Menpora Sambut Baik Berakhirnya Dualisme di Sepak Takraw

Dualisme sepak takraw telah berhasil diselesaikan KONI dan KOI. Menpora Erick Thohir pun menyambut baik.

OlehThomas
Diterbitkan 09 Desember 2025, 18:58 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) RI Erick Thohir menyambut baik keberhasilan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) dan Komite Olimpiade Indonesia (KOI) menyelesaikan dualisme kepengurusan cabang olahraga (cabor) sepak takraw nasional.

Berakhirnya dualisme ini sesuai dengan instruksi yang diberikan Menpora pada Oktober 2025 silam untuk menuntaskan semua dualisme kepengurusan cabor.

“Sesuai arahan Bapak Presiden, kita harus menjadi bangsa yang digdaya di bidang olahraga. Tentu hal itu mustahil tercapai jika masih ada perpecahan di dalamnya, karena olahraga semangatnya adalah berjuang dalam persatuan,” ujar Menpora Erick, Selasa (9/12) pagi.

Setelah melalui serangkaian proses, Pengurus Besar (PB) Persatuan Sepak Takraw Seluruh Indonesia (PSTI) periode 2025-2029 di bawah kepemimpinan Surianto yang pada akhirnya ditetapkan sebagai kepengurusan sepak takraw yang diakui secara nasional dan internasional.

Surat pengakuan kepengurusan PSTI ini telah diterima Menpora dari KONI dan KOI.

“Maka saya sangat mengapresiasi keberhasilan KONI, KOI, dan pengurus cabor untuk duduk bersama, bermusyawarah mencapai mufakat, melakukan introspeksi dan menyelesaikan masalah dualisme di PB Sepak Takraw. Ini artinya semua stakeholder olahraga solid dan satu suara demi prestasi bangsa,” tegas Menpora Erick.

Diikuti Cabor Dualisme Lain

Setelah dualisme di PSTI beres, Menpora berharap cabor-cabor lainnya yang memiliki dualisme kepengurusan untuk mengikuti langkah cabor sepak takraw. Pasalnya dalam membangun olahraga, semua pihak harus duduk bersama untuk roadmap 21 cabor unggulan. Sehingga tidak boleh ada dualismen kepengurusan pada cabor.

“Saya harap tuntasnya masalah dualisme di tubuh kepengurusan sepak takraw memacu tiga cabor lainnya yaitu tenis meja, anggar dan tinju untuk juga duduk bersama dan menyelesaikan masalah sebelum tahun berganti. Apalagi cabor yang masih dalam masalah ini juga ada yang masuk dalam 21 cabor unggulan sesuai arahan Presiden. Ayo kita satukan tekad untuk membangun prestasi olahraga, jangan jadikan atlet korban konflik kekuasaan kepengurusan cabor,” tutup Menpora.

Dualisme Merugikan

Dualisme cabang olahraga terjadi di beberapa cabor dalam beberapa tahun terakhir. Dualisme ini merugikan atlet. Seperti yang pernah terjadi di tenis meja.

Atlet tenis meja Indonesia sampai tidak bisa bertanding di SEA Games. Beruntung permasalah tenis meja di Indonesia sudah selesai sehingga bisa ikut SEA Games 2025 di Thailand.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Jordi Amat 100 Persen Optimistis Timnas Indonesia Juara Piala AFF 2026

ThomasTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan