Ciri Orang yang Selalu Pilih Rute Sama Menurut Psikologi

Kenali ciri orang yang selalu pilih rute sama meski ada jalan lebih cepat menurut psikologi, dari kebutuhan otak akan kepastian hingga rasa aman.

Diterbitkan 17 Oktober 2026, 17:00 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Pernahkah kamu sadar bahwa setiap hari kamu melewati jalan yang itu-itu saja, padahal ada rute lain yang mungkin lebih singkat? Kebiasaan ini jauh lebih umum daripada yang kamu kira, dan ciri orang yang selalu pilih rute sama meski ada jalan lebih cepat menurut psikologi ternyata bisa dijelaskan secara ilmiah.

Dari luar, memilih jalur yang sama mungkin terlihat monoton, membosankan, atau kurang efisien. Namun bagi otak, jalan yang sudah dikenal justru menawarkan kepastian dan rasa aman yang sulit ditukar dengan hitungan beberapa menit.

Berdasarkan riset yang dirangkum Psychology Today, hampir separuh perilaku harian kita dijalankan secara otomatis sebagai kebiasaan, bukan hasil keputusan sadar. Karena itu, memahami ciri orang yang selalu pilih rute sama meski ada jalan lebih cepat menurut psikologi sebenarnya membantu kamu mengenali cara kerja pikiranmu sendiri.

 

Apa Itu Kebiasaan Memilih Rute yang Sama?

Sebelum masuk ke cirinya, kamu perlu tahu dulu apa sebenarnya kebiasaan ini. Secara sederhana, memilih rute yang sama adalah perilaku ketika seseorang mengulang jalur yang itu-itu saja menuju tujuan rutin, meski secara logika ada alternatif yang lebih pendek. Dalam psikologi, pola semacam ini masuk ke kategori kebiasaan atau habit, yaitu respons yang terbentuk dari pengulangan.

Sebagaimana diungkapkan Wendy Wood dan Dennis Runger dalam kajian Psychology of Habit di jurnal Annual Review of Psychology, kebiasaan terbentuk ketika seseorang berulang kali memberikan respons yang sama dalam konteks yang serupa. Seiring pengulangan, respons itu menjadi semakin otomatis dan efisien, sehingga kamu tidak perlu lagi menimbang setiap belokan sepanjang perjalanan.

Menariknya, pilihan rute tidak selalu soal jalan tercepat. Mengacu pada penelitian Antonio Lima dan rekan-rekannya yang menganalisis 92.419 perjalanan GPS anonim, sebagian besar pengemudi hanya menggunakan sedikit rute untuk perjalanan rutin dan cenderung punya rute favorit, sekalipun jalur itu belum tentu paling optimal secara waktu maupun jarak.

Pola serupa muncul di banyak kebiasaan kecil lain. Orang yang selalu memesan menu yang sama di tempat makan favorit, misalnya, sebenarnya sedang menyederhanakan keputusan yang berulang agar energi mentalnya tidak cepat terkuras.

Baca juga: Ciri Orang yang Selalu Menaruh Barang di Tempat yang Sama Menurut Psikologi

Ciri Orang yang Selalu Pilih Rute Sama Meski Ada Jalan Lebih Cepat Menurut Psikologi

Lalu, seperti apa sebenarnya karakter di balik kebiasaan ini? Setidaknya ada beberapa ciri orang yang selalu pilih rute sama meski ada jalan lebih cepat menurut psikologi yang cukup sering muncul, mulai dari cara mereka mengelola energi mental hingga sikap terhadap perubahan.

Ciri pertama, mereka sangat menghargai efisiensi mental. Alih-alih setiap pagi membanding-bandingkan beberapa jalan, mereka memilih jalur yang sudah dikuasai supaya otak bisa fokus pada hal lain yang lebih penting. Bagi mereka, menghemat tenaga berpikir sering kali lebih berharga daripada menghemat beberapa menit di perjalanan.

Ciri berikutnya adalah kecenderungan menghargai keandalan dan kesetiaan. Mereka tidak buru-buru meninggalkan sesuatu yang sudah terbukti bekerja hanya karena ada pilihan baru yang tampak menggoda. William James, dikutip dari The Expert Editor, menggambarkan kebiasaan sebagai "roda gila raksasa masyarakat" yang membentuk hidup manusia jauh lebih besar daripada ledakan inspirasi sesaat.

Ciri lain, orang seperti ini umumnya tenang dan stabil secara emosi. Kebiasaan memilih jalur familiar kerap berjalan seiring kebutuhan akan kendali, mirip dengan pola yang terlihat pada ciri orang yang berjalan cepat yang sudah tahu persis arah tujuannya. Kalau kamu penasaran bagaimana kebiasaan sederhana bisa membuka karakter dari tindakan sehari-hari, pola memilih rute ini adalah salah satu contoh yang paling gampang diamati.

Baca juga: Kepribadian Orang yang Suka Berjalan Cepat Menurut Psikologi

 

Alasan Otak Lebih Nyaman dengan Rute yang Familiar

Kenapa otak begitu betah dengan rute yang sudah dikenal? Jawabannya berkaitan erat dengan cara pikiran kita mengelola beban dan ketidakpastian setiap hari.

Merujuk studi Jeremiah, Butson, dan Oke dalam jurnal Psychological Research, rutinitas dan kebiasaan dapat memberi stabilitas, mengurangi beban kognitif, membantu pencapaian tujuan, sekaligus menurunkan stres. Setiap kali kamu tidak perlu memutuskan jalan mana yang diambil, ada satu keputusan kecil yang hilang dari daftar panjang keputusan harianmu.

Rute familiar juga memberi rasa prediktabilitas. Kamu sudah tahu di mana lampu merah, tikungan, atau titik yang biasanya macet, sehingga perjalanan terasa lebih terkendali. Wendy Wood, dikutip dari ScienceDaily, menjelaskan, "Kita mengulangi apa yang berhasil, dan ketika tindakan diulang dalam konteks yang stabil, kita membentuk asosiasi antara isyarat dan respons."

Ada pula sisi manajemen risiko. Pada jalur langganan, kamu hafal lubang jalan, persimpangan yang rawan, atau ruas yang perlu diwaspadai, dan pengetahuan itu memberi rasa aman. Dorongan mencari kepastian yang serupa juga terlihat pada ciri orang yang selalu menyimpan kantong plastik atau mereka yang sering memeriksa jam meski tidak sedang terburu-buru.

Baca juga: Ciri Orang yang Langsung Mencuci Piring Setelah Makan Menurut Psikologi

 

Kata Riset dan Pakar Soal Kebiasaan Rute yang Sama

Sederet riset memperkuat mengapa kebiasaan rute yang sama begitu melekat dan sulit diganggu gugat. Bukan karena orangnya kaku, melainkan karena otak memang dirancang untuk mengulang hal yang terbukti aman.

Mengutip laporan ScienceBlog, dua studi buku harian oleh Wendy Wood, Jeffrey Quinn, dan Deborah Kashy yang terbit di Journal of Personality and Social Psychology menggolongkan sekitar 35 hingga 43 persen perilaku peserta sebagai kebiasaan, karena dilakukan hampir setiap hari dan biasanya di tempat yang sama. Peserta pun menilai tindakan yang sudah menjadi kebiasaan menuntut perhatian jauh lebih sedikit dibanding tindakan baru.

Pengulangan justru menjadi inti kekuatan kebiasaan, dan itulah sebabnya jalan alternatif jarang menang. Dalam bukunya Good Habits, Bad Habits, Wendy Wood menuliskan, "Variasi melemahkan kebiasaan. Variasi mengurangi kekuatannya dalam mengarahkan perilakumu."

Temuan ini sejalan dengan kenyataan sehari-hari, bahwa keputusan memilih jalan tidak melulu soal jarak atau waktu tempuh. Pengalaman sebelumnya dan pola yang sudah terbentuk ikut menentukan, sama seperti bagaimana gaya berjalan dan tipe kepribadian seseorang bisa saling berkaitan.

Baca juga: Membaca Karakter dari Cara Berjalan Seseorang

 

Apakah Kebiasaan Ini Perlu Dikhawatirkan?

Apakah kebiasaan ini pertanda buruk? Belum tentu, karena setia pada satu rute tidak otomatis berarti seseorang takut pada perubahan.

Kebiasaan dan keterbukaan terhadap hal baru sebenarnya bisa berjalan bersamaan. Seseorang bisa saja memakai jalur yang sama saat berangkat kerja, tetapi memilih jalan berbeda ketika berlibur, atau tetap gemar mencoba restoran dan pengalaman baru. Variasi di satu bagian hidup memang tidak banyak bercerita tentang keterbukaan di bagian lain.

Yang lebih penting bukan apakah kamu memakai rute yang sama, melainkan seberapa lentur kamu saat keadaan menuntut perubahan. Pola yang terstruktur memang membantu, tetapi jika terlalu kaku, ia bisa mengurangi fleksibilitas dan kemampuan beradaptasi ketika jalan langganan tiba-tiba ditutup.

Tanda yang perlu diperhatikan adalah ketika perubahan kecil langsung memicu kesulitan besar dan mengganggu aktivitas. Selama kamu masih bisa menyesuaikan diri, kebiasaan ini hanyalah pola praktis, sama wajarnya dengan kebiasaan mandi malam sebelum tidur atau kebiasaan datang lebih awal ke kantor yang banyak dimiliki orang.

Baca juga: Ciri Orang yang Selalu Menghabiskan Makanan di Piring Menurut Psikologi

Cara Menyeimbangkan Rutinitas dan Fleksibilitas

Kabar baiknya, kamu tidak perlu memaksakan diri meninggalkan rute favorit hanya karena terlihat repetitif. Cukup jaga keseimbangan antara rutinitas dan sedikit ruang untuk beradaptasi.

Langkah paling sederhana adalah sesekali mencoba jalur alternatif, misalnya sekali dalam seminggu atau saat waktumu lebih longgar. Perubahan kecil semacam ini membantu melatih fleksibilitas tanpa mengorbankan efisiensi yang sudah kamu nikmati selama ini.

Kamu juga bisa memperlakukan rute baru sebagai eksplorasi ringan, bukan beban. Berjalan kaki lewat gang yang belum pernah dilewati atau mengganti jalur pulang sesekali sudah cukup untuk menjaga otak tetap adaptif terhadap kondisi tak terduga.

Intinya, jadikan rutinitas sebagai fondasi, bukan aturan mati. Menelusuri kebiasaan sederhana seperti ini sama menariknya dengan memahami alasan di balik kebiasaan menghabiskan baterai HP sampai nol, atau membaca karakter dari cara berjalan lambat atau cepat yang katanya bisa mengungkap kepribadian.

Pada akhirnya, ciri orang yang selalu pilih rute sama meski ada jalan lebih cepat menurut psikologi lebih banyak bercerita tentang cara manusia mengelola pengulangan, perhatian, dan kebutuhan akan kepastian. Selama masih ada ruang untuk berubah saat benar-benar diperlukan, kebiasaan itu adalah bentuk kecerdasan praktis, bukan kelemahan.

Pertanyaan dan Jawaban tentang Ciri Orang yang Selalu Pilih Rute Sama Menurut Psikologi

1. Mengapa seseorang selalu memilih rute yang sama meski ada jalan lebih cepat?

Seseorang mungkin merasa lebih nyaman dengan rute yang sudah dikenal. Dalam psikologi, kebiasaan ini berkaitan dengan habit atau perilaku yang terbentuk melalui pengulangan sehingga terasa lebih mudah dilakukan.

2. Apakah memilih rute yang sama menandakan seseorang takut mengambil risiko?

Belum tentu. Namun, sebagian orang cenderung menghindari ketidakpastian dan memilih jalan yang sudah diketahui kondisinya. Kebiasaan ini dapat mencerminkan preferensi terhadap keamanan dan kepastian, terutama ketika rute baru dianggap merepotkan.

3. Apakah orang yang selalu memilih rute sama memiliki kepribadian yang teratur?

Kebiasaan tersebut bisa menunjukkan bahwa seseorang menyukai rutinitas dan keteraturan. Mereka mungkin merasa lebih tenang ketika aktivitas sehari-hari berjalan sesuai pola yang sudah dikenal, meski hal itu tidak cukup untuk menentukan kepribadiannya secara keseluruhan.

4. Mengapa seseorang tidak tertarik mencoba jalan yang lebih cepat?

Seseorang mungkin merasa rute yang biasa dilewati sudah cukup nyaman dan tidak ingin menghabiskan waktu untuk mempelajari jalur baru. Dalam psikologi, hal ini dapat berkaitan dengan status quo bias, yaitu kecenderungan mempertahankan pilihan yang sudah ada daripada mencoba alternatif lain.

5. Apakah kebiasaan memilih rute yang sama termasuk perilaku buruk?

Tidak. Memilih rute yang sama dapat membantu menghemat energi mental dan membuat perjalanan terasa lebih mudah diprediksi. Kebiasaan ini baru perlu dievaluasi jika membuat seseorang sulit menyesuaikan diri dengan perubahan atau terus mengabaikan pilihan yang sebenarnya lebih aman dan efisien.