Profil Lengkap Jenderal Korban G30S/PKI, Pahlawan Bangsa yang Gugur

Mengenal nama-nama jenderal korban G 30 S PKI yang gugur dalam tragedi kelam 1965. Profil lengkap 12 pahlawan revolusi Indonesia.

Diterbitkan 31 Juli 2025, 11:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Tragedi Gerakan 30 September atau G30S PKI merupakan salah satu peristiwa paling kelam dalam sejarah bangsa Indonesia. Kejadian yang berlangsung pada malam 30 September hingga dini hari 1 Oktober 1965 ini telah merenggut nyawa para perwira tinggi TNI Angkatan Darat beserta beberapa korban lainnya.

Partai Komunis Indonesia yang saat itu memiliki pengaruh besar terhadap masyarakat, melancarkan aksi brutal. Mereka menculik dan membunuh para petinggi militer yang dianggap menghalangi rencana mereka untuk mengubah ideologi negara.

Para korban yang gugur dalam peristiwa berdarah ini kemudian dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi melalui Keputusan Presiden RI dan pada tahun 2008 juga mendapat gelar Pahlawan Nasional berdasarkan Undang-Undang Nomor 20. Jasad mereka ditemukan di Lubang Buaya, Jakarta Timur, setelah mengalami penyiksaan yang tidak berperikemanusiaan.

Daftar Nama dan Profil Jenderal Korban G30S/PKI

 

  1. Jenderal (Anumerta) Ahmad Yani Perwira kelahiran Purworejo, 19 Juni 1922 ini menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat ketika tragedi terjadi. Sosok yang dikenal tegas dan anti-komunis ini menentang keras usulan pembentukan angkatan kelima oleh PKI. Karir militernya dimulai dari pendidikan Heiho dan PETA di Bogor, kemudian berkembang pesat hingga menjadi KSAD pada 1962. Ahmad Yani terbunuh di kediamannya di Jalan Latuharhary No. 6, Menteng, Jakarta Pusat oleh pasukan G30S.
  2. Letjen (Anumerta) Suprapto Lahir di Purwokerto pada 20 Juni 1920, Suprapto merupakan Deputi Kepala Staf Angkatan Darat yang memiliki dedikasi tinggi terhadap negara. Pendidikan militernya di Akademi Militer Kerajaan Bandung terpaksa terhenti akibat pendudukan Jepang. Setelah kemerdekaan, ia bergabung dengan TKR di Purwokerto dan pernah menjadi ajudan Panglima Besar Sudirman dalam pertempuran Ambarawa. Penentangannya terhadap angkatan kelima PKI membuatnya menjadi target penculikan dan pembunuhan.
  3. Letjen (Anumerta) S. Parman Siswondo S. Parman yang lahir pada 4 Agustus 1918 di Wonosobo, Jawa Tengah, merupakan ahli intelijen TNI AD yang berpengalaman. Ia pernah mendalami ilmu intelijen di Jepang pada Kenpei Kasya Butai. Keahliannya dalam bidang intelijen membuatnya mengetahui rencana PKI untuk membentuk angkatan kelima, sehingga ia menjadi salah satu target utama. Parman diculik dari rumahnya pada pukul 04.30 WIB oleh pasukan berseragam Cakrabirawa.
  4. Letjen (Anumerta) M.T. Haryono Mas Tirtodarmo Haryono yang lahir pada 20 Januari 1924 di Surabaya memiliki latar belakang pendidikan kedokteran di Ika Dai Gaku sebelum terjun ke dunia militer. Keahliannya dalam bahasa Belanda, Inggris, dan Jerman membuatnya sering ditugaskan dalam perundingan internasional. Ia pernah menjadi Atase Militer RI untuk Negeri Belanda pada 1950 dan menjabat sebagai Direktur Intendans sebelum gugur dalam tragedi G30S.
  5. Mayjen (Anumerta) D.I. Panjaitan Donald Ignatius Panjaitan yang lahir pada 9 Juni 1925 di Balige, Tapanuli, memulai karir militernya melalui pendidikan Gyugun pada masa pendudukan Jepang. Setelah kemerdekaan, ia bergabung dengan TKR dan memiliki karir cemerlang hingga diangkat sebagai Asisten IV Menteri/Panglima Angkatan Darat. Panjaitan bahkan pernah menjalani pendidikan militer di Amerika Serikat. Sikapnya yang keras menentang PKI membuatnya menjadi sasaran pembunuhan.
  6. Mayjen (Anumerta) Sutoyo Siswomiharjo Kelahiran Kebumen, 28 Agustus 1922 ini awalnya bekerja sebagai pegawai negeri di Kantor Kabupaten Purworejo setelah menempuh pendidikan di Balai Pendidikan Pegawai Tinggi Jakarta. Setelah kemerdekaan, ia bergabung dengan TKR bagian kepolisian dan menjadi anggota Korps Polisi Militer. Karirnya melejit hingga menjadi ajudan Kolonel Gatot Subroto dan kemudian Inspektur Kehakiman/Oditur Jenderal Angkatan Darat. Penentangannya terhadap angkatan kelima PKI berujung pada kematiannya.
  7. Brigjen (Anumerta) Katamso Brigadir Jenderal yang lahir pada 5 Februari 1923 di Sragen, Jawa Tengah ini merupakan Komandan Korem 072/Pamungkas Yogyakarta. Pendidikan militernya dimulai dari PETA di Bogor dan kemudian menjadi Shocando PETA di Solo. Setelah kemerdekaan, ia masuk TKR dan terus berkarir di TNI. Pada 1958, Katamso ditugaskan ke Sumatera Barat untuk memberantas pemberontakan PRRI. Kedisiplinan dan penentangannya terhadap komunisme membuatnya diculik dan dibunuh di Yogyakarta.
  8. Kapten (Anumerta) Pierre Tendean Pierre Andreas Tendean yang lahir pada 21 Februari 1939 di Jakarta merupakan lulusan Akademi Militer Jurusan Teknik tahun 1962. Ia menjabat sebagai ajudan Jenderal A.H. Nasution dan pernah bertugas menyusup ke Malaysia saat konfrontasi. Ketika pasukan G30S berusaha menculik Nasution, Pierre dengan berani mengorbankan dirinya dengan menyamar sebagai Nasution. Tindakan heroiknya menyelamatkan atasannya namun berujung pada kematiannya sendiri.
  9. AIP II (Anumerta) K.S. Tubun Karel Satsuit Tubun yang lahir pada 14 Oktober 1928 di Tual, Maluku Tenggara, memulai karirnya di Sekolah Polisi Negara Ambon. Ia kemudian bertugas di berbagai daerah termasuk Jakarta, Medan, dan Sulawesi sebelum ditugaskan sebagai pengawal di kediaman Dr. Y. Leimena yang berdampingan dengan rumah Jenderal A.H. Nasution. Saat pemberontakan terjadi, Tubun melawan dengan gagah berani hingga tertembak dan gugur.
  10. Kolonel (Anumerta) Sugiyono Sugiyono yang lahir pada 12 Agustus 1926 di Desa Gendaran, Gunung Kidul, Yogyakarta, menempuh pendidikan militer PETA pada masa penjajahan Jepang. Ia diangkat menjadi Budanco di Wonosari dan terus mengembangkan karirnya di dunia militer. Sebagai Kepala Staf Korem 072 Yogyakarta, ia ditangkap di markas yang telah dikuasai gerombolan PKI sepulangnya dari Pekalongan. Sugiyono kemudian dibunuh di Kentungan, Yogyakarta bersama Brigjen Katamso.
  11. Ade Irma Suryani Nasution Putri Jenderal A.H. Nasution yang lahir pada 19 Februari 1960 ini menjadi korban tidak langsung dari keganasan G30S PKI. Ketika pasukan pemberontak menyerang rumah Nasution untuk menculik sang ayah, Ade Irma yang saat itu berusia lima tahun tertembak oleh peluru nyasar. Beberapa hari kemudian, gadis kecil yang tidak berdosa ini menghembuskan napas terakhirnya akibat luka tembak yang dideritanya.
  12. Jenderal A.H. Nasution (Korban Selamat) Abdul Haris Nasution yang lahir pada 3 Desember 1918 di Kotanopan, Tapanuli, merupakan satu-satunya target utama PKI yang berhasil selamat dari tragedi tersebut. Sebagai Menko Hankam/Kepala Staf ABRI yang memiliki sikap anti-komunis dan menentang pembentukan angkatan kelima, ia menjadi sasaran utama operasi penculikan. Berkat pengorbanan ajudannya Pierre Tendean dan kemampuannya melarikan diri dengan melompati pagar meski mengalami cedera kaki, Nasution berhasil lolos dari kematian.

Latar Belakang Peristiwa G30S PKI

Peristiwa G30S PKI tidak terjadi dalam ruang hampa, melainkan merupakan kulminasi dari ketegangan politik yang telah lama mengendap di Indonesia. Pada awal dekade 1960-an, situasi politik Indonesia berada dalam kondisi yang sangat tidak stabil dengan persaingan kekuasaan yang tajam antara berbagai kelompok. Partai Komunis Indonesia yang pada saat itu telah berkembang menjadi salah satu kekuatan politik terbesar di dunia, memiliki jutaan anggota dan simpatisan yang tersebar di seluruh nusantara.

Ketegangan semakin memuncak ketika PKI mengusulkan pembentukan angkatan kelima yang terdiri dari buruh dan petani bersenjata. Usulan ini mendapat tentangan keras dari kalangan militer, terutama TNI Angkatan Darat yang menganggap hal tersebut sebagai ancaman terhadap stabilitas keamanan nasional dan ideologi Pancasila. Para perwira tinggi TNI AD melihat rencana ini sebagai upaya PKI untuk melemahkan kekuatan militer dan mempersiapkan jalan bagi pengambilalihan kekuasaan secara total.

Situasi politik yang memanas ini diperparah oleh kondisi ekonomi yang memburuk dan polarisasi ideologi yang semakin tajam dalam masyarakat. Presiden Soekarno yang menerapkan konsep Nasakom (Nasionalisme, Agama, Komunisme) berusaha menyeimbangkan berbagai kekuatan politik, namun hal ini justru menciptakan ketidakstabilan yang lebih besar.

Kronologi Peristiwa Malam Berdarah

Pada malam yang kelam tanggal 30 September 1965, sekelompok pasukan yang dipimpin oleh Letkol Untung Syamsuri, Komandan Batalyon I Cakrabirawa, melancarkan operasi penculikan terhadap para perwira tinggi TNI AD. Operasi ini dilakukan secara terkoordinasi di berbagai lokasi di Jakarta dengan sasaran utama tujuh jenderal yang dianggap sebagai penghalang utama rencana PKI.

Pasukan yang terlibat dalam operasi ini terdiri dari anggota Cakrabirawa, beberapa kesatuan dari Kodam Diponegoro dan Brawijaya, serta kelompok sipil yang berafiliasi dengan PKI. Mereka bergerak secara serentak menuju kediaman para target dengan menggunakan kendaraan militer dan berseragam lengkap untuk mengelabui penjagaan.

Tiga jenderal yaitu Ahmad Yani, M.T. Haryono, dan D.I. Panjaitan dibunuh langsung di rumah mereka masing-masing setelah melakukan perlawanan. Sementara itu, Suprapto, S. Parman, Sutoyo Siswomiharjo, dan Pierre Tendean berhasil diculik hidup-hidup namun kemudian disiksa dan dibunuh dengan cara yang tidak berperikemanusiaan sebelum jasad mereka dibuang ke sumur tua di Lubang Buaya.

Tokoh-tokoh Kunci dalam Peristiwa G30S PKI

Beberapa tokoh memainkan peran penting dalam peristiwa G30S PKI, baik sebagai dalang maupun pelaksana di lapangan. D.N. Aidit, Sekretaris Jenderal PKI yang kemudian menjadi Ketua, diduga kuat sebagai dalang utama di balik peristiwa ini. Pria kelahiran Pulau Bangka pada 30 Juli 1923 ini berhasil membawa PKI menjadi partai terbesar ketiga di dunia dan partai keempat terbesar dalam Pemilu 1955 dengan perolehan 16,4 persen suara nasional.

Letkol Untung Syamsuri yang lahir pada 3 Juli 1926 di Bojongsari, Kebumen, menjadi tokoh kunci sebagai pemimpin operasi lapangan. Sebagai Komandan Batalyon I Cakrabirawa yang bertugas mengawal Presiden Soekarno, ia memiliki akses dan otoritas untuk menggerakkan pasukan. Untung dikenal sebagai prajurit handal yang pernah mendapat Bintang Sakti atas aksinya dalam Operasi Trikora 1962.

