Momen Unik Piala Dunia: Munculnya Pahlawan Pengangguran di Timnas Brasil

Kisah Josimar, bek kanan tak dikenal yang menjadi sensasi di Piala Dunia 1986.

Diterbitkan 15 April 2026, 11:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Kesempatan debutnya akhirnya tiba enam hari kemudian, saat ia menggantikan Edson dalam susunan pemain inti pada pertandingan krusial melawan Irlandia Utara. Dengan postur yang mencolok untuk seorang bek sayap, tinggi dan berbadan kekar, Josimar siap untuk mengukir sejarahnya sendiri.

Gol-Gol Spektakuler yang Mengukir Sejarah

Momen yang mengubah Josimar dari pemain tak dikenal menjadi sensasi dunia terjadi saat Brasil unggul 1-0 melawan Irlandia Utara. Josimar menerima bola dari Alemao sekitar 30 meter dari gawang, di posisi kanan tengah lapangan.

Tanpa ragu, ia melepaskan tembakan keras yang melengkung tajam, melewati kiper legendaris Pat Jennings, dan bersarang indah di sudut atas gawang. Perayaan golnya pun hampir sama ikoniknya dengan gol itu sendiri; Josimar berlari kecil dengan kedua tangan terangkat, menunjukkan ekspresi tidak percaya atas apa yang baru saja ia lakukan.

Empat hari kemudian, Josimar kembali mencetak gol spektakuler saat Brasil menghadapi Polandia. Kali ini, ia menerobos pertahanan lawan dengan determinasi tinggi dan menembakkan bola dari sudut yang tampaknya tidak mungkin. Gol tersebut merupakan gol kedua dalam kemenangan telak 4-0 yang membawa Brasil melaju ke babak perempat final. Dua gol ini menjadi bukti nyata bakat luar biasa yang tersembunyi dalam diri Josimar.

Sayangnya, perjalanan Brasil di Piala Dunia 1986 harus terhenti di babak perempat final. Mereka kalah dari Prancis melalui adu penalti setelah bermain imbang 1-1. Meskipun demikian, penampilan Josimar yang singkat namun gemilang telah meninggalkan kesan mendalam dan mengukir namanya dalam sejarah turnamen tersebut.

Pengakuan dan Sisi Gelap Ketenaran

Meskipun hanya bermain dalam tiga pertandingan di Piala Dunia 1986, penampilan Josimar yang memukau berhasil menarik perhatian dunia. Ia bahkan masuk dalam tim turnamen, menjadi satu-satunya pemain Brasil selain bek tengah Julio Cesar yang terpilih dalam sebelas pemain terbaik. Pengakuan ini menunjukkan betapa besar dampak yang ia ciptakan dalam waktu singkat.

Setelah turnamen, Botafogo segera mengontraknya kembali, dan media memberinya julukan yang tak terlupakan: Um Heroi Desempregado (Pahlawan Pengangguran). Selain itu, Josimar juga memenangkan penghargaan tidak resmi sebagai pemain paling tampan di turnamen tersebut, menambah daftar pengakuan yang diterimanya. Namun, kisah suksesnya dengan cepat berubah menjadi kisah peringatan.

Josimar kesulitan menghadapi ketenaran mendadak yang datang menghampirinya. Ia menyerah pada tiga kebiasaan buruk yang menggerogoti hidupnya: alkohol, kokain, dan gaya hidup yang tidak sehat. Tak lama setelah Piala Dunia di Meksiko, ia mulai menjadi berita utama karena masalah di luar lapangan, jauh dari prestasi gemilangnya.

Ia pernah dipenjara setelah memukul seorang pekerja seks yang melakukan pelecehan rasial kepadanya. Beberapa tahun kemudian, ia membuang dompetnya dari jendela saat dikejar polisi, yang kemudian ditemukan berisi tiga gram kokain. Tragedi juga menimpa keluarganya ketika saudaranya, seorang pecandu kokain, tewas ditembak di sebuah favela. Josimar merasa diperlakukan tidak adil, membandingkan dirinya dengan pemain lain seperti Maradona dan Edmundo yang diberi kesempatan kedua untuk bangkit.

Jalan Berliku Setelah Meksiko dan Warisan Abadi

Karier Josimar meredup setelah mencapai puncaknya di Meksiko. Ia hampir bergabung dengan Dundee United pada tahun 1988 dan sempat ditawarkan kepada Alex Ferguson di Manchester United, sebelum akhirnya memiliki periode yang kacau di Sevilla.

Meskipun demikian, ia masih sempat memainkan peran penting dalam kemenangan Campeonato Carioca Botafogo pada tahun 1989 dan menjadi pemain cadangan dalam skuad Brasil yang memenangkan Copa America sebulan kemudian. Ia memainkan pertandingan terakhir dari 16 caps-nya pada November 1989, dan dua gol di Meksiko adalah satu-satunya gol yang ia cetak untuk Brasil.

Beruntung, Josimar akhirnya kembali ke jalur yang benar dengan bantuan bek kanan hebat Jorginho. Ia kini tinggal di Brasil utara, berusaha menata kembali hidupnya. Meskipun demikian, ia masih merasa pahit tentang rasisme, teman-teman palsu, dan perlakuan media terhadapnya di masa lalu. Wawancara terbarunya menunjukkan bahwa konflik internal antara penyangkalan dan penyesalan belum sepenuhnya terselesaikan.

Josimar lebih dikenang di luar negeri daripada di Brasil, di mana ia dianggap sebagai keunikan dalam sejarah tim nasional yang mewah. Ia sering dimasukkan dalam daftar talenta yang hilang, namun ia sebenarnya adalah pemain yang baik tetapi tidak hebat, dengan puncak karier singkat yang bertepatan sempurna dengan siklus empat tahun sepak bola.

Majalah sepak bola Norwegia dinamai "Josimar", dan ada seorang desainer grafis Skotlandia yang menamai bisnisnya dari Josimar. Ia dianggap sebagai salah satu "keajaiban satu turnamen" terbesar dalam sepak bola, bersama Salvatore Schillaci di Italia 90. Kisahnya menjadi inspirasi dan pengingat akan potensi kejutan yang selalu hadir di setiap gelaran Piala Dunia, termasuk Piala Dunia 2026 mendatang.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Harley IkhsanTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan