Sukses

Sempat Ditolak Sekolah Keperawatan, Kini Andrea Dikenal Sebagai Perawat Disabilitas Pertama

Liputan6.com, Jakarta Menjadi mahasiswa tenaga medis, seperti keperawatan, harus memiliki tubuh yang sehat. Namun yang dialami Andrea Dalzell BSN, RN. sangat berbeda bagi kebanyakan orang. Bayangkan Anda lulus ujian masuk, namun malah disuruh pergi karena dianggap tidak bisa menjadi perawat hanya karena menggunakan kursi roda. Itulah yang terjadi pada Andrea, perawat terdaftar disabilitas yang menggunakan kursi roda sehingga dikenal sebagai "Perawat yang Duduk".

Kisah Andrea Menuju Gelar Perawat

Pada usia lima tahun, Andrea didiagnosis dengan Transverse Myelitis. Yaitu kelainan neurologis yang merusak mielin yang melindungi saraf tulang belakang. Pada usia 12 tahun, ia tidak lagi bisa berjalan sehingga kemudian ia harus menggunakan kursi rodauntuk kebutuhan mobilitasnya. Diagnosis yang ia dapatkan mirip seperti cedera tulang punggung, jadilah ia dianggap lumpuh sebagian paraplegia (kehilangan kemampuan menggerakkan anggota tubuh bagian bawah) T10-L1.

Cita-citanya waktu kecil bukan menjadi perawat, melainkan pengacara. Waktu kecil ia berpikir jika menjadi pengacara maka ia akan menuntut dokter atas semua rasa sakit yang mereka berikan padanya. Andrea merasa terkekang karena bahkan untuk menghadiri upacara kelulusan SMP nya harus mendapat izin meninggalkan rumah sakit dari dokternya. Dokter dan perawatnya menghadiri kelulusan Andrea, sehingga Andrea mulai berharap dapat menjadi pengacara.

Saat masuk SMA, Andrea mulai berpikir ingin menjadi dokter dan mencari cara menyembuhkan rasa sakit dan menjadi tenaga medis profesional terbaik bagi mereka yang menggunakan kursi roda. Saat mengikuti kelas kedokteran, Andrea akhirnya menyadari bahwa pengobatan dibentuk selama proses penyakit dan mengobati diagnosisnya, bukan mengobati orang seutuhnya.

Sedangkan Andrea tidak ingin memberitahu orang lain tentang kualitas hidup mereka yang tidak akan pernah bisa melakukan sesuatu dengan baik karena keterbatasan oleh disabilitas. Namun setelah bercakap-cakap dengan perawat, memberi ide pada Andrea bahwa ia juga bisa menjadi perawat. Ia bisa mengobati orang secara rohani dan tidak hanya berdasarkan penyakit mereka.

Perjuangan Andrea menjadi perawat tak lepas dari tantangan. Sejak masuk sekolah keperawatan, ia sudah menjalani perjuangan yang berat. Untuk bisa masuk, harus memiliki nilai yang bagus. Bahkan setelah berhasil lulus, di hari pertamanya menjalani orientasi, ia dikeluarkan dari kelas karena profesornya sendiri tidak yakin bagaimana Andrea bisa menjadi perawat.

Teman-temannya memberitahu bahwa kursi rodanya mengganggu mereka dan ia diberitahu bahwa perawatan itu sulit untuk ia lakukan. Namun tantangan tersebut untungnya hanya berasal dari bias kecacatan orang lain, bukan berdasarkan kemampuannya yang sebenarnya, jadi Andrea tidak menyerah begitu saja.

Andrea sudah menyadari bahwa untuk bisa bergabung dalam ruang lingkup perawat harus memiliki fisik yang kuat untuk melakukan CPR. Sehingga ia berlatih boxing untuk membangun kekuatan dan staminanya untuk kompresi dada.

 

2 dari 3 halaman

Perawat disabilitas

Ia merupakan orang pertama di keperawatan yang memiliki disabilitas, sehingga ia menyadari pentingnya komunikasi. Ia sering berbicara dengan profesor untuk mengatur situasi yang cocok baginya di lapangan, sehingga ia bisa mendapatkan pengalaman pelatihan yang sama yang didapatkan rekan sejawatnya. Namun dalam beberapa kasus ia dikecualikan karena aksesibilitas, seperti misalnya kursi rodanya yang dianggap berisiko terinfeksi. Tapi buktinya ia bisa melalui itu semua.

Dengan bekal ilmu dan pengalamannya, saat kondisi pandemi COVID-19 Andrea sudah melakukan tindakan pencegahan, misalnya rutin membersihkan kursi rodanya untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

Adapun pesan dari Andrea yang menganggap kursi rodanya sebagai penghambat dalam kerjaannya, Andrea menjawab kalau kursi rodanya adalah kebebasannya yang memungkinkannya dapat meninggalkan tempat tidur sekaligus terlibat dalam komunitas dan menjadi bagian dari masyarakat.

"Setiap orang bisa berubah. Perubahan datang ketika kita melihat kebutuhan dan tidak mempertanyakan bagaimana kita akan memperbaikinya sendiri, tetapi melakukan percakapan kolektif yang mengarah pada rencana tindakan," katanya.

"Orang-orang dengan semua jenis disabilitas memiliki tempat dan pantas dihargai karena kecemerlangan yang mereka bawa ke setiap sisi. "

"Pandanglah rintangan sebagai tantangan untuk berubah bagi orang lain, bicaralah. Jangan biarkan batasan masyarakat tentang Anda menghentikan Anda dari memiliki nilai atau suara untuk membuat perubahan terjadi. Perubahan hanya terjadi saat seseorang berani untuk berbicara".

3 dari 3 halaman

Simak Video Berikut Ini: