Liputan6.com, Jakarta Indonesia adalah negeri yang kaya akan budaya, dan salah satu wujud kekayaan tersebut tercermin dalam pakaian adat dari setiap provinsi. Pakaian adat bukan hanya busana, tetapi, seperti dikutip dari buku Mengenal Rumah Adat, Pakaian Adat, Tarian Adat, dan Senjata Tradisional 33 Provinsi di Indonesia (2009), juga menjadi simbol identitas daerah yang mencerminkan nilai sejarah, tradisi, serta filosofi hidup masyarakatnya. Dari Sabang hingga Merauke, setiap provinsi memiliki ciri khas pakaian adat yang menambah warna keanekaragaman budaya Nusantara.
Setiap pakaian adat mengandung makna dan fungsi yang berbeda. Misalnya, kebaya encim dari Betawi yang dipengaruhi budaya Tionghoa, ulos dari Sumatera Utara yang melambangkan ikatan keluarga, hingga baju bodo dari Sulawesi Selatan yang disebut-sebut sebagai salah satu busana tertua di dunia. Menurut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, pakaian adat juga kerap dikenakan pada acara resmi, upacara adat, hingga perayaan keagamaan, sehingga tetap lestari di tengah arus modernisasi.
Artikel ini akan menyajikan daftar lengkap nama-nama pakaian adat Indonesia beserta provinsi asalnya. Dengan mengetahuinya, pembaca tidak hanya dapat menambah wawasan budaya, tetapi juga semakin bangga akan kekayaan tradisi bangsa yang patut dijaga dan diwariskan untuk generasi mendatang.
Advertisement
Daftar Lengkap Nama Pakaian Adat di Indonesia dari 38 Provinsi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5192299/original/049956800_1745126934-20250420-Muda_Mudi_Berbusana_Adat_Nusantara-HER_6.jpg)
- Aceh: Ulee Balang - Busana kebangsawanan yang terdiri dari meukeutop (penutup kepala), meukasah (baju), dan sileuweu (celana panjang hitam)
- Sumatera Utara: Ulos - Kain tenun khas Batak dengan dominasi warna merah, hitam, dan putih yang penuh makna filosofis
- Sumatera Barat: Bundo Kanduang - Pakaian adat Minangkabau berwarna merah dengan aksesori lengkap untuk upacara pernikahan
- Riau: Teluk Belanga dan Kebaya Laboh - Busana Melayu dengan Teluk Belanga untuk pria dan Kebaya Laboh untuk wanita
- Kepulauan Riau: Teluk Belanga dan Kebaya Laboh - Pakaian tradisional Melayu yang sama dengan Provinsi Riau
- Bengkulu: Rejang Lebong - Busana dengan warna-warna cerah dan hiasan bordir khas budaya Rejang
- Jambi: Baju Kurung Tanggung - Pakaian wanita dari bahan beludru dengan sulaman benang emas dan motif alam
- Lampung: Tulang Bawang - Busana yang menjunjung tinggi kesopanan dengan dominasi warna putih dan sarung merah-emas
- Sumatera Selatan: Aesan Gede - Pakaian pengantin dengan dominasi warna keemasan yang mencerminkan Swarnadwipa
- Bangka Belitung: Paksian - Busana pengantin dari Pangkal Pinang dengan pengaruh budaya Tionghoa dan Arab
- Banten: Baju Pangsi - Setelan kemeja dan celana longgar yang mencerminkan kesederhanaan masyarakat Banten
- DKI Jakarta: Kebaya Encim dan Sadariah - Perpaduan budaya Betawi dan Tionghoa dalam busana tradisional
- Jawa Barat: Pakaian Adat Bedahan dan Kebaya Sunda - Busana Sunda dengan motif khas di bagian leher dan warna-warna cerah
- Jawa Tengah: Kebaya Jawa - Pakaian tradisional wanita dengan bordir halus yang mencerminkan keanggunan Jawa
- DI Yogyakarta: Kebaya Ksatrian - Busana keraton yang terdiri dari Surjan, celana hitam, dan kain batik
