Rapor Pelatih Real Madrid di Era Modern, Xabi Alonso Layak Dipecat?

6 bulan pertama Xabi Alonso sebagai pelatih Real Madrid diwarnai drama dan penurunan performa.

Diterbitkan 29 Desember 2025, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Xabi Alonso mengakhiri konferensi pers terakhirnya pada tahun 2025 dengan pesan singkat namun penuh makna, “Tenang,” setelah Real Madrid berhasil mengalahkan Sevilla 2-0 di Liga Spanyol 2025/2026.

Pesan ini menyiratkan bahwa ia tidak akan meninggalkan kursi kepelatihan dalam waktu dekat, meskipun spekulasi mengenai masa depannya telah merebak luas di kalangan jurnalis dan penggemar. Namun, di balik ketenangan yang ditunjukkan Alonso, perjalanan enam bulan pertamanya di klub raksasa Spanyol ini jauh dari kata mulus.

Periode awal kepemimpinan Alonso di Real Madrid digambarkan penuh drama, dimulai dengan kekalahan telak 4-0 dari Paris Saint-Germain di semifinal Piala Dunia Antarklub. Meskipun ia menganggap turnamen tersebut sebagai bagian dari musim sebelumnya, hasil tersebut menjadi sorotan.

Setelah itu, timnya menunjukkan performa yang sangat menjanjikan dengan meraih 13 kemenangan dari 14 pertandingan awal, membangun ekspektasi tinggi di Santiago Bernabéu.

Namun, momentum positif tersebut tidak bertahan lama. Real Madrid di bawah asuhan Alonso kemudian mengalami penurunan performa yang signifikan, termasuk kekalahan memalukan 5-2 dari Atletico Madrid, kekalahan di Liga Champions dari Liverpool, dan tiga hasil imbang berturut-turut di LaLiga.

Kekalahan dari Celta Vigo dan Manchester City semakin menambah daftar panjang krisis yang dihadapi tim. Kondisi ini membuat posisi Alonso menjadi tidak pasti menjelang libur Natal, meskipun ada tiga kemenangan yang kurang meyakinkan baru-baru ini.

Perbandingan Kinerja Xabi Alonso dengan Pendahulu

Untuk memahami posisi Xabi Alonso saat ini, penting untuk membandingkan kinerjanya dengan pelatih Real Madrid modern lainnya dalam 25 pertandingan pertama mereka di LaLiga, Liga Champions, dan Copa del Rey. Perbandingan ini tidak memasukkan pertandingan Piala Dunia Antarklub karena Alonso menganggapnya sebagai tambahan dari musim sebelumnya, dan tidak ada pendahulunya yang menghadapi situasi serupa.

Xabi Alonso (Agustus-Desember 2025)

Dalam 25 pertandingan pertamanya, Xabi Alonso mencatatkan persentase kemenangan sebesar 72%, dengan 18 kemenangan. Angka ini setara dengan persentase kemenangan Santiago Solari, dan hanya satu kemenangan lebih sedikit dari Carlo Ancelotti atau Zinedine Zidane pada periode awal mereka. Timnya mencetak rata-rata 2.08 gol per pertandingan dan kebobolan rata-rata 1 gol per pertandingan.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Puncak performa tim Alonso terjadi saat kemenangan 2-1 di El Clásico melawan Barcelona pada 26 Oktober, diikuti oleh kemenangan 4-0 atas Valencia seminggu kemudian, yang membawa rekor 13 kemenangan dari 14 pertandingan. Namun, momentum ini memudar drastis dalam 11 pertandingan berikutnya, dengan tiga kekalahan, tiga hasil imbang, dan hanya satu penampilan yang benar-benar menonjol, yaitu kemenangan 3-0 atas Athletic Club pada 3 Desember. José Mourinho (Agustus-Desember 2010) José Mourinho memulai kariernya di Real Madrid dengan persentase kemenangan yang mengesankan, yaitu 80%, meraih 20 kemenangan dari 25 pertandingan pertamanya. Timnya mencatatkan 15 clean sheet dan mencetak 67 gol, dengan rata-rata kebobolan hanya 0.4 gol per pertandingan. Meskipun ada kemenangan besar seperti 8-0 atas Levante di Copa del Rey, masa kepelatihannya juga diwarnai kekalahan telak 5-0 dari Barcelona di Camp Nou. Carlo Ancelotti (Agustus-Desember 2013) - Periode Pertama Carlo Ancelotti, pada periode pertamanya, mencatatkan 19 kemenangan dari 25 pertandingan, menghasilkan persentase kemenangan 76%. Timnya mencetak 71 gol, lebih banyak dari Mourinho, namun kebobolan 26 gol. Kekalahan signifikan termasuk 1-0 dari Atlético Madrid di Bernabéu dan 2-1 dari Barcelona di Camp Nou.

Halaman
Show All
Harley IkhsanTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan