Sukses

Tak Ada APD Memadai, Perawat Tewas Setelah Kerja 12 Jam Merawat Pasien Corona

Liputan6.com, Jakarta - Seorang perawat Layanan Kesehatan Nasional Inggris (NHS) berusia 23 tahun meninggal saat berjuang di garis depan pandemi Corona (Covid-19). John Alagos yang berdarah Filipina jatuh sakit setelah shift selama 12 jam di Rumah Sakit Umum Watford.

Ia diduga tak diizinkan meninggalkan rumah sakit karena kekurangan staf yang merawat pasien Corona. Dia pingsan dan meninggal di rumah pada tanggal 3 April setelah shift melelahkan.

Gina Gustilo, sang ibu yang berusia 50 tahun mengatakan bahwa anaknya tak mengenakan pakaian pelindung (APD) yang layak di tempat kerja. Saat anaknya kembali ke rumah, John dilaporkan mengeluh sakit kepala dan demam dengan suhu tinggi sepanjang malam.

"Saya bertanya, 'Mengapa kamu tidak pulang?' Dia mengatakan bahwa dia telah meminta staf lain tapi mereka kekurangan staf dan tak membiarkannya pergi. Saya menyuruhnya mengambil parasetamol. Setelah beberapa menit, saya menemukannya membiru di tempat tidurnya," kata Gina seperti dilansir dari Nextshark.

 

 

2 dari 4 halaman

Selanjutnya

Gina kemudian menelepon hotline darurat tapi paramedis tak dapat menyadarkan John. Pemuda itu dilaporkan merawat pasien Corona di rumah sakit yang menyatakan kondisi kritis karena banyaknya pasien.

Menurut rekan-rekan John, pemuda itu tak mengenakan pakaian pelindung yang layak pada saat shiftnya. Hal ini dikarenakan APD yang juga tengah dalam keadaan langka.

"Mereka memakai APD, tapi tak sepenuhnya melindungi mulut. Mereka memakai masker biasa," kata salah satu rekan.

 

3 dari 4 halaman

Selanjutnya

Walikota setempat mengibarkan bendera setengah tiang di balai kota untuk menghormati John dan semua orang yang meninggal karena penyakit tersebut. Keluarga John mengatakan mereka menunggu hasil pemeriksaan Jon dan jika positif Corona, maka mereka juga harus mengisolasi diri.

 

4 dari 4 halaman

Selanjutnya

Rekan-rekan John kemudian memulai kampanye GoFundMe untuk membantu keluarga pemuda itu yang berduka.

"Pada usia 23, ia memiliki mimpi untuk mengambil kuliah di universitas. Sayangnya, dia tak akan bisa melakukan itu sekarang. Sebagai teman dan kolega, kami memutuskan untuk mengadakan penggalangan dana untuk membantu keluarganya yang berdua. Kami ingin memberikan kembali tenaga dan waktu yang dia berikan untuk NHS. Dia memberikan hidupnya untuk profesinya dan kami ingin membalasnya dengan cara yang kami bisa."