Sukses

Cek Fakta: Tidak Benar Vaksin Covid-19 Berbasis mRNA Bisa Rusak DNA Manusia

Liputan6.com, Jakarta - Beredar di media sosial postingan terkait penggunaan vaksin covid-19 berbasis mRNA bisa merusak DNA manusia. Postingan ini ramai dibagikan sejak awal bulan lalu.

Salah satu akun yang mengunggahnya adalah bernama @emeraldrobinson. Dia mempostingnya pada 3 November 2020. Selain itu postingan ini juga disebarkan oleh akun @lolabillinghamm dan @RitaMarkakis.

Berikut isi postingannya:

"Reminder: the Pfizer vaccine uses mRNA technology which has never been tested or approved before.

It tampers with your DNA. 75% of vaccine trial volunteers have experienced side effects. Beware."

atau dalam Bahasa Indonesia,

"Pengingat: vaksin Pfizer menggunakan teknologi mRNA yang belum pernah diuji atau disetujui sebelumnya.

Itu merusak DNA Anda. 75% relawan uji coba vaksin pernah mengalami efek samping. Hati-hati."

Hingga saat ini postingan tersebut sudah mendapat lebih dari tiga ribu likes dan 1.300 retweet.

Lalu benarkah vaksin covid-19 yang menggunakan teknologi mRNA bisa merusak DNA?

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

2 dari 5 halaman

Penelusuran fakta:

Cek Fakta Liputan6.com menelusuri fakta dan mendapat penjelasan dari dr. Muhamad Fajri Adda'i terkait vaksin covid-19 berbasis mRNA seperti yang dikembangkan Moderna serta Pfizer dan BioNTech.

"Jadi vaksin ini menggunakan virus dari penyakit itu tetapi yang diberikan bukan komponen utuh, hanya RNA atau materi genetik terkecilnya yang dilapisi dalam suatu kapsul lalu disuntikkan ke tubuh manusia. Harapannya RNA ini bisa menstimulasi sistem imun untuk membentuk antibodi dan sel-sel imun lain teraktivasi melawan virus tersebut," ujar dr. Fajri pada Liputan6.com, Kamis (19/11/2020).

Selain itu Cek Fakta Liputan6.com menemukan artikel dari DW.com berjudul "Coronavirus vaccines: Fake news and myths go viral" yang tayang 18 November 2020.

Dalam artikel tersebut ada penjelasan dari Institut Paul-Ehrlich, Institut Federal untuk Vaksin dan Biomedis. Seperti dalam websitenya berikut ini...

"Tidak ada risiko integrasi mRNA ke dalam genom manusia. Dalam kasus manusia, genom terletak di inti sel dalam bentuk DNA. Integrasi RNA ke dalam DNA tidak dimungkinkan antara lain karena struktur kimianya yang berbeda."

"Selain itu, belum ada bukti bahwa mRNA yang diintegrasikan oleh sel tubuh setelah vaksinasi akan berubah menjadi DNA."

Ada juga penjelasan dari Mark Lynas, dari Alliance for Science Cornell University, "Modifikasi genetik hanya bisa terjadi jika memasukkan DNA asing ke dalam inti sel manusia, dan vaksin sama sekali tidak melakukan itu. Jadi tidak ada vaksin yang bisa mengubah DNA manusia."

Sementara terkait klaim dari postingan Twitter Robinson yang menyebut 75 persen sukarelawan mengalami efek kerusakan DNA juga tidak terbukti.

Moderna, salah satu perusahaan yang sedang meneliti calon vaksin covid-19 berbasis mRNA dalam laporan awalnya menyebut tidak ada laporan masalah keamanan pada sukarelawan.

"Tinjauan dari efek samping yang diminta menunjukkan bahwa vaksin secara umum dapat ditoleransi dengan baik. Mayoritas efek samping ringan atau sedang. Beberapa efek samping termasuk kelelahan (9,7%), sakit kepala (4,5%), nyeri (4,1%) dan kemerahan di tempat suntikan (2,0%)."

Demikian juga calon vaksin yang dikembangkan Pfizer dan BioNTech juga melaporkan temuan serupa yakni kelelahan pada 3,8 persen dan sakit kepala pada 2,0 persen.

Hoaks terkait vaksin covid-19 dapat mengubah DNA manusia juga pernah ditulis Liputan6.com dalam artikel berikut ini....

3 dari 5 halaman

Kesimpulan:

Postingan yang mengklaim vaksin covid-19 yang berbasis mRNA bisa merusak DNA manusia adalah tidak benar atau salah.

4 dari 5 halaman

Tentang Cek Fakta Liputan6.com

Liputan6.com merupakan media terverifikasi Jaringan Periksa Fakta Internasional atau International Fact Checking Network (IFCN) bersama puluhan media massa lainnya di seluruh dunia. 

Cek Fakta Liputan6.com juga adalah mitra Facebook untuk memberantas hoaks, fake news, atau disinformasi yang beredar di platform media sosial itu. 

Kami juga bekerjasama dengan 21 media nasional dan lokal dalam cekfakta.com untuk memverifikasi berbagai informasi yang tersebar di masyarakat.

Jika Anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan kepada tim CEK FAKTA Liputan6.com di email cekfakta.liputan6@kly.id.

5 dari 5 halaman

Saksikan video pilihan berikut ini