Sukses

Yuliantin, Ibu Tangguh dari Tangerang yang Kisahkan Pengalaman Mengurus Anak Cerebral Palsy

Liputan6.com, Jakarta Ibu dari Tangerang Yuliantin menceritakan pengalamannya merawat buah hati yang menyandang Cerebral Palsy (CP).

CP merupakan disabilitas yang sering pula disebut lumpuh otak dan membuat anak tidak bertumbuh seperti seharusnya. 

Sewaktu mengandung sang anak, Muhamad Gathan Syahilabi, usia Yuliantin sudah menginjak 38 tahun. Tak ada masalah apapun yang dialami selama masa kehamilan.

Gathan lahir cukup bulan pada 16 Oktober 2008 dengan metode cesar. Sebelum lahir, sempat terjadi kontraksi dari pukul 17.00 tapi pembukaan baru 2. Dokter menyarankan untuk induksi, tapi ternyata hingga pukul  jam 20.00 baru pembukaan 4 sehingga induksi pun dihentikan. Di hari berikutnya, dokter menyarankan untuk cesar pukul 8 pagi.

Gathan lahir dengan berat badan 3,4 kg dan panjang 49 cm. Pemeriksaan pun dilakukan oleh dokter anak dan dinyatakan baik-baik saja. Setelah 5 hari di rumah sakit, keduanya pun diperbolehkan pulang.

Satu pekan berlalu, kontrol pun kembali dilakukan di dokter anak. Setelah diperiksa ternyata tubuh Gathan kuning akibat kurang minum dan kurang dijemur.

“Maklum pas lahir lagi musim hujan padahal di rumah sudah semaksimal mungkin selalu dihangatkan sampai disorotin pakai lampu,” kata Yuliantin kepada Disabilitas Liputan6.com melalui pesan tertulis Rabu (29/6/2022). 

Setelah didiagnosa dengan penyakit kuning, dokter menyarankan untuk cek lab guna pemeriksaan darah. 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Dikira Ketempelan

Pengecekan darah pun dilakukan dan hasilnya Bilirubin Gathan sangat tinggi di atas normal.

“Normalnya 8, ini bilirubin Gathan sampai 22 jadi Dokter menyarankan untuk dirawat di ruang perinatologi selama kurang lebih sebulan.”

Menurut ibu berusia 52 itu, Gathan tumbuh seperti anak-anak pada umumnya, lincah dan menggemaskan.

Hingga pada usia 10 bulan, Gathan demam tinggi sampai 40 derajat. Gathan pun menangis sambil menggerakkan kedua tangannya.

“Karena saya masih awam itu kejang atau bukan, ada tetangga bilang kalau itu ketempelan disuruhnya minta air sama orang pintar, saya manut aja. Tapi terbersit dalam hati masa iya ketempelan, lalu saya telpon suami yang sedang bekerja ,suami nyuruh agar segera bawa ke Rumah sakit.”

Gathan pun dilarikan ke IGD dan dokter mengatakan bocah itu harus dirawat di ruang Nicu. Setelah beberapa hari, dokter menyatakan kalau Gathan memiliki 2 kemungkinan. 

Kemungkinan pertama, Gathan tidak tertolong. Sedangkan kemungkinan kedua, jika tertolong maka tumbuh kembangnya tidak akan seperti anak pada umumnya.

3 dari 4 halaman

Didiagnosa Cerebral Palsy

Jika tertolong, akan ada kelainan dan harus ditangani dengan pengobatan dan terapi jangka panjang yang membutuhkan biaya banyak.

Alhamdulillah setelah berapa hari di Gathan tersadar.”

Namun, kondisi Gathan benar benar drop. Badanya seperti kaku dan seperti bayi baru lahir yang hanya bisa terdiam. Jangankan untuk menangis, sekadar menggerakan bibir saja tidak bisa.

“Tapi kami tetap berusaha untuk terapi dan melakukan pengobatan secara rutin. Pada usia 2, Gathan deman tinggi lagi dan dirawat di rumah sakit selama seminggu di RS demanya tidak turun disarankan untuk CT scan dan hasilnya bikin syok lagi.”

“Ternyata Gathan kena virus Enchepalitis, dari situ baru ketahuan kalau Gathan didiagnosa Cerebral Palsy.”

Kondisi Gathan yang menjadi pukulan tersendiri bagi keluarga itu tak serta-merta membuat mereka patah semangat. Yuliantin dan suaminya terus berusaha untuk memperjuangkan kesembuhan Gathan.

“Meskipun Gathan sering sakit-sakitan dan harus dirawat di rumah sakit, entah sudah belasan kali dirawat, percaya Allah maha baik, Allah tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan umatnya.”

 

4 dari 4 halaman

Gathan adalah Anugerah

Selain terapi di rumah sakit, pengobatan alternatif pun dijalani. Banyak yang merekomendasikan berbagai tempat pengobatan alternatif, walaupun biayanya tak sedikit, tapi tetap didatangi.

Hingga kini, Gathan masih memakan bubur yang halus dan belum dapat memakan nasi karena dapat tersedak.

“Karena Gathan ada diagnosa Epilepsi jadi harus minum obat rutin obat kejang, peralatan lain pun harus disediakan di rumah seperti tabung oksigen.”

Berbagai perjuangan yang telah dilakukan membuat Yuliantin sadar bahwa mempunyai anak seperti Gathan adalah anugerah baginya.

“Gathan adalah anak ketiga dari tiga bersaudara, paling bontot. Mempunyai anak CP harus sabar dan ikhlas meskipun butuh waktu untuk menjalaninya.”

Ia pun berpesan bagi para ibu dari anak disabilitas di luar sana untuk tetap menjalani kehidupan dengan bahagia.

“Seorang ibu harus tetap merasa bahagia karena kalau ibunya sedih anak pun ikut sedih. Meskipun lelah bahkan sering menangisi kondisi Gathan tapi melihat dia tersenyum dan tertawa bahagia jadi hilang rasa lelah dan sedih itu.”

“Apapun kondisinya jalaninya saja apa yang telah Allah gariskan. Yang penting tetap berdoa, berusaha semaksimal mungkin semampunya,” kata Yuliantin.

Kini di usia 13, Gathan masih belum bisa duduk sendiri dan belum bisa berbicara. Meski begitu, Yuliantin tidak berharap banyak, ia hanya ingin tetap sehat agar bisa mengurus Gathan dengan baik.