Sukses

Forbes Ungkap 10 Momen Disabilitas Tak Terlupakan dari Film Game of Thrones

Liputan6.com, Jakarta Salah satu alasan banyak penyandang disabilitas menyukai serial film serial Game of Thrones adalah penggambaran disabilitas yang jelas nan memberdayakan.

Dilansir dari Forbes, ada 10 momen disabilitas yang sangat dikenang oleh Andrew Pulrang, penulis inklusi dan mungkin penyandang disabilitas lainnya, dari "Game of Thrones", terutama mengingat bulan Oktober adalah bulan Kesadaran Disabilitas. Dengan mengenang kesepuluh momen ini, kita bisa mengulas kembali pelajaran tentang disabilitas meskipun telah lewat dua tahun dari seri aslinya berakhir.

1. Saran Tyrion

Tyrion Lannister, pria keturunan bangsawan yang mengalami dwarfisme, saat di season 1 episode 1, tepatnya saat berbincang dengan anak tiri Lord Eddard Stark. Keduanya terlibat dalam penanganan stigma yang dipaksakan dari luar, serta dengan rasa identitas internal seseorang. Kemudian Tyrion bahkan merekomendasikan untuk merangkul identitas yang paling meresahkan sekalipun yang tidak pernah bisa kita hapus.

Banyak penyandang disabilitas saat ini mulai menyadari bahwa mendorong orang untuk menggunakan eufemisme seperti “berkemampuan berbeda”, atau menolak untuk “menganggap diri mereka sebagai penyandang disabilitas”, pada akhirnya tidak menghilangkan stigma disabilitas. 

2. "Lebih baik mati..."

Bran Stark muda yang di season 1 episode 2 menyadari bahwa ia tidak akan pernah berjalan lagi dan memiliki dorongan memilih kematian.

Terkadang pernyataan lebih baik mati daripada menjadi difabel tidak pernah benar-benar hilang, dan ini bukan hanya soal perasaan individu. Ini adalah keyakinan, hampir sebuah ideologi, yang masih mempengaruhi keputusan medis kehidupan nyata, dan mendorong perdebatan tentang kebijakan penting untuk membantu mental seseorang yang ingin bunuh diri.

 

2 dari 4 halaman

3. Adaptasi...

Dalam percakapan antara Tyrion dan Bran di season 1 episode 4, keduanya berdebat untuk beradaptasi dengan situasi masing-masing. Tyrion yang tertarik pada Bran yang baru menjadi difabel menawarkan adaptasi yang bisa benar-benar membebaskan Bran, terutama dalam budaya yang menganggap menunggang kuda berarti membutuhkan mobilitas dan kekuatan. Di saat yang sama, Tyron pada dasarnya mengulangi pesan sebelumnya kepada Bran bahwa lebih baik menerima keadaan daripada mencoba menghindari atau mengecilkannya.

"Aksesibilitas dan adaptasi adalah kunci kebebasan dan kesuksesan bagi hampir semua penyandang disabilitas. Kami tahu persis dan secara pribadi apa prospek sadel adaptif Bran. Serta beberapa dari kita juga tidak bisa menahan tawa ketika mengenali komentar yang dilontarkan Bran yang dengan keras menyangkal kelemahannya yang jelas," tulis Pulrang, dikutip dari Forbes. Hal ini menyiratkan bahwa meskipun ada cara sehat untuk hidup dengan disabilitas, namun sikap yang benar saja belum tentu dapat mengatasi ketidakmampuan. Tetapi jelas ada kekuatan dalam merangkul disabilitas dan beradaptasi dengannya.

4. Ayah terburuk Westeros..?

Tywin Lannister yang merupakan ayah Tyrion, memiliki karakter yang kompleks yang sulit untuk dibenci dan tegas. Sikapnya terhadap putranya Tyrion terkadang berubah dari penghinaan total menjadi kekaguman. Tapi dalam Season 3 Episode 1, tampaknya Tywin mengungkapkan perasaannya yang paling jujur dan terdalam, sayangnya itu jelek.

Meskipun saat ini hanya sedikit orang tua penyandang disabilitas yang memiliki kebencian dan penuh kejam seperti Tywin, setidaknya orang tua berkebutuhan khusus bisa secara tidak sadar memiliki sisi jelek bahkan terhadap anak mereka sendiri.

5. Tentang apa...

Tyrion diadili seumur hidupnya, dituduh membunuh raja. Tetapi setelah tiga setengah musim berjuang melawan penganiayaan terutama dengan komentar orang-orang terhadapnya terkait kemampuannya.

Hal ini dalam dunia nyata memang hanya segelintir orang yang dapat dengan jujur mengungkapkan bahwa prasangka disabilitas berada di balik segala sesuatu yang salah dalam hidup. Serta bagi sebagian besar dari kita, kemampuan benar-benar merupakan kunci dari sebagian besar hambatan praktis dan emosional.

 

3 dari 4 halaman

6. Oberyn sang sekutu...

Seorang pria yang tidak mencintai Lannister memberi tahu Tyrion tentang saat ia mengunjungi keluarga dan pertama kali melihat bayi Tyrion, yang dianggap oleh konsensus umum sebagai "monster yang lahir dari Tywin Lannister." Tapi bukan itu yang dilihat Oberyn.

Sama halnya dalam kehidupan nyata, terkadang kita bertemu dengan orang non-disabilitas yang seperti mengerti secara naluriah serta menerima penyandang disabilitas apa adanya, bahkan tanpa perlu memberikan pelatihan kesadaran disabilitas.

7. Season 7 Episode 1: “Dragonstone”

Pada adegan di episode ini, ada satu kalimat yang tidak layak disebutkan tetapi sulit untuk dilupakan. Yaitu ucapan sombong nan menjengkelkan saat Jaimie Lannister, seorang ksatria yang tangannya diamputasi.

Jika digambarkan dalam kehidupan nyata, kemampuan berperan besar dalam memengaruhi hukum prospek pekerjaan, dan mobilitas dasar. Sementara hanya ada intimidasi pada kelemahan. Adegan tersebut mengeksplorasi ketoksikan kemampuan. Meskipun kemampuan tidak selalu sama pada setiap penyandang disabilitas, sebab faktor lain juga ikut berperan.

8. Dalam keadaan yang berbeda…

Pada season 1 episode 3 Tyrion menjelaskan tempatnya di dunia kepada Jon Snow. Sementara Tyrion sering meratapi betapa ia diremehkan karena ia kurcaci, ia juga tahu betapa buruknya hidupnya jika ia juga bukan bagian dari keluarga bangsawan yang kaya dan berkuasa.

Adegan ini menyiratkan pentingnya bagi kita semua di komunitas disabilitas untuk mengakui bahwa kelas dan status sosial seringkali memiliki pengaruh besar pada cakupan harapan, ambisi, dan peluang yang diberikan kepada penyandang disabilitas. Itulah salah satu alasan mengapa peringkat menjadi toksik terutama ketika penyandang disabilitas saling membandingkan dan memberi peringkat atas pencapaian satu sama lain.

9. Bicara jujur...

Pada season 1 episode 3 lagi-lagi Tyrion menggarisbawahi betapa aset kekayaan penting terutama bagi para penyandang disabilitas. Ini adalah fakta bahwa budaya disabilitas dalam kehidupan nyata hampir tidak mau mengakuinya. Uang mungkin tidak dapat membeli kebahagiaan, tetapi uang dapat membeli banyak kebebasan dan kesempatan bagi orang-orang difabel yang cukup beruntung untuk memiliki uang.

10. Disabilitas dan hak istimewa

Pada adegan season 3 episode 4, Brienne berusaha membantu Jaime, yang tangannya baru saja dipotong oleh penculiknya. Jaime telah menghabiskan seluruh hidupnya menunggangi hak istimewanya, penuh dengan kesombongan yang tidak beralasan. Jadi Brienne mengutarakan pendapatnya tentang disabilitas baru Jaime. Ia akhirnya mengalami apa yang sebagian besar orang dengan kelemahan alami, seperti penderitaan dan kerugian yang nyata.

Ketika orang-orang dengan kekayaan dan hak istimewa seumur hidup tiba-tiba menjadi difabel, terkadang hal itu dapat menghasilkan wawasan dan empati baru bagi mereka. Tapi hal itu lebih sering awalnya memicu rasa mengasihani diri sendiri, kebencian yang berlebihan, dan perasaan tersinggung karena tiba-tiba tidak lagi dihormati ataupun menjadi aristokrat yang cakap lagi.

Beberapa penyandang disabilitas memang memiliki kelebihan dibanding yang lain. Itu bukan hal yang buruk maupun disebut tidak adil dalam hal disabilitas mereka. Tetapi penting bagi kita sebagai penyandang disabilitas untuk menyadari hal ini, dan tidak membohongi diri sendiri bahwa semua penyandang disabilitas memiliki kesempatan yang sama untuk bertahan dan sukses.

Meskipun film serial "Game of Thrones" masih belum bisa disebut menggambarkan disabilitas dengan baik bahkan beberapa karakter cenderung bermasalah, namun perkembangan cerita secara keseluruhan dianggap realistis. Sehingga masih ada sesuatu yang bisa menggambarkan disabilitas secara realistis. Anda juga mungkin akan tetap menjadi penggemar film ini untuk lebih memahami gambaran disabilitas klasik selama bertahun-tahun yang akan datang.

4 dari 4 halaman

infografis perfilman indonesia