Luka Modric Sebut AC Milan sebagai dalam Takdir Hidupnya

Luka Modric menyebut kepindahannya ke AC Milan pada awal musim 2025/2026 sebagai mimpi masa kecil yang akhirnya terwujud.

Diterbitkan 31 Desember 2025, 22:01 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Luka Modric memulai babak baru dalam kariernya bersama AC Milan pada awal musim 2025/2026. Kepindahan ini bukan sekadar transfer biasa, melainkan terwujudnya mimpi masa kecil.

Gelandang legendaris Kroasia itu menyebut Milan sebagai mimpi masa kecilnya. Sebuah pengakuan emosional dari pemain yang identik dengan Real Madrid.

Modric mengakui hubungannya dengan Rossoneri sudah terjalin jauh sebelum ia mengenakan seragam merah dan hitam. Ikatan itu tumbuh sejak masa kanak-kanak.

Kini, di usia 40 tahun, Modric tiba di San Siro dengan satu tekad: menang bersama Milan dan menutup karier dengan makna.

Milan, Boban, dan Ikatan Emosional Modric

Luka Modric menegaskan bahwa kecintaannya pada Milan berakar dari masa kecilnya. Sosok Zvonimir Boban menjadi alasan utama.

“Sebagai seorang anak, saya adalah penggemar Milan, karena pahlawan masa kecil saya: Boban,” kata Modric.

“Saya pikir saya akan mengakhiri karier saya di Real Madrid, tetapi saya selalu tahu bahwa jika saya bermain untuk klub lain, itu akan menjadi Milan. Saya di sini untuk menang," sambungnya.

Ia mengakui pernah yakin akan pensiun di Real Madrid. Namun, Milan selalu punya ruang khusus di hatinya sejak lama.

Kepindahan ini, bagi Modric, bukan langkah nostalgia. Ini adalah pemenuhan mimpi yang tertunda puluhan tahun.

Tetap Kompetitif di Usia 40 Tahun

Di usia 40 tahun, Modric masih bersaing di level tertinggi. Ia menepis anggapan adanya rahasia khusus.

“Anda harus mencintai sepak bola, berpikir tentang sepak bola, hidup untuk sepak bola. Latihan dan diet penting, tetapi rahasia sebenarnya adalah hati. Saya bahagia saat latihan seperti saat saya masih kecil," kata Modric.

Modric juga mengenang masa kecilnya di Kroasia yang penuh keterbatasan dan trauma perang. Pengalaman itu membentuk mentalitasnya.

“Tahun-tahun itu membentuk saya menjadi seperti sekarang. Sepak bola membantu kami menjalani hidup sebagaimana seharusnya di usia itu,” katanya.

Sumber: Football Italia

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Jepang vs Swedia: Keputusan Berani Graham Potter Berbuah Hasil

Asad ArifinTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan