Dukungan Orangtua, Bikin Zidan Jadi Penyandang Disabilitas yang Tangguh dan Percaya Diri

Saat Zidan masih duduk di bangku sekolah dasar, Zidan merasa dirinya berbeda dengan anak-anak kebanyakan lantaran tubuhnya jauh lebih pendek dibandingkan teman-teman. Namun, nasihat orangtua membuatnya jadi sosok tangguh dan percaya diri.

Diterbitkan 04 Desember 2025, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Zidan Alfiansyah (21) pria dengan tinggi 105 cm pernah merasa bingung dengan kondisi fisiknya. Saat dirinya masih duduk di bangku sekolah dasar, Zidan merasa dirinya berbeda dengan anak-anak kebanyakan lantaran tubuhnya jauh lebih pendek dibandingkan teman-teman.

"Pas kelas 6 SD, merasa bingung, kok pertumbuhan Zidan beda sama teman-teman lain," kata Zidan.

Namun, saat itu, orangtuanya mengatakan agar ia bersyukur atas kondisi yang diberikan Tuhan. Dan, meminta anak bungsu dari tiga bersaudara ini tidak menyerah.

"Dinasehatin sama orangtua sambil memperlihatkan penyandangan disabilitas lain, 'Kamu bisa, tuh seperti mereka yang tidak menyerah'," kata Zidan ditemui Disabilitas Liputan6.com di Jakarta Timur pada Selasa, 2 Desember 2025.

Orangtuanya pun mengasuh Zidan seperti kedua kakaknya. Tak pernah Zidan 'disembunyikan' atau dibeda-bedakan karena kondisi fisik berbeda. 

Zidan Tidak Pernah Merasa Dibully

Dalam lingkungan bertetangga, pria asal Depok Jawa Barat ini pun kerap nongkrong bersama. Ia bermain dan bersosialisasi dengan tetangganya.

"Enggak pernah dibullying. Malah teman-teman Zidan itu supportif, kita nongkrong bareng," katanya sambil tertawa.

Saat di bangku sekolah, ia pun tidak pernah dibeda-bedakan. Jadi, ia tidak pernah menjadi korban perundungan.

"SMP, SMA, alhamdulillah, enggak ada yang bully," tuturnya.

 

Zidan Kini Bekerja di PT Transjakarta

Satu bulan terakhir, Zidan bekerja sebagai desain grafis di PT Transjakarta setelah menghadiri job fair khusus disabilitas di Jakarta. Saat ia mengikuti job fair itu, tak disangka ia bertemu dengan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung.

Awalnya, Zidan hanya ingin berfoto bersama. Namun, siapa sangka, pertemuan sederhana itu menjadi pintu pembuka bagi masa depan barunya.

Zidan dipanggil mengikuti proses seleksi di TransJakarta. Tidak lama kemudian, dia dinyatakan lolos dan diterima sebagai desainer grafis.

"Alhamdulillah, senang banget," kata Zidan.

Pengalamannya dalam mencari pekerjaan hingga akhirnya berlabuh di PT Transjakarta menjadi bukti bahwa hal terpenting adalah fokus dengan tujuan. Kondisi disabilitas tak jadi penghalang untuk terus berkarya.

"Jangan hiraukan omongan orang, abaikan saja," katanya menyemangati.