perubahan warna kulit (pucat atau kebiruan)

- Inkontinensia (tidak dapat menahan buang air kecil atau besar)

- Kebingungan atau disorientasi setelah kejang

Mnegutip situs resmi Universitas Airlangga, secara khusus anak yang mengalami kejang demam ditandai dengan gejala sebagai berikut:

- Kenaikan suhu tubuh secara drastis hingga lebih dari 38° Celcius.

- Berkeringat secara berlebihan.

- Tangan dan kaki gemetar, serta mengalami kejang.

- Buang air kecil tiba-tiba dan bola mata berputar ke atas.

- Tidak merespons komunikasi, seperti tidak menjawab saat diajak bicara.

- Pingsan atau kehilangan kesadaran, terutama setelah kejang.

Penting untuk mencatat durasi dan karakteristik kejang yang dialami anak, karena informasi ini akan sangat berguna bagi dokter dalam mendiagnosis dan merencanakan perawatan.

Cara Mengatasi Kejang pada Anak

Ketika anak mengalami kejang, tindakan cepat dan tepat sangat penting untuk menjaga keselamatan mereka. Berikut langkah-langkah yang dapat Anda lakukan:

  1. Tetap tenang. Kepanikan dapat menghambat tindakan yang efektif.
  2. Perhatikan waktu. Catat kapan kejang dimulai dan berakhir.
  3. Lindungi anak dari cedera. Pindahkan benda-benda berbahaya di sekitarnya.
  4. Posisikan anak dengan aman. Baringkan anak miring ke satu sisi untuk mencegah tersedak.
  5. Longgarkan pakaian di sekitar leher.
  6. Jangan memasukkan apapun ke dalam mulut anak.
  7. Jangan menahan gerakan anak saat kejang.
  8. Tetap bersama anak hingga kejang berhenti dan kesadaran pulih.
  9. Berikan anak waktu untuk beristirahat setelah kejang.

Jika kejang berlangsung lebih dari 5 menit atau anak mengalami kesulitan bernapas, segera hubungi bantuan medis darurat.

Penanganan Medis untuk Kejang pada Anak

Setelah memberikan pertolongan pertama, penting untuk membawa anak ke dokter untuk evaluasi lebih lanjut. Dokter akan melakukan pemeriksaan menyeluruh, yang mungkin meliputi:

- Pemeriksaan fisik

- Tes darah untuk memeriksa infeksi atau ketidakseimbangan elektrolit

- EEG (elektroensefalogram) untuk memeriksa aktivitas listrik otak

- Pencitraan otak seperti CT scan atau MRI jika diperlukan

Berdasarkan hasil pemeriksaan, dokter akan menentukan rencana pengobatan yang sesuai. Ini mungkin meliputi:

- Obat anti-kejang untuk mencegah kejang berulang

- Pengobatan untuk mengatasi penyebab yang mendasari (misalnya, antibiotik untuk infeksi)

- Edukasi kepada orang tua tentang manajemen kejang di rumah

Pencegahan Kejang pada Anak

Meskipun tidak semua kejang dapat dicegah, ada beberapa langkah yang dapat Anda ambil untuk mengurangi risiko:

- Kontrol demam dengan tepat menggunakan obat penurun panas sesuai anjuran dokter

- Pastikan anak mendapatkan cukup istirahat dan tidur

- Jaga pola makan sehat dan seimbang

- Hindari pemicu kejang yang diketahui (misalnya, cahaya berkedip untuk anak dengan epilepsi fotosensitif)

- Ikuti jadwal vaksinasi yang direkomendasikan

- Gunakan peralatan keselamatan saat berolahraga atau berkendara untuk mencegah cedera kepala

Mitos dan Fakta Seputar Kejang pada Anak

Mitos: Anak yang kejang bisa menelan lidahnya.

Fakta: Ini tidak mungkin terjadi. Jangan mencoba memasukkan apapun ke dalam mulut anak saat kejang.

Mitos: Kejang selalu berarti anak menderita epilepsi.

Fakta: Tidak semua kejang disebabkan oleh epilepsi. Kejang demam, misalnya, sangat umum pada anak-anak dan biasanya tidak berkembang menjadi epilepsi.

Mitos: Anak yang pernah mengalami kejang tidak boleh berolahraga.

Fakta: Dengan pengobatan yang tepat, sebagian besar anak dengan riwayat kejang dapat berpartisipasi dalam aktivitas fisik normal.

Kapan Harus Konsultasi ke Dokter?

Meskipun tidak semua kejang memerlukan perawatan darurat, ada beberapa situasi di mana Anda harus segera membawa anak ke dokter atau rumah sakit:

- Kejang pertama kali

- Kejang berlangsung lebih dari 5 menit

- Anak tidak sadar sepenuhnya setelah kejang berhenti

- Anak mengalami kesulitan bernapas

- Anak terluka saat kejang

- Kejang terjadi di air

- Anak memiliki penyakit yang mendasari seperti diabetes atau penyakit jantung

Selalu konsultasikan dengan dokter anak Anda jika Anda memiliki kekhawatiran tentang kejang atau kesehatan anak secara umum.

Pertanyaan seputar Kejang pada Anak

1. Apa yang harus dilakukan pertama kali saat anak kejang?

Segera baringkan anak di tempat datar dan miringkan tubuhnya agar jalan napas tidak tersumbat.

2. Apakah boleh memasukkan benda ke mulut anak saat kejang?

Tidak boleh. Hal ini berisiko melukai mulut dan gigi anak.

3. Kapan anak yang kejang harus dibawa ke rumah sakit?

Jika kejang berlangsung lebih dari 5 menit atau terjadi berulang dalam waktu singkat, segera bawa ke IGD.

4. Bagaimana cara mencegah kejang akibat demam pada anak?

Kompres hangat, beri obat penurun panas sesuai anjuran dokter, dan pastikan anak cukup cairan. 

Â