- Jawa Timur: Pesa'an - Pakaian khas Madura dengan kaus bergaris merah-putih dan baju luar hitam
- Kalimantan Barat: King Baba dan King Tompang - Busana Dayak dengan King Baba untuk pria dan King Tompang untuk wanita
- Kalimantan Timur: Pakaian Adat Kustin - Busana kebesaran Suku Kutai dari bahan beludru hitam untuk upacara pernikahan
- Kalimantan Selatan: Babaju Kun Galung Pacinan - Kombinasi budaya lokal dan Tionghoa dalam busana tradisional
- Kalimantan Tengah: Sangkarut - Pakaian tradisional dari bahan tenun yang dikenakan dalam acara adat
- Kalimantan Utara: Ta'a dan Sapei Sapaq - Ta'a untuk wanita berupa sarung berhias manik, Sapei Sapaq untuk pria dengan ornamen gigi macan
- Gorontalo: Biliu dan Makuta - Biliu untuk pria dan Makuta sebagai hiasan kepala wanita
- Sulawesi Barat: Pattuqduq Towaine - Busana wanita Mandar dengan rawang boko dan lipaq saqbe
- Sulawesi Tengah: Baju Nggembe - Pakaian wanita Suku Kaili dengan bentuk segi empat dan hiasan manik-manik
- Sulawesi Utara: Laku Tepu - Busana Suku Sangihe berbentuk terusan panjang dengan ikat kepala paporong
- Sulawesi Tenggara: Kinawo, Babu Nggawi - Kinawo untuk wanita dan Babu Nggawi sebagai hiasan kepala
- Sulawesi Selatan: Baju Bodo, Baju Pokko - Baju Bodo untuk wanita berbentuk segi empat sederhana, Baju Pokko untuk pria
- Bali: Pakaian Adat Payas Agung - Busana mewah untuk upacara keagamaan dan pernikahan dengan hiasan yang kaya
- Nusa Tenggara Timur: Pakaian Suku Sabu - Busana dari tenunan tradisional dengan motif khas yang mencerminkan identitas suku
- Nusa Tenggara Barat: Pakaian Adat Lambung - Pakaian tradisional dengan hiasan bordir dan kain tenun
- Maluku: Baju Cele - Busana wanita dengan warna-warna cerah dan motif garis-garis yang mencerminkan keceriaan
- Maluku Utara: Manteren Lamo - Simbol budaya yang dikenakan dalam upacara adat tradisional
- Papua: Koteka atau Holim - Pakaian tradisional pria dari labu kering yang mencerminkan kedekatan dengan alam
- Papua Barat: Pakaian Adat Ewer - Busana tradisional dengan hiasan kaya yang digunakan dalam upacara adat
- Papua Pegunungan: Koteka atau Holim - Sama dengan Papua, mencerminkan tradisi dan budaya lokal
- Papua Selatan: Pummi - Pakaian dari bahan alami untuk perayaan dan upacara adat
- Papua Tengah: Koteka atau Holim - Penggunaan Koteka yang mencerminkan tradisi budaya yang dijunjung tinggi
- Papua Barat Daya: Boe, Kuli Bia, Topi Kasuari, dan Kalung Manik-Manik - Kombinasi berbagai elemen yang mencerminkan kebudayaan suku-suku setempat
Advertisement
Pengertian dan Makna Pakaian Adat Indonesia
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5192294/original/054144100_1745126932-20250420-Muda_Mudi_Berbusana_Adat_Nusantara-HER_5.jpg)
Pakaian adat merupakan busana tradisional yang berasal dari suatu daerah atau kelompok etnis tertentu, yang mencerminkan identitas budaya, sejarah, dan nilai-nilai masyarakat setempat. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pakaian adat adalah pakaian resmi khas suatu daerah yang menjadi lambang kebudayaan wilayah tersebut. Setiap pakaian adat memiliki ciri khas yang unik, seperti motif, warna, dan bentuk yang berbeda-beda, tergantung pada budaya dan lingkungan alam daerah tersebut.
Busana tradisional Indonesia tidak hanya berfungsi sebagai penutup tubuh, tetapi juga sebagai medium untuk menyampaikan nilai-nilai dan pesan budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya. Setiap helai kain, setiap motif, dan setiap warna memiliki makna filosofis yang mendalam. Misalnya, motif tertentu pada pakaian adat bisa melambangkan kesuburan, kebersamaan, atau hubungan manusia dengan alam dan Tuhan. Dengan demikian, pakaian adat menjadi cerminan dari kearifan lokal dan warisan budaya yang tak ternilai.
Fungsi dan Peranan Pakaian Adat dalam Masyarakat
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4249988/original/055287000_1670224830-1.jpg)
Pakaian adat memiliki berbagai fungsi penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Pertama, sebagai lambang budaya daerah yang menunjukkan identitas visual suatu wilayah. Melalui pakaian ini, seseorang dapat dikenali asal usulnya hanya dari apa yang ia kenakan. Setiap wilayah memiliki ciri khas tersendiri dalam pakaian adatnya, sehingga keberagaman ini membantu memperjelas identitas lokal masyarakat.
Kedua, pakaian adat berfungsi sebagai cerminan karakter daerah yang menggambarkan keunikan suatu wilayah. Karakteristik ini biasanya hanya dikenali oleh masyarakat setempat, sehingga menjadikan pakaian tersebut eksklusif. Karakter ini sering kali berakar dari budaya turun-temurun yang diwariskan oleh suku atau kelompok masyarakat yang mendiami daerah tersebut.
Ketiga, pakaian adat berperan dalam memperkaya kebudayaan Indonesia secara keseluruhan. Keberadaan berbagai jenis pakaian adat dari seluruh penjuru Nusantara memperkaya keberagaman budaya Indonesia, sekaligus memperkuat semangat Bhinneka Tunggal Ika. Keempat, pakaian adat menjadi daya tarik wisata dan aset pariwisata yang berharga, menarik wisatawan baik domestik maupun mancanegara untuk mengenal lebih dekat budaya Indonesia.
Advertisement
Sejarah dan Perkembangan Pakaian Adat Nusantara
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2394118/original/012100700_1540694839-20181027_170301.jpg)
Sejarah pakaian adat Indonesia tidak dapat dipisahkan dari perjalanan panjang peradaban Nusantara. Sejak zaman prasejarah, nenek moyang bangsa Indonesia telah menggunakan berbagai bahan alami seperti kulit kayu, serat tumbuhan, dan bulu binatang untuk membuat pakaian. Seiring dengan perkembangan zaman dan masuknya berbagai pengaruh budaya dari luar, pakaian adat Indonesia mengalami evolusi yang menarik.
Pengaruh Hindu-Buddha yang masuk ke Nusantara sekitar abad ke-1 hingga ke-15 Masehi memberikan dampak signifikan terhadap perkembangan pakaian adat. Hal ini terlihat dari penggunaan kain songket dengan benang emas, motif-motif yang terinspirasi dari cerita Ramayana dan Mahabharata, serta bentuk pakaian yang lebih terstruktur. Kemudian, masuknya Islam membawa perubahan dalam hal kesopanan berpakaian, yang tercermin dalam pakaian adat yang lebih tertutup dan mengutamakan nilai-nilai keislaman.
Era kolonial juga memberikan pengaruh terhadap pakaian adat Indonesia. Interaksi dengan bangsa Eropa, Tionghoa, dan Arab menciptakan akulturasi budaya yang menarik. Contohnya adalah Kebaya Encim yang merupakan perpaduan budaya Betawi dan Tionghoa, atau Paksian dari Bangka Belitung yang mendapat pengaruh dari budaya Arab dan Tionghoa. Perkembangan ini menunjukkan bahwa pakaian adat Indonesia bersifat dinamis dan mampu beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan jati dirinya.
