Liputan6.com, Jakarta - Berbeda pendapat dengan orang lain merupakan hal yang wajar dalam kehidupan sehari-hari. Perbedaan tersebut bisa muncul ketika berdiskusi dengan rekan kerja, berbicara bersama pasangan, menyampaikan pendapat dalam keluarga, hingga bertukar pandangan dengan teman. Namun, cara menyampaikan ketidaksetujuan sering kali menentukan apakah sebuah percakapan berakhir dengan saling memahami atau justru berkembang menjadi konflik.
Tidak semua orang mampu menerima pandangan yang berbeda dengan mudah. Ada yang langsung membantah, meninggikan suara, atau merasa perlu membuktikan bahwa pendapatnya paling benar. Padahal, ketidaksetujuan tidak harus disampaikan dengan nada menyerang. Seseorang tetap bisa mempertahankan prinsipnya sambil menghargai pemikiran orang lain.
Memahami cara menyampaikan ketidaksetujuan lewat sikap yang tetap menghargai lawan bicara dapat membantu membangun komunikasi yang lebih sehat. Kuncinya bukan selalu mengalah atau menyembunyikan pendapat, melainkan menyampaikan perbedaan secara jelas, tenang, dan tidak merendahkan orang yang memiliki pandangan berbeda. Lantas bagaimana saja cara menyampaikan ketidaksetujuan lewat sikap yang tetap menghargai lawan bicara? Melansir dari berbagai sumber, Sabtu (17/10/2026), simak ulasan informasinya berikut ini.
Advertisement
1. Dengarkan Pendapat Lawan Bicara sampai Selesai
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5045436/original/001319800_1733898756-1733893920669_tujuan-komunikasi-bisnis.jpg)
Salah satu cara menyampaikan ketidaksetujuan dengan baik adalah memberikan kesempatan kepada orang lain untuk menyelesaikan penjelasannya. Ketika seseorang menyampaikan pendapat, hindari langsung menyela hanya karena ada bagian yang tidak disetujui. Mendengarkan sampai selesai membantu kita memahami alasan, pengalaman, dan pertimbangan yang mendasari pandangannya.
Kebiasaan menyela dapat membuat lawan bicara merasa tidak dihargai. Bahkan, sebelum diskusi memasuki inti persoalan, suasana bisa berubah menjadi ajang saling mempertahankan diri. Sebaliknya, ketika seseorang merasa didengarkan, ia cenderung memiliki ruang lebih besar untuk menjelaskan pemikirannya dan mendengarkan tanggapan dari pihak lain.
Mendengarkan bukan berarti harus menyetujui semua yang dikatakan. Sikap ini justru menunjukkan bahwa kita bersedia memahami persoalan sebelum memberikan penilaian. Setelah lawan bicara selesai berbicara, sampaikan bagian yang tidak disetujui beserta alasannya agar percakapan tetap berfokus pada gagasan, bukan pada siapa yang paling benar.
Advertisement
2. Gunakan Kalimat yang Berfokus pada Pendapat, Bukan Pribadi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5116626/original/050299800_1738378989-1738375658228_tujuan-akuntansi-keuangan.jpg)
Pilihan kata sangat berpengaruh ketika menyampaikan perbedaan pandangan. Kalimat seperti "Pendapatmu salah sekali" atau "Kamu memang tidak mengerti masalahnya" dapat terdengar menyerang pribadi. Akibatnya, lawan bicara mungkin lebih sibuk membela diri daripada mempertimbangkan argumen yang disampaikan.
Agar komunikasi tetap saling menghargai, fokuskan tanggapan pada gagasan atau keputusan yang sedang dibahas. Misalnya, daripada mengatakan bahwa seseorang tidak memahami persoalan, kita dapat menyampaikan bahwa ada bagian dari pendapatnya yang perlu dipertimbangkan kembali. Cara ini membantu menunjukkan ketidaksetujuan tanpa memberi label negatif kepada orang lain.
Contoh kalimat yang bisa digunakan adalah, "Aku memahami alasanmu, tetapi aku melihat persoalan ini dari sudut pandang yang berbeda." Kalimat tersebut mengakui keberadaan pandangan lawan bicara sekaligus membuka ruang untuk menyampaikan pendapat sendiri. Dengan begitu, perbedaan tidak harus berubah menjadi serangan personal.
3. Jelaskan Alasan Ketidaksetujuan secara Jelas dan Logis
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5117163/original/015593100_1738380695-1738376647280_tujuan-manajemen-strategi.jpg)
Ketidaksetujuan akan lebih mudah dipahami ketika disertai alasan yang konkret. Sekadar mengatakan "Aku tidak setuju" memang dapat menyampaikan posisi kita, tetapi belum tentu membantu orang lain memahami dasar pemikiran tersebut. Karena itu, jelaskan pertimbangan, fakta, pengalaman, atau risiko yang membuat kita memiliki pandangan berbeda.
Sebagai contoh, ketika rekan kerja mengusulkan tenggat waktu yang terlalu singkat, kita tidak harus langsung menolak usulannya. Kita dapat menjelaskan bahwa waktu tersebut berisiko membuat proses pemeriksaan terlewat atau menurunkan kualitas hasil pekerjaan. Penjelasan yang spesifik membuat ketidaksetujuan terasa lebih konstruktif karena berorientasi pada persoalan yang perlu diselesaikan.
Hindari menggunakan alasan yang dibuat-buat hanya untuk membenarkan pendapat sendiri. Jika ketidaksetujuan didasarkan pada pengalaman pribadi, sampaikan sebagai pengalaman, bukan sebagai kebenaran yang berlaku untuk semua orang. Sikap ini menunjukkan bahwa kita memiliki alasan yang dapat dipertanggungjawabkan sekaligus terbuka terhadap informasi baru.
Advertisement
4. Jaga Nada Suara dan Bahasa Tubuh
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5116869/original/095557600_1738379758-1738376113376_tujuan-kerja-sama.jpg)
Ketidaksetujuan tidak hanya disampaikan melalui kata-kata, tetapi juga lewat nada suara, ekspresi wajah, dan gerakan tubuh. Kalimat yang sebenarnya sopan bisa terdengar merendahkan jika diucapkan dengan nada sinis, disertai tawa mengejek, atau diiringi gestur yang menunjukkan ketidaksabaran. Karena itu, cara penyampaian perlu diperhatikan sama seriusnya dengan isi pesan.
Usahakan berbicara dengan nada yang stabil dan volume suara yang wajar. Hindari menunjuk wajah lawan bicara, memutar mata, menghela napas secara demonstratif, atau menunjukkan ekspresi seolah-olah pendapatnya tidak layak didengarkan. Sikap tersebut dapat memperbesar ketegangan, bahkan ketika argumen yang disampaikan sebenarnya masuk akal.
Menjaga bahasa tubuh bukan berarti harus selalu tersenyum atau berpura-pura nyaman. Kita tetap boleh menunjukkan keseriusan, kebingungan, atau keberatan. Hal yang perlu dijaga adalah agar ekspresi tersebut tidak digunakan untuk mempermalukan orang lain. Ketegasan yang disampaikan dengan tenang sering kali lebih membantu daripada respons keras yang justru mengaburkan inti pembicaraan.
5. Akui Bagian dari Pendapat yang Bisa Dipahami
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5002191/original/014272300_1731386672-tujuan-teks-diskusi-adalah.jpg)
Dalam sebuah diskusi, pendapat yang berbeda tidak selalu sepenuhnya benar atau sepenuhnya salah. Ada kemungkinan lawan bicara memiliki alasan yang masuk akal, meskipun kita tidak sependapat dengan kesimpulan akhirnya. Mengakui bagian yang dapat dipahami menunjukkan bahwa kita menilai argumen secara adil, bukan menolak semuanya hanya karena memiliki pandangan berbeda.
Misalnya, ketika berdiskusi tentang rencana perjalanan keluarga, kita mungkin memahami alasan seseorang ingin memilih tempat yang lebih murah. Namun, kita juga memiliki pertimbangan mengenai jarak, kenyamanan, atau kebutuhan anggota keluarga lainnya. Kita bisa mengakui bahwa penghematan biaya merupakan hal penting, lalu menjelaskan mengapa pilihan lain perlu dipertimbangkan.
Pengakuan semacam ini bukan tanda kelemahan atau kekalahan dalam diskusi. Justru, kita menunjukkan kemampuan membedakan bagian yang disetujui dan bagian yang masih dipersoalkan. Percakapan pun menjadi lebih seimbang karena kedua pihak memiliki kesempatan untuk menyampaikan pertimbangan tanpa harus meniadakan seluruh pemikiran satu sama lain.