Sjam Kamaruzaman yang lahir pada 30 April 1924 di Tuban, Jawa Timur, merupakan pemimpin Biro Khusus PKI yang berperan dalam perencanaan strategis. Organisasi rahasia yang dipimpinnya bertujuan merancang dan mempersiapkan kudeta dengan cara menyusup dan mempengaruhi kelompok tentara berhaluan kiri. Keberadaannya sangat rahasia hingga keluarga dan lingkungan sekitarnya hanya mengenal dia sebagai pengusaha biasa.

Dampak Jangka Panjang Peristiwa G30S PKI

Peristiwa G30S PKI membawa perubahan fundamental dalam sejarah Indonesia yang dampaknya masih terasa hingga kini. Pembubaran PKI sebagai organisasi terlarang mengakibatkan gelombang penangkapan, pemenjaraan, dan eksekusi massal terhadap anggota serta simpatisan partai tersebut. Diperkirakan ratusan ribu hingga jutaan orang menjadi korban dalam proses pembersihan ini, menjadikannya salah satu tragedi kemanusiaan terbesar dalam sejarah bangsa.

Peristiwa ini juga menandai berakhirnya era Demokrasi Terpimpin dan dimulainya Orde Baru di bawah kepemimpinan Soeharto. Kekuasaan Presiden Soekarno melemah secara bertahap hingga akhirnya ia dipaksa mundur pada 1967. Sistem politik yang lebih otoriter diterapkan dengan fokus pada stabilitas politik, pertumbuhan ekonomi, dan pengendalian ketat terhadap segala bentuk oposisi.

Narasi resmi tentang G30S PKI dikuasai oleh pemerintah Orde Baru dengan menggambarkan PKI dan komunisme sebagai musuh utama negara. Stigma terhadap komunisme ini diperkuat melalui berbagai media termasuk film "Pengkhianatan G30S PKI" yang diwajibkan untuk ditonton di sekolah-sekolah setiap tahunnya. Dampak psikologis dan sosial dari stigmatisasi ini masih terasa dalam masyarakat Indonesia hingga saat ini.

Penghormatan terhadap Para Pahlawan Revolusi

Para korban G30S PKI yang gugur dalam tragedi berdarah tersebut mendapat pengakuan resmi dari negara sebagai Pahlawan Revolusi melalui Surat Keputusan Presiden RI Nomor III/Koti/Tahun 1965 tanggal 5 Oktober 1965. Pengakuan ini kemudian diperkuat dengan pemberian gelar Pahlawan Nasional berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008.

Untuk mengenang jasa dan pengorbanan mereka, pemerintah membangun Monumen Pancasila Sakti di Lubang Buaya, Jakarta Timur, tepat di lokasi ditemukannya jasad para pahlawan. Monumen ini menjadi tempat ziarah dan pembelajaran sejarah bagi generasi muda Indonesia. Setiap tanggal 1 Oktober, upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila diselenggarakan di lokasi ini dengan dihadiri oleh pejabat tinggi negara dan masyarakat.

Nama-nama para pahlawan revolusi juga diabadikan dalam berbagai bentuk penghormatan seperti nama jalan, gedung, dan fasilitas umum di seluruh Indonesia. Hal ini dimaksudkan agar jasa dan pengorbanan mereka tidak terlupakan oleh generasi penerus bangsa dan menjadi inspirasi dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pembelajaran Sejarah untuk Generasi Muda

Peristiwa G30S PKI memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan bangsa serta kewaspadaan terhadap segala bentuk ancaman yang dapat memecah belah bangsa. Tragedi ini menunjukkan betapa rapuhnya stabilitas politik ketika terjadi polarisasi ideologi yang ekstrem dan persaingan kekuasaan yang tidak sehat.

Generasi muda Indonesia perlu memahami kompleksitas peristiwa sejarah ini tanpa terjebak pada narasi tunggal yang bias. Pendekatan pembelajaran sejarah yang kritis dan objektif diperlukan untuk memberikan pemahaman yang komprehensif tentang berbagai faktor yang melatarbelakangi tragedi tersebut. Hal ini penting untuk mencegah terulangnya peristiwa serupa di masa depan.

Nilai-nilai kepahlawanan yang ditunjukkan oleh para korban G30S PKI seperti keberanian, pengorbanan, dan kesetiaan terhadap negara harus menjadi inspirasi bagi generasi muda dalam menghadapi tantangan zaman. Semangat nasionalisme dan cinta tanah air yang mereka tunjukkan perlu diteladani dalam membangun Indonesia yang lebih baik dan sejahtera.