Bahan dan Teknik Pembuatan Pakaian Adat
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1763402/original/024428100_1510110529-20171108-Kirab-Kahiyang-dan-Bobby-Menuju-Lokasi-Pernikahan-Angga-3.jpg)
Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan pakaian adat Indonesia sangat beragam, mulai dari bahan alami hingga bahan yang telah diolah dengan teknologi tradisional. Kain tenun menjadi bahan utama dalam banyak pakaian adat, seperti Ulos dari Sumatera Utara, songket dari Sumatera Selatan, dan berbagai kain tenun ikat dari Nusa Tenggara. Proses pembuatan kain tenun ini memerlukan keahlian khusus dan waktu yang cukup lama, sehingga menghasilkan kain berkualitas tinggi dengan motif yang indah.
Selain kain tenun, bahan-bahan alami lainnya juga digunakan, seperti kulit kayu untuk pakaian adat Dayak di Kalimantan, daun lontar untuk topi Ti'i Langga dari NTT, dan labu kering untuk Koteka dari Papua. Penggunaan bahan-bahan alami ini menunjukkan kedekatan masyarakat Indonesia dengan alam dan kemampuan mereka dalam memanfaatkan sumber daya alam secara bijaksana.
Teknik pembuatan pakaian adat juga sangat beragam, mulai dari teknik tenun, sulam, batik, hingga teknik pewarnaan alami. Setiap daerah memiliki teknik khas yang diwariskan turun-temurun. Misalnya, teknik tenun songket yang menggunakan benang emas atau perak, teknik batik tulis yang memerlukan ketelitian tinggi, atau teknik sulam benang emas yang memberikan kesan mewah pada pakaian adat. Penguasaan teknik-teknik ini memerlukan pembelajaran yang panjang dan dedikasi yang tinggi dari para pengrajin.
Advertisement
Simbolisme dan Makna Filosofis dalam Pakaian Adat
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,540,20,0)/kly-media-production/medias/4634966/original/072342400_1699017652-Pakaian_Adat_Dayak.jpeg)
Setiap elemen dalam pakaian adat Indonesia memiliki simbolisme dan makna filosofis yang mendalam. Warna-warna yang digunakan bukan sekadar pilihan estetis, tetapi memiliki makna spiritual dan sosial. Misalnya, dalam Ulos Batak, warna merah melambangkan keberanian dan semangat, putih melambangkan kesucian dan kedamaian, hitam melambangkan kedukaan dan kebijaksanaan, sedangkan kuning melambangkan kejayaan dan kemakmuran.
Motif-motif yang terdapat pada pakaian adat juga sarat dengan makna. Motif flora dan fauna sering digunakan untuk melambangkan hubungan manusia dengan alam. Motif geometris dapat melambangkan keseimbangan dan harmoni dalam kehidupan. Motif-motif tertentu juga dapat menunjukkan status sosial, usia, atau peran seseorang dalam masyarakat. Sebagai contoh, dalam Baju Bodo dari Sulawesi Selatan, warna pakaian menunjukkan strata sosial pemakainya.
Aksesori dan perhiasan yang menyertai pakaian adat juga memiliki makna khusus. Mahkota atau penutup kepala sering melambangkan kedudukan atau status sosial. Kalung, gelang, dan cincin tidak hanya berfungsi sebagai perhiasan, tetapi juga sebagai simbol perlindungan spiritual atau penanda identitas suku. Pemahaman terhadap simbolisme ini penting untuk menjaga keaslian dan menghormati nilai-nilai budaya yang terkandung dalam pakaian adat.
