Hari Disabilitas Internasional 2025: Sumiati Perkenalkan Bahasa Isyarat hingga Puncak Gunung

Tepat di Hari Disabilitas Internasional 2025, kenali Sumiati yang menyebarkan Bahasa Isyarat hingga puncak gunung.

Diterbitkan 03 Desember 2025, 11:17 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Di Hari Disabilitas Internasional 2025, sudah sepatutnya publik mengenal Sumiati. Lewat jemari, perempuan tuli ini menyebar pengetahuan tentang Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) kepada banyak orang.

Sejak 2017, Sumiati aktif mengajar bahasa isyarat. Dia merupakan anggota Pembina Lingkar Sosial Indonesia (LINKSOS), sebuah organisasi disabilitas di Malang, Jawa Timur dan menjabat sebagai Koordinator Bidang Edukasi Bahasa Isyarat.

Sumiati memberikan sosialisasi Bisindo di berbagai tempat. Lokasinya meliputi tempat wisata, komunitas punk, hingga puskesmas. Kegiatan ini mencerminkan dedikasinya terhadap penyebaran Bisindo di masyarakat.

Selain perannya di LINKSOS, Sumiati juga aktif sebagai anggota Difabel Pecinta Alam (Difpala). Ia juga menjadi bagian dari program Disability Seven Summits Indonesia. Dalam setiap pendakian gunung, ia memanfaatkan momen di puncak untuk memperkenalkan Bisindo kepada sesama pendaki. Ini adalah cara unik Sumiati menyebarluaskan Bisindo.

“Sejak lama kami melakukan sosialisasi Bisindo. Tepatnya pada 2017, kami mengenalkan bahasa isyarat kepada anak-anak punk di Kota Lawang,” jelas Sumiati mengutip laman Lingkar Sosial.

Kegiatannya tidak berhenti di situ. Bersama Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu (Gerkatin) Kota Malang, dia melatih tenaga kesehatan di puskesmas. Dia juga melatih security dan marketing di Malang Creative Center.

 

Ingin Masyarakat Bisa Berkomunikasi dengan Teman Tuli

Sumiati berharap Bisindo diakui setara dengan bahasa Indonesia dan bahasa daerah. Ia ingin masyarakat dapat berkomunikasi dengan Tuli, sehingga tercipta lingkungan yang inklusif.

Selain itu, Sumiati aktif dalam berbagai komunitas. Ia adalah pembina gugus depan teritorial berbasis komunitas disabilitas. Ia juga menjadi anggota Advokasi Tuli untuk Inklusi yang memperjuangkan hak-hak kaum Tuli.

 

Cerminkan Semangat Inklusivitas

Konsistensi Sumiati dalam memperkenalkan Bisindo mencerminkan semangat inklusivitas.

Ia membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkontribusi. Sosialisasi Bisindo yang dilakukannya telah meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya komunikasi inklusif.

Dengan dedikasinya, Sumiati berharap lebih banyak pihak mendukung penggunaan Bisindo sebagai bahasa isyarat resmi di Indonesia. Harapan ini bertujuan menciptakan masyarakat yang inklusif dan memahami kebutuhan kaum Tuli.