Sukses

Grab Indonesia Dikritik Netizen karena Pegawainya Diduga Merendahkan Orang Tuli

Liputan6.com, Jakarta Perusahaan transportasi online Grab Indonesia mendapat kritik dari netizen terkait perlakuan pegawainya yang dianggap merendahkan orang Tuli.

Hal ini berawal dari salah satu tweet @Mazzini. Ia menyertakan link kronologi soal teman Tuli yang akan melakukan interview di Grab dari akun instagram @tagorenatadiningrat.

"Kronologinya anak saya sampai didepan gedung, bertemu dengan security yang langsung secara tidak sopan mengusir dan melarang anak saya untuk masuk ( anak saya sudah mendapat undangan interview ). Anak saya kemudian menunjukan surat undangan dan diketemukan lagi oleh security lain ( mungkin kepala security ) yang lagi2 seperti tidak diterima dengan muka masam,dan raut wajah yang marah2. Kembali anak saya menunjukan isi watsap dan undangan yang tertulis bahwa dia diundang interview.

Sampai akhirnya diperbolehkan masuk bertemu salah satu pegawai yang lagi2 merendahkan anak saya yang jelas2 sudah tertulis bahwa anak saya tuli ( disable).Disuruh membaca dengan jelas dan keras,anak saya mengikuti. Sampai di tes dengan dipanggil dari jauh apakah anak saya mendengar. Apakah sebodoh itu pengertian bahwa di resume sudah tertulis anak saya tuli,tapi masih di cek2 seperti itu. Dipanggil,bertepuk tangan kencang2,seolah2 mengetes pendengaran anak saya yang memang tuli. Lalu diberitahu bahwa tidak ada lowongan untuk disable saat itu.

When my son told me what happened this morning, i was mad, sad and heartbroken.But i guess that is what Grab is all about.@grabid," tulisnya.

 

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

SURAT TERBUKA untuk Grab Indonesia.

Tonanda Putra dan istrinya yang Tuli pun membuat SURAT TERBUKA untuk Grab Indonesia.

"Saya kecewa pelayanan BURUK terhadap suamiku @tonandaputra di tempat pendaftaran mitra @grabid cakung .. Tentu saja saya tidak bisa menerima seperti itu..

Kronologinya tonan mau menunjukan surat undangan dan diketemukan lagi oleh security lain ( kepala security ) yang lagi2 seperti tidak diterima dengan muka masam,dan raut wajah yang marah2. Dia menunjukan isi WA dan undangan yang tertulis bahwa dia diundang interview.Malah Disuruh membaca dengan jelas dan keras, Tonan sudah mengikuti. Sampai di tes dengan dipanggil dari jauh, wah TIDAK SOPAN.. 😡 malah coba tes lg Dipanggil,bertepuk tangan kencang2,seolah2 mengetes pendengarannya yang memang Tuli.

Setelah itu malah diberitahu bahwa tidak ada lowongan untuk disabilitas Tuli. Ngacoow 🙄 sumpah saya kesel banget..

Tapi suamiku Tonan tidak marah atau tersinggung cuman KECEWA pelayanan nya yang BURUK !!Karena itu dianggap tidak sopan, tidak pantas, menghina dan merendahkan teman2 Tuli seperti ini.

Semoga ini menjadi pelajaran untuk @grabid kedepannya akan lebih baik, bisa memberi AKSES dan fasilitas umum RAMAH Disabilitas.. 🙂

Semoga kakak-kakak onlineku bukan golongan audism yaaa.. Marilah kita bersama-sama, bahu membahu, dan bergandengan tangan, mencapai pembangunan nasional yang inklusif.. #stopaudism

Hal ini pun mengundang tanggapan dari aktivis Tuli Surya Sahetapy. Ia menyampaikan, teman-teman Tuli-HH sudah sering sekali mengalami seperti ini. "Perjuangan ini tidak cukup tanpa bantuan teman-teman dengar. Be our Deaf Ally!," ungkapnya.

"Terima kasih sudah berani utk berbagi … Ka @tonandaputra @amanda_farliany," komentar Surya Sahetapy dalam laman akun instagram keduanya.

 

3 dari 4 halaman

Apa itu Audism?

Surya Sahetapy menyatakan, audism adalah bentuk pemikiran seseorang yang menganggap orang yang dapat mendengar lebih superior dibanding orang Tuli.

Contoh-contoh sikap audism meliputi:

- Tuli tidak mampu mencapai level orang dengar dalam berintelektual, berbahasa, berkarier, berkemampuan finansial, berkomunikasi dan lain-lain.

- Tuli tidak bisa jadi guru, pilot, pengacara, dokter dan lain-lain.

- Tuli tidak bisa menyetir mobil.

- Tuli tidak bisa kuliah.

- Tidak bisa berbicara, maka tidak punya masa depan.

- Bahasa Isyarat membuat orang malas berbicara.

- Tidak bisa berbaur dengan orang dengar.

- Tidak pakai alat bantu dengar, maka tidak sukses.

- Semua orang Tuli harus dipaksa latihan berbicara supaya pintar dan sukses.

- Banyak pemikiran lainnya yang menghambat kemajuan Tuli-HoH (hard of hearing) sendiri.

Kenapa audism bisa seperti itu? Karena sistem pendidikan dan sosial memisahkan Tuli-HoH dan non disabilitas dalam kehidupan.

"Kebanyakan orang non Tuli-HoH baru memahami Tuli-HoH pada usia dewasa apalagi belajar bahasa isyarat,” tulis Surya dalam unggahan Instagramnya.

Putra penyanyi Dewi Yull ini juga menyampaikan penyebab dari kondisi audism pada seseorang, yakni:

- Tidak ada guru Tuli-HoH yang mengajarkan bahasa isyarat di sekolah umum.

- Tidak ada pertukaran pelajar di antara sekolah Tuli-HoH dan umum.

“Ini pernah saya usulkan justru dibilang ‘impossible’. Yes, ini sudah biasa. Biasanya orang dengar lebih mendengarkan orang dengar dibanding orang Tuli-HoH.”

4 dari 4 halaman

Tanggapan Grab Indonesia

Grab Indonesia pun telah melayangkan tanggapannya terkait kasus ini. Dikutip dari akun twitter @GrabID, Grab menyampaikan sangat menyesalkan kejadian tersebut.

"Kami telah menghubungi beliau untuk mendapatkan informasi lebih lanjut, agar dapat segera melakukan investigasi internal menyeluruh dan mengambil tindakan tegas."

"Grab tidak mentolerir segala bentuk diskriminasi dan segera mengambil langkah-langkah yang dieprlukan agar hal seperti ini tidak terjadi lagi,"tulis pernyataan tersebut.

Grab juga menyampaikan bahwa sejak 2017, ratusan mitra pengemudi dan UMKM penyandang disabilitas telah bergabung. Bahkan untuk memperluas kesempatan tersebut, Grab memiliki program Mendobrak Sunyi pada 2019.

"Hubungan erat juga terjalin lebih dari tiga tahun antara kami dengan komunitas penyandang disabilitas seperti teman Tuli dan Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (GERKATIN), yang senantiasa memberi masukan dan arahan kepada kami," dalam pernyataan tersebut.

Pada Maret 2022, Grab meluncurkan program GrabAccess yang bertujuan untuk memberdayakan masyarakat rentan (penyandang disabilitas dan ibu tunggal) dengan bergabung dan berkembang di ekonomi digital.