Upaya Pelestarian dan Tantangan Modern
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4167626/original/067633000_1663839800-6_Potret_Menawan_Ghea_Indrawari_Pakai_Kostum_Adat_Banjar_dan_Dayak_di__Pasar_Terapung_Banjarmasin__4_.jpg)
Di era globalisasi ini, pakaian adat Indonesia menghadapi berbagai tantangan dalam upaya pelestariannya. Pengaruh budaya asing, perubahan gaya hidup masyarakat, dan kurangnya minat generasi muda terhadap budaya tradisional menjadi ancaman serius bagi kelangsungan pakaian adat. Banyak teknik pembuatan tradisional yang mulai terlupakan karena kurangnya regenerasi pengrajin.
Namun, berbagai upaya pelestarian terus dilakukan oleh pemerintah, lembaga budaya, dan masyarakat. Program-program edukasi di sekolah-sekolah mulai memasukkan pembelajaran tentang pakaian adat dalam kurikulum. Festival budaya dan pameran pakaian adat secara rutin diselenggarakan untuk memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada masyarakat luas. Selain itu, pemanfaatan teknologi modern seperti media sosial dan platform digital juga digunakan untuk mempromosikan pakaian adat kepada generasi muda.
Industri fashion modern juga mulai mengadaptasi elemen-elemen pakaian adat ke dalam desain kontemporer. Hal ini memberikan peluang bagi pakaian adat untuk tetap relevan di era modern tanpa kehilangan nilai-nilai tradisionalnya. Kolaborasi antara desainer modern dengan pengrajin tradisional menciptakan inovasi-inovasi menarik yang dapat menarik minat generasi muda sambil tetap melestarikan warisan budaya.
Advertisement
Peran Pakaian Adat dalam Pariwisata dan Ekonomi Kreatif
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4740652/original/087906800_1707713563-pab_payas_agung.jpg)
Pakaian adat Indonesia memiliki potensi besar sebagai daya tarik wisata dan penggerak ekonomi kreatif. Banyak destinasi wisata di Indonesia yang menjadikan pakaian adat sebagai salah satu atraksi utama. Wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, tertarik untuk mengenal lebih dekat budaya Indonesia melalui pakaian tradisionalnya. Pengalaman mengenakan pakaian adat dan berfoto dengan latar belakang budaya lokal menjadi daya tarik tersendiri.
Industri persewaan pakaian adat juga berkembang pesat, terutama di daerah-daerah wisata. Hal ini memberikan peluang ekonomi bagi masyarakat lokal dan membantu melestarikan pakaian adat. Selain itu, produksi souvenir dan merchandise yang terinspirasi dari pakaian adat juga menjadi sumber pendapatan yang menjanjikan.
Perkembangan ekonomi kreatif juga membuka peluang bagi pengembangan pakaian adat dalam berbagai bentuk. Mulai dari fashion show yang menampilkan pakaian adat dengan sentuhan modern, workshop pembuatan pakaian adat untuk wisatawan, hingga pengembangan produk-produk kreatif yang terinspirasi dari motif dan desain pakaian adat. Semua ini berkontribusi pada pelestarian budaya sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Tips Memilih dan Merawat Pakaian Adat
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312568/original/063059700_1754968459-Screenshot_2025-08-12_095345.jpg)
Bagi mereka yang tertarik untuk memiliki atau menyewa pakaian adat, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, pastikan untuk memahami makna dan filosofi di balik pakaian adat yang akan dikenakan. Hal ini penting untuk menghormati nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Kedua, pilihlah pakaian adat yang sesuai dengan acara dan konteks penggunaannya. Beberapa pakaian adat memiliki tingkatan atau kategori tertentu yang harus disesuaikan dengan status atau peran pemakainya.