Advertisement
6. Hindari Memaksakan Persetujuan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5116756/original/019724200_1738379393-1738375896789_apa-tujuan-pembangunan-berkelanjutan.jpg)
Menyampaikan pendapat dengan baik tidak menjamin lawan bicara akan langsung menerima pandangan kita. Setiap orang memiliki pengalaman, prioritas, dan cara berpikir yang berbeda. Karena itu, setelah menyampaikan alasan ketidaksetujuan, berikan ruang bagi orang lain untuk mempertimbangkannya tanpa terus mendesak agar ia mengakui bahwa kita benar.
Memaksakan persetujuan dapat membuat percakapan terasa seperti perlombaan untuk memenangkan argumen. Kita mungkin mengulang penjelasan berkali-kali, memotong jawaban lawan bicara, atau menggunakan kata-kata yang menekan. Padahal, tujuan komunikasi yang sehat bukan selalu menghasilkan kesimpulan yang sama, melainkan memastikan setiap pihak memahami posisi masing-masing.
Jika persoalannya tidak mengharuskan keputusan segera, percakapan dapat dilanjutkan setelah kedua pihak memiliki waktu untuk berpikir. Namun, apabila keputusan perlu diambil bersama, fokuskan diskusi pada kebutuhan, fakta, dan pilihan yang tersedia. Kita bisa tetap teguh pada pendirian tanpa menganggap bahwa orang lain wajib mengubah pandangannya saat itu juga.
7. Kelola Emosi sebelum Percakapan Berubah Menjadi Pertengkaran
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5116538/original/023414800_1738378706-1738375497119_tujuan-rekam-medis.jpg)
Perbedaan pendapat terkadang menyentuh hal yang sensitif, terutama ketika berkaitan dengan prinsip pribadi, hubungan keluarga, atau keputusan penting. Dalam situasi seperti ini, rasa kesal dapat muncul sebelum kita sempat menyusun tanggapan. Jika emosi mengambil alih, kita berisiko mengucapkan sesuatu yang menyakitkan dan sulit ditarik kembali.
Ketika mulai merasa marah, cobalah memperlambat respons. Tarik napas dengan tenang, beri jeda sebelum menjawab, dan pastikan kita memahami inti pernyataan lawan bicara. Tidak semua komentar harus dibalas seketika. Mengambil waktu sejenak dapat membantu kita membedakan antara keberatan terhadap suatu gagasan dan reaksi emosional terhadap cara gagasan itu disampaikan.
Jika suasana sudah terlalu panas, mengusulkan jeda merupakan pilihan yang wajar. Kita bisa mengatakan, "Aku ingin membicarakan ini dengan baik, tetapi sepertinya kita perlu menenangkan diri sebentar." Jeda bukan cara untuk menghindari persoalan selamanya, melainkan kesempatan agar pembicaraan dapat dilanjutkan dengan lebih terkendali dan saling menghormati.
Advertisement
8. Cari Titik Temu tanpa Mengorbankan Prinsip
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5116494/original/083589100_1738378576-1738375414061_tujuan-administrasi-kepegawaian.jpg)
Ketika dua orang memiliki pendapat berbeda, salah satu langkah yang bisa dicoba adalah mencari bagian yang menjadi kebutuhan bersama. Cara ini membantu mengalihkan perhatian dari persaingan untuk menang menuju upaya menemukan solusi yang dapat diterima. Terlebih dalam hubungan kerja, keluarga, atau pertemanan, persoalan sering kali dapat diselesaikan melalui penyesuaian dan kompromi.
Sebagai contoh, dua rekan kerja mungkin berbeda pendapat tentang cara menyelesaikan sebuah proyek. Satu orang ingin mengutamakan kecepatan, sedangkan yang lain menekankan ketelitian. Alih-alih terus memperdebatkan metode masing-masing, keduanya dapat mencari langkah yang memungkinkan pekerjaan selesai tepat waktu tanpa mengabaikan pemeriksaan kualitas. Dengan demikian, perbedaan menjadi bahan untuk menemukan pendekatan yang lebih baik.
Meski demikian, mencari titik temu bukan berarti harus mengorbankan prinsip atau menerima keputusan yang merugikan. Ada situasi ketika kita perlu mempertahankan batasan, menolak tindakan yang tidak etis, atau menyampaikan keberatan dengan tegas. Sikap saling menghargai tetap dapat dijaga dengan menjelaskan batasan tersebut secara jelas tanpa menghina atau mengintimidasi pihak lain.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Cara Menyampaikan Ketidaksetujuan lewat Sikap
1. Bagaimana cara menyampaikan ketidaksetujuan tanpa menyinggung perasaan orang lain?
Dengarkan pendapatnya sampai selesai, gunakan bahasa yang tidak menyerang pribadi, dan jelaskan alasan ketidaksetujuan secara spesifik. Hindari sindiran, nada meremehkan, atau kalimat yang menyalahkan karakter seseorang. Meski begitu, kita tidak dapat menjamin orang lain sama sekali tidak merasa tersinggung. Yang bisa dilakukan adalah menyampaikan keberatan dengan niat baik dan cara yang menghormati dirinya.
2. Apakah menyampaikan ketidaksetujuan berarti tidak menghargai orang lain?
Tidak. Ketidaksetujuan merupakan bagian wajar dari komunikasi. Menghargai orang lain berarti memberikan ruang bagi mereka untuk memiliki pandangan sendiri, bukan selalu mengikuti pendapatnya. Seseorang dapat menolak sebuah gagasan dengan tetap menghormati orang yang menyampaikannya.
3. Apa yang harus dilakukan jika lawan bicara tetap marah meskipun kita sudah berbicara dengan sopan?
Tetap tenang dan hindari membalas kemarahan dengan serangan pribadi. Jika percakapan tidak lagi berjalan produktif, ajukan jeda dan lanjutkan ketika kedua pihak lebih siap berdiskusi. Jika lawan bicara terus menghina atau mengintimidasi, kita berhak menetapkan batasan dan menghentikan percakapan tersebut.
4. Bagaimana cara berbeda pendapat dengan atasan tanpa dianggap melawan?
Sampaikan pandangan dengan bahasa profesional, sertakan alasan atau data yang relevan, dan jelaskan dampak dari pilihan yang sedang dipertimbangkan. Misalnya, gunakan kalimat, "Saya memahami pertimbangannya. Namun, berdasarkan kondisi saat ini, ada risiko yang mungkin perlu kita antisipasi." Cara ini memungkinkan kita menyampaikan keberatan tanpa mengabaikan konteks hubungan kerja.
5. Apakah kita harus selalu mencari kompromi saat berbeda pendapat?
Tidak selalu. Kompromi dapat membantu ketika kedua pihak memiliki kebutuhan yang masih bisa diselaraskan. Namun, untuk persoalan yang menyangkut keselamatan, etika, hak pribadi, atau batasan penting, mempertahankan pendirian mungkin diperlukan. Yang perlu dijaga adalah cara menyampaikan keputusan tersebut agar tetap jelas dan tidak merendahkan orang lain.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3490146/original/023335400_1624374674-Chatbot_WA_Cek_Fakta3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9324489/original/034633400_1786708826-cek_fakta_balik_nama.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9375486/original/079437900_1792149415-cek_fakta_-OJK_pinjol.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9350102/original/012008800_1789559335-Cek_fakta_-_ustaz_Abdul_Somad.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5111884/original/063852100_1738068911-Wanita_pemberani.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355267/original/005978200_1790095519-Menagg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371001/original/004173100_1791721798-WhatsApp_Image_2026-10-11_at_6.54.17_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5427964/original/012065600_1764470522-IMG-20251130-WA0005.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9365617/original/042955600_1791187258-01M45DMPJ8VXV3PRP9N1AFM78Z.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9365226/original/064546500_1791161913-pexels-karola-g-4959907.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3910730/original/083515700_1642751767-jon-tyson-rbz1hVh7_LM-unsplash_1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372709/original/047980800_1791887671-97b94400-b625-46f3-bad7-2956bd9208a8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9375682/original/051522500_1792208289-fe3d4e10-2791-43d5-8b79-99031286ff88.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3336994/original/047244000_1609322346-bin-thi-u-6MJFY84BaSk-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4948537/original/079557100_1726804807-pexels-hiday-t-i-sg-nd-rsoy-1178625345-23092150.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372376/original/079614000_1791878107-2149893752.jpg)