Sukses

Cerita Silvia Piobang, Disabilitas Daksa yang Kembali Merajut Hidup Usai 5 Tahun Terpuruk

Liputan6.com, Jakarta Kecelakaan tunggal 7 mei 2001 seketika mengubah kehidupan Silvia Piobang dari non disabilitas menjadi penyandang disabilitas daksa berkursi roda.

Menurut perempuan asal Padang, Sumatera Barat ini, menjadi seorang penyandang disabilitas bukanlah hal yang mudah. Tragedi berat membuatnya terpukul dan bahkan sempat terlintas dalam pikirannya untuk mengakhiri hidup sesaat setelah dokter memvonis lumpuh total.

“Namun amak (ibu) selalu menguatkan. Saya sempat merasa bahwa Tuhan tidak adil. Menghancurkan mimpi-mimpi dan semua berubah berbanding terbalik dalam satu malam,” ujar Silvia dalam keterangan tertulis kepada kanal Disabilitas Liputan6.com, ditulis Minggu (9/5/2021).

Butuh waktu lama untuk Silvia kembali bangkit dari keterpurukan. Kurang lebih ia menghabiskan 5 tahun hingga benar-benar dapat menerima keadaan. Selama itu pula banyak penolakan, cemoohan, dan hinaan yang ia dapat bahkan dari orang terdekat.

“Tetapi justru itu yang membuat saya bangkit dan semangat untuk menata hidup kembali agar bisa memberi manfaat buat orang lain,” katanya.

Perempuan berhijab ini pun akhirnya menyadari, kendati memiliki keterbatasan, tapi itu bukan alasan untuk tidak berkarya. Mengingat hidup terus berjalan, ia pun mulai berpikir kegiatan apa yang bisa dilakukan dengan kondisi fisik yang terbatas.

“Tidak sedikit saya mencoba beberapa keterampilan dan dari situ mulai menghasilkan pundi-pundi rupiah, mulai dengan kristik, sulam, payet dan rajutan. Akhirnya di 2015 saya menetapkan rajutan sebagai usaha yang akan ditekuni sebagai sumber penghasilan.”

2 dari 4 halaman

Alasan Memilih Rajutan

Tahun 2015 menjadi tonggak awal Silvia menekuni dunia rajut-merajut. Alasannya memilih rajutan karena selain tidak memerlukan ijazah khusus, pengerjaannya pun bisa dilakukan di mana saja, kapan saja, dan dalam posisi apapun sesuai dengan kondisinya saat ini.

“Butuh beberapa bulan untuk belajar dan memahirkan tangan membuat rajutan. Walau awalnya terasa sulit, ternyata kegiatan merajut cukup menyenangkan dan membahagiakan, apalagi jika berhasil memecahkan tantangan dari para pelatih rajut,” katanya.

Setelah merasa cukup mahir, ia pun membuka jasa rajut untuk beberapa pesanan kecil yang dapat dikerjakan dalam waktu cepat. Seperti sarung galon air mineral, sarung kotak tisu, taplak meja, sarung ponsel, dompet kecil dan syal.

“Itupun hanya dari kenalan, tetangga, dan saudara saudara dekat saja.”

Tak berhenti sampai di situ, perempuan yang menemukan kembali semangatnya dari dunia rajut ini rajin mengikuti kelas daring terkait rajut-merajut. Bahkan ia masuk ke grup Whatsapp dan Facebook guna meningkatkan kemampuan merajutnya.

Selang beberapa waktu, karya-karya Silvia yang berkualitas baik dilirik dinas usaha mikro kecil menengah (UMKM) di padang dan membuatnya memiliki kesempatan menjadi binaan dari dinas tersebut.

“Alhamdulillah di tahun 2019 saya mendapatkan sponsor dari salah satu BUMN modif motor roda 3 yang menjadi penunjang mobilitas dalam beraktivitas melakukan kegiatan UMKM maupun di organisasi disabilitas.”

“Sejak itu pula lah saya aktif memperkenalkan dan memasarkan produk rajut ‘Silvia Piobang Handycraft’.

Merek dagang ‘Silvia’ diambil dari namanya sendiri, sedangkan ‘Piobang’ adalah tanah kelahirannya. Nama ini dipilih karena dinilai spesifik, gampang diingat, dan punya harga jual.

Semangatnya dalam merajut kehidupan membawanya pada situasi yang lebih baik. Ia bahkan aktif memberdayakan penyandang Tuli setempat agar ikut berkembang.

Atas segala langkah positif yang dijalani, Silvia mendapat piagam penghargaan dari Pemko Padang di Hari Ulang Tahun Kota Padang yang ke-351 pada 7 Agustus 2020 dalam kategori tokoh masyarakat yang berperan aktif dalam bidang sosial.

“Buatlah keterbatasan menjadi senjata yang sangat ampuh untuk meraih sukses,” pungkasnya.

 

3 dari 4 halaman

Infografis Tunjangan Khusus Penyandang Disabilitas di Jakarta

4 dari 4 halaman

Simak Video Berikut Ini