Dalam hal perawatan, pakaian adat memerlukan perhatian khusus karena bahan dan teknik pembuatannya yang unik. Kain tenun dan songket sebaiknya disimpan dalam tempat yang kering dan terhindar dari sinar matahari langsung. Pembersihan harus dilakukan dengan hati-hati, sebaiknya menggunakan jasa dry cleaning yang berpengalaman menangani kain tradisional. Untuk pakaian adat yang menggunakan benang emas atau perak, hindari kontak dengan bahan kimia yang dapat merusak logam mulia tersebut.
Penyimpanan pakaian adat juga memerlukan teknik khusus. Gunakan gantungan yang sesuai untuk menghindari kerusakan bentuk pakaian. Untuk kain yang mudah kusut, sebaiknya disimpan dengan cara dilipat rapi dan diberi alas kain putih. Aksesori seperti perhiasan dan hiasan kepala sebaiknya disimpan terpisah dalam kotak khusus untuk menghindari kerusakan akibat gesekan.
Advertisement
People Also Ask
1. Berapa jumlah pakaian adat di Indonesia?
Indonesia memiliki 38 pakaian adat utama sesuai jumlah provinsi yang ada saat ini. Setiap provinsi memiliki pakaian adat dengan nama, corak, dan filosofi yang berbeda, mencerminkan kekayaan budaya Nusantara.
2. Apa contoh pakaian adat terkenal dari Jawa?
Di Jawa Tengah terdapat Kebaya dan Beskap, di Jawa Timur ada Pesa’an Madura, sedangkan Jawa Barat dikenal dengan Baju Pangsi dan Kebaya Sunda. Setiap pakaian adat biasanya dipakai dalam acara adat, pernikahan, atau upacara tradisional.
3. Apa pakaian adat dari Papua?
Pakaian adat Papua dikenal dengan nama Koteka untuk pria di beberapa daerah pegunungan, sementara untuk wanita biasanya berupa rok rumbai dari serat alam. Kini, pakaian adat Papua modern juga sering dihiasi motif khas etnik.
4. Apa keunikan pakaian adat dari Aceh?
Pakaian adat Aceh disebut Ulee Balang yang dulu dikenakan oleh bangsawan. Busana ini biasanya didominasi warna hitam dengan hiasan emas, melambangkan kewibawaan dan kebesaran kerajaan Aceh di masa lalu.
5. Mengapa penting mengenal pakaian adat dari 38 provinsi di Indonesia?
Karena pakaian adat adalah identitas budaya yang mencerminkan sejarah, tradisi, dan nilai luhur masyarakat setempat. Dengan mengenalnya, generasi muda dapat lebih menghargai keragaman budaya Indonesia sekaligus melestarikannya.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7676875/original/060602200_1780471869-Tugas__23_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8406223/original/090481000_1782289085-cek_fakta_-_insentif_guru_asn.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256117/original/079954000_1781147945-Tugas__29_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5575337/original/085582000_1778045275-cek_fakta_-_alat_pertanian_dan_bibit_ikan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/3555099/original/AGNmyxYsmp2O0yLNbyo5fE5y6vCzeKFPb4GWb-vYY2F9%3Ds96-c.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4921286/original/081313300_1723956697-WhatsApp_Image_2024-08-18_at_11.42.33_ca043565.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/3864017/original/044019100_1738389296-1596670441577.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7942892/original/090201900_1780778139-AP26157707967919.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8359730/original/054220900_1782235074-063_2282965616.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5369225/original/064000000_1759459826-adidas-trionda-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8393441/original/064092700_1782273896-IMG-20260624-WA0015.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8393442/original/070756800_1782273896-IMG-20260624-WA0014.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8331592/original/085679400_1782201838-mesir.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8257368/original/081366600_1781236868-000_B6U83U4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262589/original/038165100_1781838673-AP26170082180731-Meksiko_vs_Korsel.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4574324/original/025119000_1694607476-AP23256084001856.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8258678/original/086617800_1781400963-000_B6Z32RM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8397156/original/089293200_1782278283-AP26174690236290.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8380798/original/058541300_1782259430-Didier_Deschamps.jpg)