Sukses

Kumpulan Hoaks seputar Vaksin Covid-19 Terkini

Liputan6.com, Jakarta - Vaksin Covid-19 dosis ketiga atau vasin booster mulai digencarkan untuk masyarakat umum, setelah sebelumnya difokuskan kepada tenaga kesehatan. Pemerintah juga mengadakan vaksin gratis di beberapa daerah demi mempercepat program vaksin untuk seluruh rakyat Indonesia.

Namun, dalam perjalanan program vaksinasi beberapa kendala muncul. Salah satunya adalah hoaks-hoaks seputar vaksin kembali bertebaran meresahkan masyarakat. Hoaks tersebut menyebar cepat di media sosial maupun WhatsApp.

Cek Fakta Liputan6.com pun telah menelusuri informasi seputar hoaks vaksin Covid-19, yang belakangan kembali muncul. Berikut beberapa di antaranya :

1. Informasi Sperma Pria yang Tak Divaksin Berharga di Masa Depan

Cek Fakta Liputan6.com mendapati klaim sperma pria yang tak divaksin berharga di masa depan, informasi tersebut diunggah salah satu akun Facebook, pada 29 November 2021.

Unggahan klaim sperma pria yang tak divaksin berharga di masa depan tersebut berupa tangkapan layar artikel berjudul "Uh, Wow! Sperma Pria yang Tak Divaksin Bakal Super Berharga di Masa Depan? Begini penjelasannya".

Kemudian tangkapan layar tersebut diberi keterangan sebagai berikut:

"Akhirnya kaga sia-sia gue berjuang bertahan ngadepin bacotan bini Ama tetangga gue selama ini... Siapp produksi bibit unggul... Panen sehari 5 kali demi masa depan... Eekekekekekk"

Benarkah sperma pria yang tak divaksin berharga di masa depan? Simak penelusuran Cek Fakta Liputan6.com berikut ini.

*** Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Selanjutnya

2. Cara Terbebas dari Covid-19 Varian Omicron Adalah Dengan Tidak Divaksin

Beredar di media sosial postingan yang mengklaim varian covid-19 Omicron bisa dihindari dengan cara tidak divaksin. Postingan ini ramai dibagikan sejak beberapa waktu lalu.

Dalam postingan tersebut terdapat narasi "fakta omicron yang terinfeksi 95 persen sudah divaksinasi."

Selain itu ada narasi selanjutnya yakni "cara terbebas Omicron, jangan divaksin"

Lalu benarkah postingan yang mengklaim cara mencegah varian covid-19 Omicron adalah dengan cara tidak divaksin?

Simak penelusurannya di sini...

3. Penampakan Darah yang Sudah dan Belum Divaksin Covid-19

Cek Fakta Liputan6.com mendapati klaim berupa foto yang menunjukkan perbedaan warna darah pada orang yang belum dan sudah divaksin Covid-19.

Kedua foto tersebut diunggah secara bersamaan melalui Facebook pada 6 Oktober 2021. Pada foto pertama, terdapat keterangan “No Inoculation” yang berdempet dengan darah berwarna terang dan “Inoculated Blood” berdempet dengan gambar darah berwarna gelap.

Selain itu, darah berwarna gelap juga disertai tulisan lain, yaitu “Black & Thick. Depleted of Hemoglobin” yang artinya “Gelap dan Tebal. Hemoglobin Habis”.

Sedangkan, foto kedua disertai dengan tulisan “Unvaxed” pada warna darah yang lebih terang dan “Vaxinated” pada warna yang lebih gelap.

Lalu, benarkah foto tersebut menunjukkan perbedaan warna darah pada orang yang belum dan sudah divaksin Covid-19? Simak penelusuran Cek Fakta Liputan6.com di sini...

 

3 dari 4 halaman

Selanjutnya

4.Dirjen WHO Akui Beberapa Negara Gunakan Vaksin Booster untuk Membunuh Anak-Anak

Cek Fakta Liputan6.com mendapati klaim Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus mengakui beberapa negara gunakan vaksin booster untuk membunuh anak-anak. Informasi tersebut diunggah salah satu akun Facebook, pada 2 Januari 2022.

Unggahan klaim Direktur Jenderal WHO mengakui beberapa negara gunakan vaksin booster untuk membunuh anak-anak berupa video Tedros Adhanom Ghebreyesus yang sedang memberikan keterangan dengan durasi 53 detik.

Video tersebut diberi keterangan sebagai berikut:

"Tedr os slips up and ad mits some countries using boo ster sho ts to ki ll chil dren 💥💥💥💥

Tedros tergelincir dan mengakui beberapa negara menggunakan temba kan bo os ter untuk mem bu n uh anak-anak.

Credit to HATS TRUTH 🎩

Please check

https://www.who.int/.../who-director-general-s-opening...#

27:20 of the audio version right from the WHO website. He said it. 👍🏼"

Benarkah klaim Direktur Jenderal WHO mengakui beberapa negara gunakan vaksin booster untuk membunuh anak-anak? Simak penelusuran Cek Fakta Liputan6.com di sini...

5. Vaksinasi adalah Program Genosida dan Sebabkan Mandul

Klaim tentang vaksinasi merupakan program genosida dan menyebabkan mandul beredar di media sosial. Kabar tersebut beredar lewat pesan berantai di aplikasi WhatsApp pada 10 Januari 2022.

Pesan berantai tersebut berisi imbauan program vaksinasi. Sebab, vaksin merupakan program genosida dan dapat menyebabkan kemandulan. Di dalam pesan yang beredar menyatakan bahwa VAKSINASI* menurut informasi dari koran SOVEREIGN INDEPENDENT tahun 2011 merupakan program *GENOCIDE (pembunuhan Masal secara teratur dan terencana).

Pesan terebut juga melibatkan pendpt para ahli yang tidak disebutkna namanya bahwa vaksinasi sangat berbahaya anak-anak dan untuk anak perempuan dapat menyebabkan kemandulan. Pada akhir pesan tercantum sumber informasi dan nama pengirim sebagai berikut:

NKRI NEWSSelamatkan Bangsa Indonesia & NKRI.

Benarkah vaksinasi merupakan program genosida dan menyebabkan mandul? Simak penelusurannya di sini...

(Efani Angreini/UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

 

 

4 dari 4 halaman

Tentang Cek Fakta Liputan6.com

Melawan hoaks sama saja melawan pembodohan. Itu yang mendasari kami membuat Kanal Cek Fakta Liputan6.com pada 2018 dan hingga kini aktif memberikan literasi media pada masyarakat luas.

Sejak 2 Juli 2018, Cek Fakta Liputan6.com bergabung dalam International Fact Checking Network (IFCN) dan menjadi patner Facebook. Kami juga bagian dari inisiatif cekfakta.com. Kerja sama dengan pihak manapun, tak akan mempengaruhi independensi kami.

Jika Anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan di email cekfakta.liputan6@kly.id.

Ingin lebih cepat mendapat jawaban? Hubungi Chatbot WhatsApp Liputan6 Cek Fakta di 0811-9787-670 atau klik tautan berikut ini.